Sabtu, 20 Agustus 2016

Trip to Nusa Penida Island Part 1

Ada yang sudah pernah ke Pulau Nusa Penida?
Oh, iya. Sudah pernah dengar tentang pulau itu, belum?

Jadi, Pulau Nusa Penida itu ialah pulau yang terletak di samping bawahnya pulau Bali. Ada 3 pulau yang berdekatan, yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Coba buka google maps dan lihat sendiri. Jarak tempuh ke Nusa Penida sekitar 45-50 menit menggunakan speed boat dari pantai Sanur.

Hari itu, Rabu, 13 Juli 2016, saya, Rama, Putri, dan Titin memulai holiday kami (lebih ke adventure sih sebenarnya) dengan mengunjungi Pulau Nusa Penida terlebih dahulu. Kami yang menginap di Hotel Samudera Boutique and Villa yang terletak di Gang Pararaton Utama, No. 8. Jl. Dewi Sri II, Badung, pagi itu langsung bersiap-siap menuju pantai Sanur dengan memesan Go Car terlebih dahulu. Jarak tempuh dari hotel ke Sanur sekitar 30 menit dengan harga 65rb. Setiba di pantai, kami langsung memesan boat terlebih dahulu dengan harga 75 rb/orang lalu mencari tempat makan. Sebelum ke bali, saya sudah dikasih tahu lebih dulu sama tante kalau;
"mencari makan di Bali itu harus serba hati-hati karena bisa saja satu tempat makan berisi makanan yang tidak halal (makanan yang dilarang dalam agama Islam :) )".
Benar sekali, kami sangat susah mencari makan. Sampai akhirnya, kami berhenti di satu warung kecil yang menyediakan nasi campur yang sudah terbungkus. Nenek yang berjaga di warung itu langsung menawarkan nasi yang ia jual. Dia memberikan 3 bungkus nasi kepada kami, padahal di keranjang masih ada tersisa 1 nasi bungkus. Teman saya, Putri, langsung meminta nasi bungkus yang tersisa, tapi si Nenek itu mengatakan bahwa nasi tersebut berisi daging Babi. Sontak kami berempat langsung kaget. Si Nenek pun langsung mengatakan bahwa nasi bungkus yang ia berikan berisi ikan goreng. Kami pun duduk dan mencoba makan karena sudah sangat terpaksa. Tapi saya, tetap saja tidak menghabiskan makanan tersebut (susah ditelan makanannya).

Tidak cukup 5 menit, saya dan Rama beranjak dari warung itu membeli sandal jepit yang bisa dipakai karena tadinya saya memakai sepatu. Dapatlah sandal seperti foto di bawah ini:

saya yang berfoto di depan warung milik si nenek itu.
Pukul 10.00 AM kami langsung dipanggil untuk menaiki boat. Boat nya keren. Ada musiknya dan dalamnya bersih. Saya termasuk yang sangat antusias sekali karena pertama kalinya ke Bali. Melihat segala sesuatu yang baru itu selalu menjadi hal yang amazing banget. Termasuk tahu kalau saat menyeberangi pulau tetap ada signalnya. Luar biasa, Bali.

foto kami di dalam Speed Boat Maruti Express.

kami bersama penumpang lain. wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Selama perjalanan, seperti biasa saya masih excited. Pertama kalinya naik speed boat, ada jaringan pula, adem, tapi tetap saja ujung-ujungnya mabuk laut hahaha. Padahal tadinya saya mengantisipasi dengan tidur. Eh, tetap aja gak mempan. Untungnya tinggal beberapa menit tiba di Penida. Tapi syukurlah, beberapa menit yang kritis itu alias perut sudah sangat tidak mampu untuk membendung keluarnya muntah itu, kami sudah disuguhkan dengan pemandangan Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Jadi perhatiannya tidak terfokus untuk muntah, hehehe.

Setiba di Pelabuhan Buyuk, Nusa Penida, sekitar jam 10:55 AM. Kami langsung menyewa 2 sepeda motor untuk ke Pantai Atuh. Saya dan Rama, Putri dan Titin. Sewa motor dikenakan biaya 75 rb/hari sampai jam 4 sore. Kami langsung mengaktifkan GPS dan menggunakan google maps untuk membantu agar bisa sampai ke Pantai Atuh. Terik matahari saat itu luar biasa sangat panas. Sangaaaaaaaaat. Tapi selama perjalanan, tidak terbesit untuk mengeluhkan panasnya matahari saat itu. Karena rencana kami ke Bali untuk liburan anti mainstream, berpanas-panasan, dan menghabiskan uang yang ditabung hahaha. Kami berempat sangat menikmati perjalanan saat itu. Jalannya memang masih berlubang dan berkerikil, belokkan jalannya sangat terjal. Tapi disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa keren. Pantai yang bersih dan warnanya biru cerah karena disinari oleh matahari, pegunungan yang masih alami, udara yang masih bersih, bau dupa khas yang sangat wangi (padahal saya tidak terlalu suka mencium bau dupa. Tapi di Penida, bau dupanya wangi sekali) serta penduduk yang ramah. Selama perjalanan kami hanya berhenti untuk mengisi bensin, menunggu si Putri dan Titin yang kadang berjalan pelan dengan motor di belakang saya dan Rama (tapi ternyata mereka jatuh dari motor saat menaiki jalan yang belokkannya sangat terjal). Tapi alhamdulillah, walaupun lecet sedikit tapi tidak parah.

kurang lebih suguhan pemandangannya seperti ini.
Kami pun sampai ke Pantai Atuh kira-kira pukul 13.00 PM. Jarak tempuh sekitar 1 jam lebih beberapa menit. Ternyata kami belum sepenuhnya sampai pada pantainya. Kami harus berjalan kaki menuruni bukit untuk sampai di tepi pantai.

kebayang ga, panasnya itu kayak gimana. si Rama sudah duluan ke bawah. ga sabar lihat pantainya katanya. foto ini diambil sebelum kita menuruni bukit. jalannya juga, luar biasa masih alami banget.
foto ini diambil saat kita sedang menuruni bukitnya untuk sampai ke tepi pantai.
ini pemandangan tebing sebelahnya yang nantinya akan kita naiki juga.
Untuk menuruni bukitnya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit. Karena kami bertiga masih berhenti terpesona dengan pemandangannya. Berhenti di tengah jalan untuk mengabadikan lewat foto maupun menambah memori dalam pikiran tentang pemandangan ini.

Akhirnya kita sampai di tepi pantainya. Matahari masih tetap bersinar terang tak kenal lelah. Kami pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk bersantai lama. Kami masih memesan minuman soda dingin, duduk sejenak kemudian langsung mengabadikan moment lewat foto, seperti ini;



saya dan Rama.


saya dan Putri.


saya dan Titin.
Setelah menghabiskan waktu sekitar hampir setengah jam untuk foto-foto, duduk bersantai, dan buang air hehe, kami langsung bergegas naik ke tebing sebelahnya untuk melihat panorama pantai yang sesungguhnya dari atas tebing di Nusa Penida. Sebelum naik, saya sudah deg-degan duluan karena melihat tangganya yang tinggi untuk mencapai tangga berikutnya, sangat miring (saya menganggapnya miring karena saya baru sadar bahwa saya takut ketinggian. Setiap menaiki tangga bawaanya bakal jatuh dan jatuhnya tidak tanggung-tanggung langsung ke laut. Itu yang saya takutkan hahaha). Belum 1 menit menaiki tangga tebing saya sudah kewalahan. Sudah ngos-ngosan dan adrenalin mulai menggila. Melihat pemandangan dari atas ke bawah laut justru membuat saya takut tapi ingin sampai ke atas. Bisa diperkirakan bagaimana perasaan seperti itu, guys? hahaha. Bukan hanya saya, Putri juga anaknya takut ketinggian. Jadi kami berdua ngesot menaiki tangga tebing saat itu. Berbeda dengan Titin yang pembawaannya santai, kelihatan seperti tidak capek, tidak takut, dan anak ini apaan sih? hahaha.

kami menyempatkan waktu berfoto di atas tangga tebing. kelihatan, ga, capeknya? Rama mana? Sudah naik lebih dulu dari kami bertiga.
Kami memakan waktu hampir 15 menit untuk sampai di atas tebingnya. Rama, Putri, dan Titin sudah sampai pada puncaknya. Saya? Masih bersandar di pohon kecil karena kecapekan. Masih duduk sejenak, mencari napas yang sebenarnya karena sudah tidak beraturan, jantung rasanya tertinggal di bawah tebing hahaha. Sekitar 10 menitan istirahat, lalu saya bergegas menaiki puncak yang tinggal beberapa langkah untuk bertemu dengan mereka.
Ketika sampai pada puncak tebing, Masya Allah, ciptaan Tuhan memang nyata. Sangat indah sekali. Amazing. Laut dan langitnya yang sangat luas. Tidak ada kata yang saya keluarkan saat itu selain memuji ciptaan-Nya. Sampai saat ini, belum ada pantai atau pemandangan yang bisa mengalahkan indahnya pantai ini.

saya memang agak berantakan di sini karena baru naik dan langsung excited lihat pemandangannya lalu minta difoto.

nah ini saya sudah lebih rapi lagi. walaupun make up sudah luntur dan ga sempat touch up.
 Beberapa menit kami di spot ini, lalu kami berpindah ke spot berikutnya, seperti ini;




betapa luas pemandangannya, bukan?



Setelah asik berfoto, menikmati pemandangannya, kami bergegas turun lagi ke tepi pantai yang tadi. Kali ini tidak takut dan kewalahan lagi karena jalannya sudah menuruni tangga tebing. Tapi tetap, walaupun begitu, masih sempat berhenti sejenak, duduk, lalu berfoto seperti gambar di bawah ini;



Setelah sampai di tepi pantai, para tourist sudah banyak yang datang. Tadinya sebelum kita naik ke tebing hanya 2 orang, sekarang sudah sekitar 6 orang yang berpasangan cewek dan cowok. Kemudian ditambah wisatawan dari dalam negeri yang kira-kira hanya berjumlah tidak lebih dari 20 orang ditambah dengan anak-anak kecil. Kami masih beristirahat lagi di warung kecil milik Bli yang saya tidak tahu namanya. Dia ramah kepada semua pengunjung yang datang. Kami menitipkan barang-barang kami di warungnya sebelum kami naik ke tebing tadi.

kami masih beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menaiki bukit lagi hahaha.
Setelah kami merasa fit kembali, kami langsung melanjutkan perjalanan menaiki bukit yang tinggi. Saya bingung harus bilang bukit atau tebing. Karena kalau bukit, ga mungkin tinggi banget. Kalau tebing, ga kayak tebing yang sebelah. Jadi bingung. Pokoknya itu!
Jadi, seperti biasa. Saya mudah capek kalau naik tangga atau naik bukit. Maklum mungkin faktor umur hahaha. Beberapa menit naik, langsung berhenti. Yaah, sekitar 3 kali berhenti saat itu sampai akhirnya tiba di atas di mana tempat motor kami diparkir. Beruntung tidak ada yang mencuri haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 PM atau jam 4 sore. Tadinya kami berencana untuk menginap di Nusa Lembongan. Tapi setelah memperkirakan waktu, sepertinya tidak akan cukup untuk sampai ke pelabuhan karena boat nya sudah lewat jam yang dijadwalkan. Sedangkan motornya? Motornya kami tambah menjadi 2 hari yang sisa pembayarannya akan dilunasi keesokan harinya saat kami pulang.
Kami pun kembali ke pusatnya Nusa Penida. Saya kurang tahu nama desanya karena tidak sering memerhatikan. Sesampai di pusat kotanya sekitar pukul 17.00 PM, kami langsung mencari tempat makan. Tempat makan yang halal karena sebenarnya kami belum sepenuhnya makan. Sambil mencari tempat penginapan juga, kami menemukan tempat makan yang bertuliskan RM. Muslim. Dengan segera kami mampir di tempat makan tersebut dan langsung memesan makanan. Alhamdulilah. Sembari makan, kami menanyakan tempat penginapan murah di sekitar situ. Si ibu yang punya rumah makan langsung menawarkan tempat penginapan dengan harga yang murah. Si ibu itu sangat ramah kepada kami. Dia menanyakan kami berasal dari mana, berwisata kemana saja saat di Nusa Penida, sampai akhirnya dia memberi tahu tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan saat ke Nusa Penida.

Sebelum kami beranjak dari situ, si ibu tersebut memanggil seorang Bli kenalannya yang lewat dengan sepeda motor di depan warung makannya dan meminta tolong untuk mengantar kami ke sebuah penginapan yang dia bilang. Si Bli pun langsung meng-iya-kan dan mengantar kami. Luar biasa sekali penduduk di situ. Mereka bisa tahu para wisatawan yang datang dan kebingungan mencari tempat penginapan hahaha.

Sampailah kami di penginapan tersebut "Mae-mae Beach House" namanya. Seperti rumah mewah yang banyak kamarnya, sih, sebenarnya haha. Harga per kamar sekitar 250rb untuk tidak ber-AC dan 300rb untuk kamar ber-AC. Kami mengambil kamar tanpa AC hanya untuk satu malam saja. Lalu kami langsung beristirahat untuk mempersiapkan diri keesokan harinya. Saat itu sudah pukul 19.00 PM.

Sabtu, 23 Juli 2016

Liburan ke Bali

Seminggu lalu, saya baru balik dari Bali. Pulau yang sudah diidam-idamkan sejak dulu untuk dikunjungi atau lebih tepatnya untuk berlibur. Saya berangkat hari Selasa, 12 Juli 2016 bersama pacar dan sahabat saya. Awalnya saya tidak menyangka bahwa bisa diberi kesempatan untuk ke sana. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya hanya bahagia, bahagia, dan bahagia. Bagaimana jika saya sudah menikah? Mungkin akan lebih bahagia lagi karena semua hal yang akan dilakukan sudah halal. haha :p
Tak ada yang lebih menggembirakan dari hari itu. Tak ada yang bisa menggantikan dari kejadian itu. Seakan otak dan hati sedang bekerja sama untuk membuat pikiran dan tubuh saya bahagia dan tetap sehat, alhamdulillah.
Kami sudah lama merencanakan liburan ini. Mungkin dari awal bulan Maret 2016. Saya saja tidak menyangka bahwa rencana itu akan terjadi dan akhirnya sudah lewat. :")

Setiba di Bali, saya dan teman-teman langsung ke hotel untuk check-in. Karena kami sampainya lebih awal dari jam yang sudah ditentukan untuk check-in yaitu jam 02 siang, maka kami rela untuk menunggu saja di hotel. Sekitar, jam 03 sore setelah check-in, kami langsung menyewa motor yang sudah ada layanannya di hotel tersebut untuk jalan-jalan sore. Maklumlah, baru pertama kali ke sana dan kami menggunakan kesempatan untuk jalan-jalan daripada rebahan di tempat tidur. Saat itu, capek menjadi hal yang ditunda. Kami berkomitmen untuk tidur hanya pada saat semua kegiatan seharian selesai dan sudah waktunya untuk istirahat malam hahaha.
Sore itu, kami mau jalan-jalan ke pantai Kuta yang untungnya lumayan dekat dari hotel yang kami tempati. Untungnya hari pertama di sana tidak nyasar karena petunjuk jalan yang sangat membantu walaupun saat itu belum menggunakan GPS. Sepanjang jalan Legian, saya takjub dengan situasinya, keadaannya, orang-orangnya di sana. Seperti bukan di Bali, melainkan di luar negeri haha. Full of bule, lah yaaa. Kepala dan mata saya ga bisa stuck. Dikit-dikit ngadep kiri dan kanan. Toko-toko kecil dan bar yang ada sangat mencuri perhatian untuk sekedar membuka mata dan mulut saya kemudian mengucapkan "waaaahhhh, daebaaaaakk (astaga), wiiiiihhhh, gilaaa ni Bali" itu. Sampai akhirnya, ketika kami hampir mendekati pantai Kuta, saya langsung excited melihat tempat makan yaitu KFC. Saat itu memang perut kami sudah sangat lapar, maka kami langsung menghentikan motor dan masuk ke dalam untuk segera memesan makanan. Setelah makan, kami melanjutkan kembali perjalanan ke pantai yang hanya tinggal beberapa menit saja.


Setelah asik menikmati indahnya pantai, tak terasa sudah pukul 06 sore. Saya baru menyadari bahwa pergerakan matahari tenggelam di sana cukup lambat daripada di Manado. Setelah saya lihat sendiri, ternyata akan benar-benar gelap sekitar pukul setengah 07 atau mendekati jam 07 malam. Wah, saya benar-benar takjub dengan perbedaan waktu di bumi ini. Amazing! Kami pun bergegas ke motor dan melanjutkan perjalanan ke toko-toko kecil sepanjang jalan Legian untuk berbelanja kecil-kecilan. Kami sempat mampir juga di Monumen Bom Bali. Sampai akhirnya kami kembali ke hotel jam 09 malam. Kami masih menyempatkan waktu briefing untuk rencana perjalanan liburan kami di sana ke pulau Nusa Penida. Stay tuned <3

Jumat, 20 Mei 2016

Alat Co Ass yang Sering Raib

Holaaaaaa, lama tak berjumpa lewat blog ini, ya.
Kali ini, saya mau berbagi pengalaman cerita selama masa co ass yang hampir setahun lebih saya jalani. Sudah mau memasuki tahun kedua tapi requirement belum seutuhnya selesai, maklum. DOAKAN! Intinya, co ass gigi itu BEDA sama co ass - co ass yang kalian dengar selama ini.

Saya mau menguraikan beberapa kisah manis dan pahit dengan alat-alat co ass yang sering menghilang dengan sendirinya. Miris!

Beberapa alat co ass yang hilang selama di RSGM.

1. PENA
"Pinjam pulpen sebentar, ya". Siap-siap idup lo miskin karena nantinya lo akan membeli pulpen baru kalau yang dia pinjam sudah hilang. Hilang dalam artian ada lagi teman yang pinjam kemudian si peminjam pertama sudah lupa siapa yang pinjam. Sial banget tuh si pemilik aslinya.

2. UANG
"Pinjam duit lo buat daftar pasien, dong. Dompet gue di dalam tas, terus tas gue di lantai 4". Siap-siap lo bakal jadi penagih hutang sama dia. Untung-untungan kalau dia ingat pas ditagih, kalau, enggak? Bangkrut hidup lo.

3. DIAGNOSTIC SET
"Diagnostikmu ada yang udah steril? Boleh gue pinjam? Nanti gue sterilkan lagi". Tanda-tanda anak malas yang ga sempat nyuci diagnostiknya pas selesai pakai ke pasien. Tipe manusia seperti ini butuh pelatihan khusus, bagaimana caranya untuk membiasakan diri memulai hidup dengan aman, bersih, sopan, santun, dan rapi. Logikanya, ya, kalau misal dia pinjam diagnostik kita karena diagnostiknya belum dicuci atau ketinggalan di kosan nih, bisa jadi nanti dia bisa tunda buat nyuci diagnostik kita. Selain itu, beberapa tipe orang pelupa diagnostiknya di kosan karena:
a. Belum dicuci setiba di kosan
b. Belum disterilkan
c. Mungkin ada salah satu alat yang hilang
d. Sudah steril tapi tasnya terlalu berat jadi diagnostik kita dikeluarin dan dibiarkan saja tanpa merasa bersalah walaupun si pemilik diagnostik membawa pasien saat itu juga
e. Si peminjam PIKUN KRONIS.

4. LECRON
"Pinjam lekron, dong. Punya gue ketinggalan". Sebenarnya itu alasan klasik yang selalu di dengar. Dan si pendengar dengan polosnya meminjamkan tanpa meminta uang jaminan. Coba kalau ada kios khusus peminjaman lekron. Paling juga kios itu bakal bangkrut dengan sendirinya karena co ass terkadang sering lupa untuk mengembalikkan barang yang ia pinjam. MEMALUKAN!

5. SPATULA
"Pinjam spatula, dong. Punya gue hilang, padahal kemarin masih ada". Ga usah banyak berharap, paling juga teman lo sendiri yang ngambil tapi malas ngasih tahu dengan alasan "punya gue juga waktu itu hilang, jadi rasain gimana sakitnya spatula hilang". TEMAN YANG JAHAT.

6. HIGH AND LOW SPEED
Ini dia barang yang paling anti dan mahal kalau dipinjam. Coba tanya ke beberapa teman "punya low speed?" pasti jawabannya "dipinjam Lola". Atau ga "yah, punya gue juga hilang". Alasan yang kedua ini merupakan alasan yang khusus digunakan oleh manusia pemberani mengambil resiko. Saya meyakini bahwa PERKATAAN ADALAH DOA. Kalau misalnya yang dia bilang tadi terkabul, saya angkat tangan, guys.

7. MASIH BANYAK ALAT-ALAT KECIL LAINNYA. 

Akhir kata, mungkin teman kita terkadang menjadi tuyul tanpa sepengetahuan. Tapi ingat, kadang kita juga bakal jadi tuyul tanpa kita sadari. Waspada tuyul!
Hahahahahahaaaa