Pages

Senin, 29 Oktober 2018

Berteman dengan Coas

Gak terasa 3 tahun terlewati dengan begitu cepat. Lama sih, actually haha. Rasanya baru kemarin gue harus memulai masa dimana gue akan bergelut dengan pasien.

Well, untuk seseorang yang baru baca blog ini, gue ialah mahasiswa kedokteran gigi yang sedang menyelesaikan co ass. Itu saja dulu.


Selasa, 02 Februari 2015.
Hari pertama gue memulai kehidupan sebagai mahasiswa co ass di Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Universitas Sam Ratulangi, Manado. Hari pertama memulai kehidupan itu, entah kenapa malam sebelum tidur gue harus nangis dulu, bangun harus nangis dulu, dan sepulang RSGM nangis lagi. Langkah menuju RSGM itu kayak berat banget but you must tho. Badan kayak dipaksa harus melangkah tapi jiwa tuh gak mau haha. Sampai-sampai gue harus pakai eyeliner ke RSGM untuk memanipulasi mata gue yang sembap habis nangis. Saat itu mental gue ada di titik paling rendah. Gue merasa sedih berkepanjangan, gue merasa hidup ini tuh gak adil, bahkan saat itu gue gak tau kapan akan selesai co ass saking gak ada jadwal pasti dengan diri sendiri untuk mengerjakan pasien. Sampai mama pernah bilang untuk pending co ass dulu setahun biar mental gue bakal benar-benar kuat. Tapi gue menolak karena gak mau ketinggalan sama teman-teman se-gelombang gue.
Pikiran gue buntu, gue pengen cari kesenangan tapi itu hanya berlaku beberapa menit kemudian gue akan down lagi setelah memikirkan requirement pasien. Gue gak tahu apakah teman-teman co ass gigi lain merasakan hal yang sama kayak gue.

Setelah gue telusuri dan baru tahu juga sekarang, ternyata gue mengalami mental illness waktu itu. Mental illnes atau penyakit mental itu merupakan kondisi kesehatan mental yang melibatkan perubahan emosi, pemikiran, perilaku, atau kombinasi dari ketiganya. Penyakit mental sering dikaitkan dengan gejala depresi yang dialami oleh penderitanya. Yah kurang lebih pengertiannya begitu. Google aja kalau mau lebih dalam arti dari mental illness. Gue juga baru sadar kalau gue pernah mengalami penyakit mental itu dari bulan februari - april 2015. Pokoknya bawaannya gue sedih, murung, stres, bahagia, nangis lagi, depresi, and repeat selama 3 bulan. Cara gue akhirnya bisa survive dari mental illnes yaitu perlahan gue memperbaiki mood dan gue mencoba mengatur pola pikiran se-positif mungkin. Susah-susah gampang, tapi akhirnya gue berhasil menghilangkan penyakit itu sekarang karena dukungan keluarga. Terlebih orang tua, bahkan adik gue yang secuek itu dia bisa memberikan motivasi ke gue. And Ashar too.

Foto hari pertama masuk co ass. Mata gue harus sembap gitu tiap datang RSGM selama beberapa hari

Harus benar-benar senyum ikhlas. Padahal jiwa gue parah banget

Ini foto hari kelima masuk co ass


***

Jadi, tugas mahasiswa co ass gigi itu pastinya harus nyari pasien sebagai syarat menjadi dokter gigi. Banyak yang bertanya,
Q: "kenapa sih co ass gigi itu harus nyari pasien?"
A: "karena masyarakat yang sakit atau ada keluhan mengenai gigi itu sedikit bahkan jarang. Jadi harus dicari biar dapat kasus yang ditentukan. Bila perlu ada yang pasiennya dibayar biar giginya mau dirawat. Itulah kenapa co ass gigi terkenal dengan membayar pasien daripada dibayar".

Tapi gak semuanya co ass yang bayar yah. Tergantung itu pasien yang dicari sendiri oleh co ass, pasien umum (pasien bayar sendiri), dan pasien yang tahu diri haha.
Sebagai pengalaman, nyari pasien itu susah-susah gampang. Apalagi berada di kota yang terbilang masih baru untuk bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Harus benar-benar tahu lingkungan dan cara bersosialisasi yang benar supaya calon pasien mau giginya dirawat. Suatu hari, gue sampai jalan dari Jumbo Swalayan --> Pelabuhan --> Pasar 45 --> melewati kampung cina --> balik RSGM (jalan kaki loh) untuk sekedar mencari kasus pasien yang ditentukan. Sampai akhirnya saluran kemih gue kambuh untuk pertama kali. Well, sebelum masuk co ass gue pernah periksa lab dan dinyatakan mengalami gejala ISK. Google aja ISK itu apa haha. Untuk cerita mengenai cara gue mendapatkan pasien nanti bakal gue tulis di blog selanjutnya yah.

Selain mencari pasien, tentu mahasiswa co ass itu dituntut untuk punya "banyak uang". Kenapa? Yah itu, karena untuk bayar pasien, alat-alat diagnostik, serta bahan-bahan yang dipakai selama perawatan pasien. Budget nya bisa berapa sih? Pasti ada yang nanya kayak gitu kan? Nah ini menarik, karena untuk melakukan sesuatu itu memang butuh uang hahaha. Oke, untuk penjelasan mengenai budget akan gue skip dulu di cerita ini. Nanti bakal gue jelasin dan paparkan di judul selanjutnya bersama requirement yang ditentukan oleh RSGM. Soalnya mengenai uang bakal panjang banget karena butuh hitungan dan gue belum rekap semua sih hahaha.

Sebulan, dua bulan terlewati, gak kerasa udah terbiasa dengan kehidupan co ass. Walaupun masih frustasi juga memikirkan pasien. Karena harus menyesuaikan waktu janjian dengan pasien untuk dilakukan perawatan, belum juga kalau instruktur gak sempat datang ke RSGM, pasien anak yang harus dijemput di sekolah, co ass yang kere, eh tau-taunya ada hari libur juga. Jadi banyak beberapa faktor yang mempengaruhi lamanya masa studi co ass gigi. Salah satunya malas yang melanda. Ini faktor yang paling berat. Pernah gak sih kalian merasa penat melakukan aktivitas yang itu-itu aja tanpa istirahat atau liburan? Nah, gue pernah banget mengalami hal ini. Biasa kalau gue udah malas, gue bisa gak kerja pasien seminggu karena penat banget dengan kegiatan yang itu-itu aja dan juga stres dengan pasien. Tunjuk tangan buat co ass yang pernah kayak gini? Pernah lah. Seorang yang jenius pun bakal punya rasa penat, apalagi kita yang hanya butiran debu. Hmmmmm.

Terus, kalau udah dapat pasien gimana? Apakah si pasien itu sudah bisa dilakukan perawatan? Eits, tunggu dulu. Kasus yang dikerjakan itu hanya kasus yang telah ditentukan dari kurikulum. Contohnya seperti "gak semua gigi yang berlubang itu harus dicabut. Kalau masih bisa memungkinkan yah dirawat saluran akar dulu". Jadi setiap dapat pasien, kemudian di indikasi (dilihatin dulu ke instruktur) apakah giginya bisa dirawat atau tidak. Kalau pun bisa, yah dirawat, sebaliknya kalau gak memenuhi syarat yah diganti. Se simple itu. Tapi gak buat co ass huhuhu. Kalau dihitung, entah berapa kali gue ganti pasien. Sudah buang-buang uang, ujung-ujungnya pasien gak balik. Susah dihubungi, ditelfon gak diangkat, sms gak dibalas. Seandainya waktu itu gue sempat screenshot bukti sms dan telfon gue yang gak direspon, mungkin kalian yang baca bakal gak nyangka. Pasien emang se-php itu. Kezel gue jadinya mengingat kejadian itu. Next!

***

Menjalani co ass itu berat kalau cuma sendiri. Kalau kata Dilan sih, biar dia aja, itu berat. Emang berat. Dilan pun gue rasa gak sanggup. Karena hidupnya berantem mulu ckck.
Jadi, selama co ass, gue bingung menentukan jati diri. Gue bingung harus bergaul sama siapa yang bisa membantu kelangsungan co ass ini. Gue mencari-cari teman yang bisa nyambung, bisa sama-sama belajar, bisa saling membantu dalam hal pasien. Waktu itu posisi sahabat gue, Ratih masih cuti melahirkan. Gak ada yang bisa bareng dalam hal apapun. Ada sih beberapa, tapi kayak it's not them gitu loh haha. Makanya, bergaul itu penting haha. But, i'm introvert you know. Kalau gue asik ngomong sama orang itu, berarti gue punya ZING (artinya mempunyai kecocokan menurut Drac di film Hotel Transylvania haha) dengan mereka. Nah, pada akhirnya Tuhan memberikan pencerahan lewat sahabat yang bisa membantu dalam segala hal. Everything.

Cowo yang di tengah itu siapa yah? Kok lupa haha. Ini foto juga masih semester pertama. Lupa kalau bulan ke berapa

Ini juga masih semester pertama

Gak nyangka, akhirnya setelah 3 tahun terlewati. Alhamdulillah, hari ini terakhir kali gue kerja pasien di RSGM. Ditutup dengan kontrol kasus Bridge.
*Bridge itu ialah perawatan gigi tiruan jembatan. Google aja yah.

Banyak banget cerita sedih dan bahagia selama co ass. Banyak banget pengalaman yang gue dapat. Selain lebih meningkatkan skill untuk modal sebagai dokter gigi, secara gak langsung juga diajari bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat (seperti harus mencari sekaligus membujuk pasien di kampung-kampung). Apalagi kalau calon pasien seorang preman, sosialita, angkuh, dll. Banyak laaah tipe-tipe sifat manusia.

Pada intinya co ass mengajarkan gue untuk bersifat sabar, bermental baja, rasa berterima kasih yang tinggi kepada orang lain, saling membantu dan menghargai. Bukan hanya sekedar pengetahuan yang kita dapat, tapi bagaimana cara bersikap kepada sesama manusia.

Selama co ass, kita bakal tahu mana teman yang benar-benar membantu disaat kita sedang kesulitan. Entah kesulitan dalam hal materi maupun pasien. Kita bakal tahu, mana teman yang benar-benar merangkul kita untuk sama-sama maju, bukan untuk menjatuhkan atau "ingin menang sendiri". Ayo, siapa yang pernah mengalami hal ini? Hahaha. Curhat nih yee.

Gue pernah berada dalam posisi ini. Dengan bodohnya gue selalu mengandalkan untuk "menunggu" biar bisa sama-sama. Padahal takdir manusia kan beda. Bisa saja gue menunggu, lalu yang ditunggu sudah sampai garis finish. Kecewa gak? Padahal belum tentu seseorang yang kita tunggu berpikiran sama kayak kita. Sebagai pelajaran aja, buat yang baru mau masuk co ass, atau sudah terlanjur basah dalam kejadian ini (hahaha), ayo rubah mindset kamu. Lakukan jika kau mampu sendiri. Gak usah nungguin mereka, entah untuk hal kerja pasien maupun diskusi kasus bersama instruktur. Selamatkan dirimu dulu, baru selamatkan orang lain. Itu motto baru gue setelah gue mengalamai kejadian buruk itu haha. Kan intinya tetap membantu kan? bleeeee. Bukan balas dendam yaah hahaha.

Ini foto semester 4 kalau gak salah. Lagi duduk nunggu pasien

Ini foto tahun kemarin waktu bulan puasa. Ingat banget ini habis kerja pasien, buka puasa, terus siap-siap mau pulang. Waktu itu sekitar jam setengah 7 kalau gak salah ingat. Muka kiteee kusam abis

Pelajaran yang bisa gue dapat ialah alhamdulillah gue bisa melewati jalan hidup yang gue pilih sendiri. Gue bisa memecahkan masalah demi masalah dengan lebih dewasa dari pilihan gue sendiri. Terlebih gue bisa menghilangkan mental illnes yang sempat menyerang ke gue. Menyesal? Awalnya iya. Tapi balik lagi, gue telah memilih jalan hidup ini. Dan kenapa hanya setengah perjalanan jika kita sudah memutuskan dengan pilihan itu? Cobaan yang Tuhan beri itu gue jadikan sebagai motivasi dan self reminder untuk melakukan hal yang benar ke depannya.
Co ass bukan hanya sekedar kalimat "gue males nyari pasien" tapi "masa depan gue ditentukan dari co ass".

And I hope, common people will understand why dentist are expensive.

Kamis, 20 September 2018

Stuck for Lyfe

Mungkin kalian akan mendapati beberapa tulisan sebelum ini mengenai kisah yang menyedihkan. Kemudian kalian akan berpikir bahwa kesedihan itu real dialami oleh si penulis. Lalu kalian akan menyimpulkan bahwa si penulis sedang sedih atau galau. Beberapa orang yang membaca mungkin mempunyai sudut pandang yang berbeda setelah membacanya. Namun, ketika kalian membaca tulisan ini kalian akan tahu bahwa ada tulisan based on true story dan ada yang fiktif belaka.

Hari ini aku kebingungan. Bingung mengekspresikan rasa bahagia atau sedih yang ada dalam diriku. Bagaimana mengungkapkan dan bagaimana mengekspresikannya. Harusnya aku tak lupa kata pepatah "JANGAN LUPA BAHAGIA". Namun kurasa pepatah itu dikhususkan oleh orang yang benar-benar lupa bagaimana caranya menyenangkan dirinya secara ikhlas. Bahagia namun tak ikhlas pasti membuat hati kita jadi sempit. Dan aku sudah pernah merasa demikian.

Aku benar-benar stuck dengan keadaan hari ini. Aku benar-benar STUCK.

Selasa, 11 September 2018

Tears From God

Hari itu, dunia terasa tak bersahabat denganku. Angin berhembus seakan tak melewatiku. Di tengah jalan ku berhenti sejenak. Perlahan kepala ku angkat ke atas melihat langit mendung sambil bergumam, "Tuhan, mengapa hari ini begitu suram? Seakan dunia tak menerima kehadiranku di sini. Apa yang aku lakukan sehingga Engkau menghukumku?"


***


     Aku melanjutkan langkah menuju ke rumah. Di perjalanan pikiran tak kuhiraukan. Saat itu aku fokus untuk pulang. Pulang dan membuat hatiku gembira. Tak kupedulikan sakitnya kaki melangkah. Iya, saat itu aku memakai flat shoes tipis, yang bisa merasakan tajamnya kerikil jalanan. Aku tak peduli.
     Setiba di rumah, aku mengumpulkan tenaga untuk membereskan perkakas yang belum sempat kuletakkan pada tempatnya. Sambil meneguk air mineral dan duduk di sofa, pikiranku kembali mengusik untuk dipikirkan. "Ayo, pikirkan aku kembali. Kamu belum menyelesaikan masalahmu sampai saat ini. Kapan kau akan menyelesaikannya sehingga aku bisa keluar dari sini?", seolah pikiranku berkata begitu. Apa aku salah karena tidak memedulikan mereka?
     Aku beranjak ke kamar. Dengan sisa tenaga yang ada, akhirnya aku bisa merebahkan badan di atas kasur. Tiba-tiba saat itu aku merasa tak ada orang yang perduli denganku. Teman, sahabat, maupun keluarga seketika hilang. Aku merasa sangat sedih luar biasa. Mataku perlahan mengeluarkan bulir air mata dan kemudian jatuh ke atas seprai yang aku tiduri. Selang semenit akhirnya tangisku memuncak hingga mengeluarkan suara saking sakitnya perasaan yang aku rasakan saat itu. Aku ingin menyalahkan seseorang. Tapi tak ada yang bisa kujadikan tameng. Tak ada yang salah. Aku hanya bodoh dengan alasan itu. Apa aku harus menyalahkan Tuhan?

"Aku pernah melewati ujian ini sebelumnya. Bahkan lebih parah dari hari ini"
"Aku harus lebih kuat dengan skenario hari ini, agar Tuhan bisa percaya bahwa aku bisa"
"Aku yakin Tuhan sedang mengujiku untuk lebih belajar mengenai artinya hidup"
"Tuhan, aku yakin ini teguran dari-Mu. Maka mampulah aku", gumamku saat itu ketika aku hendak beranjak dari tempat tidur dan duduk di kursi kerjaku dengan mata sembab.

"Suatu hari nanti, aku akan bergembira karena telah mendapat pelajaran hidup dari ujian ini."

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Aku tak menyadari bahwa aku terlelap selama 7 jam setelah menangis tadi.