Rabu, 15 Februari 2012

Senyum Untukmu yang Lucu


Kau yang hanya duduk terdiam di sebuah kursi beroda empat. Kau yang hanya bisa menatapku dengan tatapan kosong. Kau yang tidak bisa lagi menyuruhku untuk melakukan apa yang kau suruh. Kau yang tidak bisa berteriak lagi untuk memarahiku. Kau yang pernah memukulku jika aku bersalah terhadapmu. Dan kau yang hanya bisa melihatku terdiam dengan gerakan yang ku berikan padamu.

Aku ikhlas dengan segala kenyataan yang ku terima. Aku akan tetap bersyukur karena masih di temani seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku merasa bahagia karena masih berbagi oksigen denganmu di dunia ini. Aku yang sangat bahagia karena masih bisa mengurusmu di saat kau tak mampu lagi untuk mengurusku. Walaupun terkadang kau sering memarahiku tapi aku yakin itu untuk kebaikanku sendiri

 “Pokoknya, kalo kamu sukses nantinya, jangan pernah jadi orang yang sombong. Tetaplah rendah hati, karena orang sombong itu nantinya gak bakal di sayang sama Alloh. Jadilah anak yang patuh kepada orang tuanya. Ibu gak mau kamu jadi anak yang tidak dengar-dengaran nak.” Nasihat ibuku yang selalu di ulangnya ketika aku dan dia duduk bersama dan saling berbagi cerita.

“Iya Bu, aku janji setelah aku sukse nanti, aku akan bahagiakan Ibu sama orang yang membutuhkan juga.” Jawabku dengan patuh ketika dia sedang menyisir rambutku sore itu.

Sekarang, aku telah berhasil. Ini berkat bimbinganmu dari kecil. Kau sering memberiku nasihat yang tidak pernah aku lupakan. Kau yang tiap hari tidak pernah lelah mengingatkanku untuk tetap rendah hati kepada orang lain, memberikan setengah rejeki kita kepada orang yang membutuhkan. Aku tidak akan pernah lupa dengan ucapanmu itu Bu.

Sekarang, aku berhasil Bu. Tapi kalimat yang kau ucapkan padaku mana? Aku merindukan nasihat-nasihat setiap harimu sebelum aku berangkat untuk mencari rejeki Bu.

Sekarang yang bisa aku lakukan hanya duduk di sampingmu sambil bercerita tanpa mendengar sepatah kata dari bibirmu. Aku yang hanya bisa tertawa sendiri tanpa mendengar suara tawa darimu. Aku yang hanya bisa memberi senyum untukmu yang lucu. Yah, berusaha memasang tampang yang lucu dan mengerikan agar kamu merespon semuanya. Tapi Ibu tidak lagi seperti dulu. Kau hanya bisa menatapku dengan tatapan kosong tanpa penuh arti di balik kursi roda yang kau duduki.

6 komentar:

Azwan Andi mengatakan...

Posting yg wajib baca bagi seluruh bloofers..

farid maricar mengatakan...

Semoga senantiasa ditabahkan...Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar...

Riyan Arrizal mengatakan...

rizka namamu?? cln dkter gigi dr mn nih? slm kenal.. aku riyan :)

catatantahupetis.blogspot.com

Insan Robbani mengatakan...

alhamdulillah... suka dengan tulisan ini
gambaran seorang anak yang shalihah, selalu berusaha tersenyum dan menghibur ibunda di balik kursi roda yang diduduki.

Armandinata mengatakan...

tulisan yg bagus...
bersabarlah, jika dulu ibu yg mengurus kita skrg kita yg mengurusnya. semoga kebaikan yg kita berikan padanya akan menjadi kebaikan bagi diri kita. Thanks 4 share, ini menjadi inspirasi bagiku u/ lebih menyayangi ibu.

Rizka Herlina mengatakan...

@azwan: hayo baca :D

@farid: amin :)

@riyan: iya, aku rizka. mahasiswi kedokteran gig dari UNSRAT.
salam kenal juga :)

@kak insan: exactly :)

@arman: iya, sama-sama :)

Posting Komentar

 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates