Sabtu, 11 Februari 2012

Ajari Aku Ketulusan

Siang itu, selepas jam pulang sekolah, gadis berambut panjang ikal itu langsung memasuki kamarnya dan menulis sebuah diary yang sebagaimana mestinya anak ababil mencurahkan segala unek-uneknya di sebuah buku berukuran mini berwarna pink dan bergambarkan boneka Hello Kitty. Gadis itu bernama Sherly. Ketika ia memasuki kamarnya, diambilnya diary yang diletakkan di samping bantal tidurnya.

“Dear Diary.
Bagaimana hati ini tidak bisa mencintaimu, wahai seorang manusia yang berasal dari keturunan Adam? Adakah cara untuk menghilangkan rasa yang mulai tumbuh dan begitu besar aku rasakan? Kau terlalu baik untuk aku dapatkan dan aku begitu beruntung jika bisa memilikimu sampai aku tidak bisa menghirup oksigen yang ada di dunia ini.
Dear Diary.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menjalankan semua skenario ini sesuai takdir yang sudah diatur oleh Tuhan? Cinta, yah aku mulai termakan dengan keberadaan cinta. Aku mulai memasuki gerbang percintaan dan aku merasakan getarannya yang begitu kuat dalam lubuk hatiku. Semua orang memang pasti merasakan cinta itu sendiri karena cinta berhak untuk dimiliki semua orang.
Dear Diary.
Cinta yang paling bermanfaat secara mutlak, paling utama dan paling tinggi tingkatannya. Sesungguhnya cinta adalah ekspresi perasaaan yang tidak bisa digambarkan kecuali orang yang mengalaminya.”

Selepas gadis itu menyelesaikan tulisannya, dia bergegas mengganti seragam sekolahnya dan membantu Ibunya membuat kue pesanan tetangga mereka.

“Bu, sini aku bantuin yah?” Ucap Sherly menawarkan dirinya untuk membantu Ibunya.

“Lho, kamu udah gak ada les di sekolah, Sher?” Tanya Ibunya.

“Gak, Bu. Tadi gurunya sempat bilang kalo gak ada les tambahan hari ini. Mungkin gurunya lagi capek kali, Bu. Aku bantuin buat kuenya yah? Biar cepat selesai.” Lagi-lagi Sherly menawarkan dirinya membantu Ibunya.

“Ya sudah. Bantuin Ibu biar kuenya cepat selesai dan nantinya cepat istirahat.” Jawab Ibunya yang mengiyakan tawaran Sherly.

Hening. Tiba-tiba Sherly langsung membuka pembicaraannya.

“Bu, aku bisa nanya gak?” Tanya Sherly sambil membentuk model kue yang dia pegang.

“Iya, kamu mau nanya apa?” Jawab Ibunya santai.

“Aku ini cantik gak sih, Bu?” Tanya Sherly dengan raut wajah yang serius.

“Hahahahaha, kamu ini ada-ada saja, Nak.” Tawa Ibunya yang langsung terdengar memenuhi disetiap sudut dapur.

“Lho, Ibu kok ketawa sih? Kan Sherly nanya serius, Bu.” Tanya Sherly kesal dengan wajah yang merah.

“Ibu cuma bingung ajah, kamu nanya kok sampe serius gitu? Emang kenapa? Anak Ibu cantik kok. Siapa bilang gak cantik? Ibunya aja cantik.” Canda Ibunya.

“Gak sih, Bu. Aku di taksir sama cowok sekelas. Aku juga bingung, dia kok bisa suka sama aku, Bu. Padahal aku merasa aku bukan cewek yang bisa membahagiakan dia nantinya. Lah aku cuma punya modal sedikit di banding dia. Kan masih banyak cewek lain yang lebih kaya dari aku, Bu.” Jelas Sherly sambil duduk didepan kue buatannya yang ditaruh diatas meja.

“Nah, berarti cowok itu memang suka sama kamu, Sher. Dengan dia tahu latar belakang kehidupan kamu, bagaiman pun caranya kalo yang namanya udah terlanjur cinta, pasti dia bakal tulus untuk jalaninnya. Kamu jalani aja dulu, Sher. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus pikir sekolahmu dulu. Ingat Ibumu, Sher.” Jelas Ibunya panjang lebar sambil menghadap ke arah Sherly untuk memberikan nasihatnya kepada anak semata wayangnya.

“Iya, Bu.” Jawab Sherly dengan nada yang datar dan merasa salah dengan penjelasannya barusan.

Malam menjelang. Setelah selesai membantu ibu dan menyelesaikan tugas sekolahnya, ia merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur tipis yang sudah penuh dengan tambalan disana-sini. Ia menatap langit-langit rumahnya dalam keheningan malam. Pikirannya melayang jauh menuju kejadian siang hari tadi, saat Andri dengan malu-malu menyatakan perasaan padanya.

Ia tahu, butuh keberanian yang besar bagi Andri untuk menyatakan perasaan padanya. Tapi Sherly tidak mempunyai kepercayaan diri yang sebanding dengan Andri. Perekonomian keluarganya pas-pasan, beda dengan Andri yang memang dari keluarga terpandang dan kaya. Alih-alih menerimanya, ia meminta perpanjangan waktu untuk menjawab perasaan Andri.

Sherly bingung dengan perasaannya pada Andri. Ia mengakui, diam-diam ia pun menyimpan perasaan sukanya pada Andri. Tapi, seperti yang tadi ia tegaskan dalam hatinya. Kepercayaan dirinya tidak ada untuk memiliki seseorang seperti Andri. Pernyataan ibunya pun memperjelas semuanya, walaupun mendukung dengan segala keputusannya. Ibu tetap menginginkan aku menyelesaikan sekolah terlebih dahulu.
Ia mengacak-acak rambutnya dalam posisi tidur.

“Pusing ah. Mending tidur aja dulu.” Bisik Sherly.
***
Waktu menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Ia terlambat lima belas menit dari jadwal berangkatnya setiap hari. Jarak yang ia butuhkan untuk sampai ke sekolahnya cukup jauh. Harus dengan menyambung angkutan kota sebanyak dua kali. Belum lagi jika jalanan terjadi kemacetan.
Ia bergegas merapikan seragam sekolahnya dan langsung menyambar tasnya. Berlari kecil menuju dapur untuk berpamitan dengan ibunya.

“Ibu aku berangkat dulu ya?” Ucapnya cepat.

Setelah mencium tangan ibunya, ia kemudian langsung melesat menuju pintu depan dan kemudian berhenti beberapa saat untuk memakai sepatu sekolahnya yang telah usang. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mobil itu terlihat mahal dan mewah, bertolak belakang dengan pemandangan lingkungan rumahnya yang setengah kumuh.

Ia penasaran dengan seseorang di balik mobil itu. Mengapa ia harus berhenti di depan rumahnya? Mengapa ia berada di rumah ini.

Mesin mobil itu dimatikan, seseorang keluar dari dalam mobil itu. Jantungku langsung berdebar tidak karuan setelah tahu  siapa orang itu. Dia adalah Andri, lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia hanya tersenyum dengan lembut kepadaku, sambil mengajakku mendekat. Ibuku yang tadi di dapur, langsung menuju keluar rumah. Ia juga bingung dengan segala kegaduhan yang disebabkan oleh masuknya mobil mewah itu ke lingkungan rumahku. Para tetangga berbisik-bisik dan mulai bergosip mengenai aku. Langsung aku menghampirinya.

“Kamu ngapain kesini?” Tanyaku ketus.

Ia berjalan menghampiriku, “aku menjemputmu biar kita berangkat bersama ke sekolah.” Jawabnya cepat.

Ia membukakan pintu mobil itu untukku. Aku spontan langsung masuk ke dalam mobil itu. Bukan karena alasan apapun, tapi agar Andri segera membawa mobilnya pergi dari rumahku. Andri segera melajukan mobilnya memasuki jalan raya setelah ia menyalakan mesinnya tadi. Mulanya kami diam, tidak tahu harus berbicara apa. Tapi kemudian suasana cair saat ia sengaja melontarkan gurauan lucu padaku.

“Sherly... bagaimana dengan tawaranku?” Tanya Andri di sela-sela tawanya.

Deg. Sherly merasakan jantungnya melompat liar. Ia tidak bisa lari lagi kali ini, jarak sekolah masih agak jauh dan ia pun tidak mungkin untuk turun di daerah yang tidak ia ketahui.

“Aku kan minta waktu dulu, Dri.” Akhirnya kataku.

Ia menghembuskan nafas menyerah.

“Baiklah. Terserah kamu saja. Tapi kamu harus tahu sesuatu, aku menyukaimu karena kesederhanaanmu dan perilaku apa adamu. Kamu tidak berusaha menjadi seseorang yang bukan dirimu, bahkan tidak pernah juga membangga-banggakan sesuatu yang bukan milikmu. Aku tulus menyukaimu apa adanya.”

Kata-katanya menyentuh hatiku. Getaran-getaran yang tadinya kututupi dengan ketidakpercayaan diri kini muncul kembali. Aku memang menyukainya, dan bolehkah aku memilikimu?

“Terima kasih, Dri.” Ucapku tulus.

“Hanya ucapan terima kasih aja nih?” Balasnya sambil bercanda.

Aku membalasnya dengan tersenyum,

“Baiklah, kita mulai hubungan ini.” Kataku akhirnya.

Andri menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lambat. Ia seolah tidak peduli akan jam masuk sekolah yang semakin menipis. Tapi, entah mengapa aku pun merasa begitu. Setibanya kami di sekolah, ia langsung keluar dan menggandeng tanganku sambil terus tersenyum bahagia.


(Tulisan kolaborasiku @ikachibii bareng kak @alizarinnn)

2 komentar:

Insan Robbani mengatakan...

assalamualaikum, selain calon bu Dokter rupanya j juga punya talenta nulis cerpen..., kalo tdk keberatan saya mohon ijin saya add di komunitas blogger pemakai acc fb.

Rizka Herlina mengatakan...

wa'alykumsalam. terima kasih yah :)

betewe, mksudnya add di komunitas blogger pemakai acc fb itu gmna yah? mklum saya gaptek soal itu :D

Posting Komentar

 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates