Minggu, 24 Agustus 2014

Pendamping Wisuda

Masih ingat dengan tulisanku yang ada di buku LDR? Masih ingat judulnya apa? Atau paling tidak intinya saja, masih ga?
Oke, aku ga harus paksa kalian buat ingat tentang isi dalam buku itu. Buat teman-teman yang belum baca atau sudah baca tapi lupa, nih aku kasih link-nya biar kalian bisa mengingat lagi isi tulisanku dalam buku itu. Ini Bukunya .. Judulnya "LDR dan Backstreet" hal. 91.

Di dalam buku itu aku bercerita mengenai pengalaman pacaran jarak jauh dan juga masih sembunyi-sembunyi terhadap orang tuaku. Sulit rasanya untuk menjalin sebuah hubungan dan masih dalam pengawasan ketat orang tua. Belum juga kalau si pacar ngotot mau dikenalin sama orang tua dari pasangannya.
Empat tahun kami backstreet dari orang tuaku. Ketika akhirnya aku melangsungkan wisuda pada hari kamis kemarin, dia datang menghadiri acara wisudaku. Aku masih deg-degan karena takut mungkin akan dimarahi atau tidak. Seiring berjalannya waktu, orang tuaku memberi respon kepadanya tapi masih sebatas jabat tangan saja. Mungkin mereka tidak mau memperlihatkan keakraban langsung kepada seseorang yang merebut hati anak mereka. Orang tuaku terlihat datar saja ketika dia datang. Bukan tidak suka, namun begitulah wajah mereka.
Ketika kami beranjak dari auditorium hendak ke studio untuk melakukan sesi foto keluarga, aku hendak bertanya kepada mamaku apakah dia bisa datang menyusul ke sini? Dan BING, mamaku merespon dengan baik dan langsung mengatakan "iya". Seketika aku senang dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Belum lagi papaku yang ternyata memberi respon yang baik ketika memperlihatkan fotoku, dia, dan dua temanku yang datang saat masih di auditorium.
Satu jam lebih menunggu untuk tiba pada nomor antrian kami, akhirnya nomor tersebut dipanggil ke atas untuk melakukan sesi foto keluarga. Tak kusangka dia yang sebelumnya mengatakan untuk pergi beberapa menit ke mobil temannya tiba-tiba sudah datang ka dalam studio bersama keluargaku yang lain. Kami melakukan foto bersama dan berlangsung khidmat. Alhamdulillah.

Memang terkadang kita berpikir bahwa waktu yang akan menjawab semua pertanyaan atas kejadian yang sedang terjadi. Dan ternyata itu benar. Seiring berjalannya waktu, backstreet itu hilang. Sekarang aku rasa mengatakan sejujurnya bahwa aku memang sudah punya pacar lebih baik daripada terus menyembunyikan hal ini. Yah, mungkin karena aku sudah menyelesaikan studiku, jadi orang tuaku berpikir bahwa aku telah dewasa.
Buat teman-teman yang pacaran sembunyi-sembunyi dan masih takut untuk mengatakan langsung kepada orang tua, bersabarlah. Karena ketika kalian sabar dan membiarkan berjalan begitu saja, maka dengan sendirinya hal yang baik akan terjadi. Asal kalian emang bersungguh-sungguh. Hati-hati, kuliah pacaran sama siapa, pendamping wisuda bareng siapa haha. Fighting ^-^

Sabtu, 23 Agustus 2014

Pesta Toga

WISUDA

Apa yang terlintas di kepala ketika kalian mendengar kata wisuda? Yang pasti Toga, bukan? Selain itu berdandan, semi kebaya, high heels dan segala tetek bengek rempong yang bakal dipakai disaat hari tersakral dalam hidup ketika kita menyelesaikan studi S1.
Bangga? Pasti. Apalagi didampingi orang tua yang datang jauh-jauh demi menghadiri upacara wisuda anaknya tercinta. Bukan waktu yang singkat untuk meraih satu kata itu. Perjuangan, keringat, capek, sabar, air mata, dan uang tidak bisa terganti ketika nama kita dipanggil dalam sebuah gedung yang dihadiri oleh banyak orang untuk menerima ijazah yang diberikan langsung oleh rektor.

Dua hari yang lalu, saya telah meraih kata itu. Wisuda.
Masih terasa bahwa ini mungkin hanya mimpi. Tapi dokumentasi berbentuk gambar manusia yang ada dalam satu lembar biasa disebut foto tidak dapat berbohong bahwa wajah saya sedang terpampang di sana. Empat tahun sudah saya lewati untuk meraih gelar S1. Tak terasa, tak menyangka bahwa saya sudah wisuda.

Kamis, 21 Agustus 2014.
Rizka Herlina Damopolii, S.KG

Gelar itu akan terus berada di belakang nama saya. Gelar itu bukan sekedar gelar yang hanya diraih seperti meraih buah strawberry. Alhamdulillah.



Rabu, 02 Juli 2014

True Incident

Tak terasa seminggu yang lalu kejadian itu terjadi. Suatu peristiwa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dimana kejadian itu telah direncanakan tepat dua minggu sebelum terjadi. Ini bukan suatu kebetulan, tetapi suatu yang direncanakan.

Kesenangan yang saat itu dirasakan bukan hanya sesaat. Ini bukan tentang siapa melainkan demi siapa.
Kesenangan saat itu tak bisa dibayar atau dibeli dengan mata uang apapun.
Kesenangan itu tercipta karena kita mencari, karena kita memilih, karena kita mencoba, dan karena kita merasakan.
Kesenangan itu membuat semua yang ada dalam otak kita bergeser untuk memberi ruang kepadanya agar bisa dinikmati bersama. Begitu cepat, begitu tersimpan dengan rapi, dan begitu terasa.

Tak sabar hati ingin menjemput kesenangan itu untuk selamanya.
Kesenangan yang akan berjalan terus tanpa dihalangi apapun.
Kesenangan yang akan membuat otak ini berhenti menguras dan mencari kesenangan itu sendiri.

Berkat kejadian itu, kini ku bisa nikmati arti dari kesenangan itu.
Berkat kejadian itu, kini ku bisa menyimpan dengan indah setiap peristiwa yang terjadi saat itu.
Berkat kejadian itu, kini ku punya sesuatu yang bisa kutulis dan ku abadikan walau hanya lewat tulisan ini.
Berkat kejadian itu, kini ku tahu bahwa demi siapa aku melakukan hal ini.

Terima kasih.