Senin, 31 Maret 2014

Aku anak semester DELAPAN

Wuah, setelah sebulan lalu terakhir update blog akhirnya sekarang bisa nulis lagi. Bertepatan hari ini Nyepi dan libur, jadi gue masih menyempatkan diri untuk nulis non formal setelah beberapa hari yang lalu gue bergelut sama proposal/skripsi yang menggunakan bahasa formal.
Yah, akhirnya 2014 ini gue sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir dari perkuliahan ini. Perkuliahan yang kata dari beberapa dosen hanya sebagai formalitas untuk mencari gelar, mencari absen, dan tuntutan orang tua pastinya. Sulit sekali untuk dimengerti bagaimana menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan.

2014.
Target gue untuk mencapai gelar sarjana Kedokteran Gigi. Menyelesaikan S1 terkadang membuat kita tahu bahwa, "ternyata kuliah itu gak gampang". Kenapa? Orang tua itu susah nyari duit dari pagi sampai malam cuma karena ingat anaknya yang lagi kuliah. Terkadang kita sebagai anak kos juga turut merasakan gimana susahnya jadi orang tua menjelang tanggal tua. Kiriman uang sering terlambat dan bahkan makan pun susah. Tapi berkat pembelajaran itulah yang bikin gue masih bertahan sampai sekarang karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup, makan, bernapas dan tentunya mandi.

Sekarang gue udah semester delapan. Itu artinya sebentar lagi gue akan melepas nama kosong ini dan diisi dengan gelar yang telah gue raih sendiri. Walaupun sekarang masih dalam proses revisi proposal sebelum ujian, semoga itu akan berjalan baik dan dosennya akan memberikan bimbingan yang terbaik selama proses ini hingga akhir.

Di kampus gue "Kedokteran Gigi", ada delapan pilihan stase untuk masing-masing mahasiswa mau pilih yang mana saat penyusunan proposal. Pilihan stase itu antara lain:
1. Orthodonti = kawat gigi.
2. Konservasi Gigi = mempertahankan dan mengembalikan fungsi normal gigi, just like merawat gigi itu dari rusak banget hingga bagus banget.
3. Bedah Mulut = ilmu tentang perawatan seperti cabut gigi, pencabutan gigi yang sulit, memperbaiki patah dan keretakan pada tulang rahang, dll.
4. Prosthodonti = tentang bagaimana membuat gigi tiruan lepasan maupun gigi tiruan cekat (gigi palsu lepasan dan permanen lah istilah awamnya).
5. Pedodonti = ilmu yang mempelajari tentang bagaimana menangani pasien khusus anak-anak.
6. Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat.
7. Periodonti = ilmu yang mempelajari bagaimana menangani kasus yang berhubungan dengan jaringan periodontal pada gigi.
8. Ilmu Penyakit Mulut.
*kalau belum jelas banget nyari internet aja yah*

Dalam hal ini gue memilih bagian Pedodonti. Kenapa? Karena gak tahu kenapa tiba-tiba gue suka anak-anak daripada harus menangani pasien orang tua. Padahal sebenarnya mending orang tua kan daripada anak-anak. Apakah ini karma? Sebenarnya gue suka anak-anak, tapi anak-anak yang gimana dulu. Kalau dia rewel sih ogah. Tapi ga semua anak penurut kan? Makanya, penelitian nanti gue bakal meneliti anak-anak SD yang berumur 10-12 tahun. Karena menurut para ilmuwan bahwa, umur tersebut sudah mulai menginjak umur yang lebih dewasa daripada umur 5-7 tahun. Anak pada umur 10-12 tahun merupakan umur dimana anak sudah mulai mengetahui bagaimana membedakan antara hal yang menurutnya baik atau tidak. Sudah mulai berpikir lebih kritis dan lebih bijak mengambil keputusan. Walaupun umur 20-an yang lebih bijak ngambil keputusan yang pasti. Owalah hahaha

Gue mengajukan beberapa judul proposal/skripsi kepada dosen pembimbing. Dan yang beruntung untuk gue tulis dalam word netbook gue adalah "TINGKAT PENGETAHUAN ANAK MENGENAI MENYIKAT GIGI MALAM SEBELUM TIDUR PADA ANAK 10-12 TAHUN DI SDN 04 BILALANG".
Gue sengaja ambil penelitian di tempat dimana gue tinggal. SDnya tidak terlalu jauh dari rumah dan memang jangkauan para tenaga kesehatan untuk melakukan usaha promosi kesehatan di situ sangat kurang sekali. Selain itu, kalau gue ngambil penelitian di situ banyak keluarga yang bisa membantu. Contohnya orang tua yang sejak gue lahir mereka sudah menekuni bidang kesehatan terlebih dahulu. Dengan adanya rezeki dari Tuhan yang memberikan amanah kepada Mama gue sebagai seorang dosen, maka secara tidak langsung gue akan melakukan bimbingan pribadi kepada beliau secara khusus.

Permintaan gue singkat aja, semoga proposal gue akan segera selesai direvisi dan akan berjalan lancar sampai ujian nanti.

FIGHTING BANGET KA, DON'T GIVE UP. KEEP STRONG, CALM, AND PRAY.
AMIN.

Sabtu, 01 Februari 2014

Waktu yang Bicara

Entah benci, entah senang, entah marah, entah kecewa sehingga membuat ia beranjak dari tempat sebelumnya. Dengan wajah yang begitu datar ia meninggalkan tempat itu layaknya meninggalkan sebuah tempat yang tak berpenghuni sama sekali. Layaknya hutan, tempat itu bahkan lebih dari sebuah hutan, menurutnya.

Malam yang dibalut dengan cuaca yang begitu dingin dan berangin saat itu mungkin lebih membuat tekadnya kuat untuk pergi. Tanpa menghitung maju dari satu sampai lima rasanya tak perlu karena ia tidak membutuhkan angka untuk menghabiskan waktu menunggu sampai angkanya selesai dihitung. Dengan modal nekad ia beranjak dan pergi.

Tempat itu berubah menjadi sangat sunyi. Suara cicak begitu terdengar saat ia hendak menangkap mangsanya saking sunyinya. Suara detik yang berjalan dalam sebuah jam tangan kecil juga ikut terdengar. Anda bisa merasakan kesunyian itu bukan?

Keputusan yang diambilnya malam itu meninggalkan jejak yang begitu mendalam. Kenapa ia harus meninggalkan tempat yang sudah begitu bersahabat lama dengannya? Apakah ia tidak memikirkan bahwa kamar itu akan merindukan sosok sepertinya? Kamar yang sudah menampung dari teriknya panas matahari dan turunnya air hujan yang begitu deras selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir semenjak ditinggal ibunya. Begitukah sampai ia setega itu? Apakah ia tidak memikirkan bahwa kamar itu adalah warisan dari ibunya?

Semenjak kejadian itu ia begitu cuek dengan apa yang terjadi dalam dirinya. Saran maupun masukkan dari orang lain dianggapnya hanya sebagai angin yang lewat tanpa harus disimpan dan diingat. Ia tak mengungkit lagi bahkan tak mau tahu lagi. Tak ada yang membahas justru membuat ia merdeka untuk tak lagi menunggunya. Karena ia sosok yang begitu keras dan pemberani untuk mengambil keputusan, maka hanya orang tertentu yang bisa mengalahkan ego sendiri dibanding egonya yang begitu tinggi.

Selasa, 14 Januari 2014

Pikiran, Hati dan Perempuan

Pada saat hati tak ingin dipaksakan untuk menceritakan kisah yang sebenarnya sulit untuk diungkap dengan kalimat, saat itu pula pikiran dan hati saling memperlihatkan diri mereka. Manakah yang paling menonjol dan akhirnya akan dipilih untuk mengambil keputusan.
Tak jauh-jauh dari hati, sebenarnya pikiran kita bisa meminimalisir segala hal dari apa yang kita pikirkan dan kita olah untuk menjadi sebuah keputusan. Tapi terkadang hati sering masuk dan mencampuri untuk sekedar mengatakan bahwa "hey, kalian juga sebenarnya membutuhkan aku, bukan?". Disinilah hati dan pikiran mulai bertengkar memperebutkan pilihan dari sang pemilih.

Awalnya hati kurang setuju untuk ikut campur dari setiap apa yang berhubungan dengan pikiran. Tapi entah ada efek mana yang tiba-tiba selalu muncul dan memanggil hati untuk menentukan jawaban. Apalagi itu merupakan pilihan yang sulit dipecahkan dan pikiran tak mampu lagi mengambil sebuah keputusan.

Manusia lah yang selalu mengalami hal kecil semacam ini. Dan mayoritasnya adalah perempuan. Perempuan sering menggunakan hati mereka dibanding pikiran setelah pikiran telah bekerja dengan waktu yang lama.
Perempuan itu sering peka terhadap hal kecil apapun. Dari hal kecil itu timbulah permasalahan baru yang sebenarnya itu bisa diselesaikan tanpa harus menggunakan hati. Dan ujung-ujungnya perempuan suka kesulitan menentukan jawaban dari hasil pemikiran pikiran. Akan ada dua jawaban yang melayang. Apakah akan mengikuti jawaban pikiran atau hati?
Memang, hati paling identik dengan perempuan. Aku pernah membacanya tapi aku lupa dimana artikel itu kubaca.
Cobalah mengerti sosok perempuan yang sering mengandalkan hati mereka dibanding pikiran. Karena tanpa hati, mereka akan cepat meninggalkan hal kecil yang mungkin tak berarti lagi bagi mereka.