Sabtu, 23 Juli 2016

Liburan ke Bali

Seminggu lalu, saya baru balik dari Bali. Pulau yang sudah diidam-idamkan sejak dulu untuk dikunjungi atau lebih tepatnya untuk berlibur. Saya berangkat hari Selasa, 12 Juli 2016 bersama pacar dan sahabat saya. Awalnya saya tidak menyangka bahwa bisa diberi kesempatan untuk ke sana. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya hanya bahagia, bahagia, dan bahagia. Bagaimana jika saya sudah menikah? Mungkin akan lebih bahagia lagi karena semua hal yang akan dilakukan sudah halal. haha :p
Tak ada yang lebih menggembirakan dari hari itu. Tak ada yang bisa menggantikan dari kejadian itu. Seakan otak dan hati sedang bekerja sama untuk membuat pikiran dan tubuh saya bahagia dan tetap sehat, alhamdulillah.
Kami sudah lama merencanakan liburan ini. Mungkin dari awal bulan Maret 2016. Saya saja tidak menyangka bahwa rencana itu akan terjadi dan akhirnya sudah lewat. :")

Setiba di Bali, saya dan teman-teman langsung ke hotel untuk check-in. Karena kami sampainya lebih awal dari jam yang sudah ditentukan untuk check-in yaitu jam 02 siang, maka kami rela untuk menunggu saja di hotel. Sekitar, jam 03 sore setelah check-in, kami langsung menyewa motor yang sudah ada layanannya di hotel tersebut untuk jalan-jalan sore. Maklumlah, baru pertama kali ke sana dan kami menggunakan kesempatan untuk jalan-jalan daripada rebahan di tempat tidur. Saat itu, capek menjadi hal yang ditunda. Kami berkomitmen untuk tidur hanya pada saat semua kegiatan seharian selesai dan sudah waktunya untuk istirahat malam hahaha.
Sore itu, kami mau jalan-jalan ke pantai Kuta yang untungnya lumayan dekat dari hotel yang kami tempati. Untungnya hari pertama di sana tidak nyasar karena petunjuk jalan yang sangat membantu walaupun saat itu belum menggunakan GPS. Sepanjang jalan Legian, saya takjub dengan situasinya, keadaannya, orang-orangnya di sana. Seperti bukan di Bali, melainkan di luar negeri haha. Full of bule, lah yaaa. Kepala dan mata saya ga bisa stuck. Dikit-dikit ngadep kiri dan kanan. Toko-toko kecil dan bar yang ada sangat mencuri perhatian untuk sekedar membuka mata dan mulut saya kemudian mengucapkan "waaaahhhh, daebaaaaakk (astaga), wiiiiihhhh, gilaaa ni Bali" itu. Sampai akhirnya, ketika kami hampir mendekati pantai Kuta, saya langsung excited melihat tempat makan yaitu KFC. Saat itu memang perut kami sudah sangat lapar, maka kami langsung menghentikan motor dan masuk ke dalam untuk segera memesan makanan. Setelah makan, kami melanjutkan kembali perjalanan ke pantai yang hanya tinggal beberapa menit saja.


Setelah asik menikmati indahnya pantai, tak terasa sudah pukul 06 sore. Saya baru menyadari bahwa pergerakan matahari tenggelam di sana cukup lambat daripada di Manado. Setelah saya lihat sendiri, ternyata akan benar-benar gelap sekitar pukul setengah 07 atau mendekati jam 07 malam. Wah, saya benar-benar takjub dengan perbedaan waktu di bumi ini. Amazing! Kami pun bergegas ke motor dan melanjutkan perjalanan ke toko-toko kecil sepanjang jalan Legian untuk berbelanja kecil-kecilan. Kami sempat mampir juga di Monumen Bom Bali. Sampai akhirnya kami kembali ke hotel jam 09 malam. Kami masih menyempatkan waktu briefing untuk rencana perjalanan liburan kami di sana ke pulau Nusa Penida. Stay tuned <3

Jumat, 20 Mei 2016

Alat Co Ass yang Sering Raib

Holaaaaaa, lama tak berjumpa lewat blog ini, ya.
Kali ini, saya mau berbagi pengalaman cerita selama masa co ass yang hampir setahun lebih saya jalani. Sudah mau memasuki tahun kedua tapi requirement belum seutuhnya selesai, maklum. DOAKAN! Intinya, co ass gigi itu BEDA sama co ass - co ass yang kalian dengar selama ini.

Saya mau menguraikan beberapa kisah manis dan pahit dengan alat-alat co ass yang sering menghilang dengan sendirinya. Miris!

Beberapa alat co ass yang hilang selama di RSGM.

1. PENA
"Pinjam pulpen sebentar, ya". Siap-siap idup lo miskin karena nantinya lo akan membeli pulpen baru kalau yang dia pinjam sudah hilang. Hilang dalam artian ada lagi teman yang pinjam kemudian si peminjam pertama sudah lupa siapa yang pinjam. Sial banget tuh si pemilik aslinya.

2. UANG
"Pinjam duit lo buat daftar pasien, dong. Dompet gue di dalam tas, terus tas gue di lantai 4". Siap-siap lo bakal jadi penagih hutang sama dia. Untung-untungan kalau dia ingat pas ditagih, kalau, enggak? Bangkrut hidup lo.

3. DIAGNOSTIC SET
"Diagnostikmu ada yang udah steril? Boleh gue pinjam? Nanti gue sterilkan lagi". Tanda-tanda anak malas yang ga sempat nyuci diagnostiknya pas selesai pakai ke pasien. Tipe manusia seperti ini butuh pelatihan khusus, bagaimana caranya untuk membiasakan diri memulai hidup dengan aman, bersih, sopan, santun, dan rapi. Logikanya, ya, kalau misal dia pinjam diagnostik kita karena diagnostiknya belum dicuci atau ketinggalan di kosan nih, bisa jadi nanti dia bisa tunda buat nyuci diagnostik kita. Selain itu, beberapa tipe orang pelupa diagnostiknya di kosan karena:
a. Belum dicuci setiba di kosan
b. Belum disterilkan
c. Mungkin ada salah satu alat yang hilang
d. Sudah steril tapi tasnya terlalu berat jadi diagnostik kita dikeluarin dan dibiarkan saja tanpa merasa bersalah walaupun si pemilik diagnostik membawa pasien saat itu juga
e. Si peminjam PIKUN KRONIS.

4. LECRON
"Pinjam lekron, dong. Punya gue ketinggalan". Sebenarnya itu alasan klasik yang selalu di dengar. Dan si pendengar dengan polosnya meminjamkan tanpa meminta uang jaminan. Coba kalau ada kios khusus peminjaman lekron. Paling juga kios itu bakal bangkrut dengan sendirinya karena co ass terkadang sering lupa untuk mengembalikkan barang yang ia pinjam. MEMALUKAN!

5. SPATULA
"Pinjam spatula, dong. Punya gue hilang, padahal kemarin masih ada". Ga usah banyak berharap, paling juga teman lo sendiri yang ngambil tapi malas ngasih tahu dengan alasan "punya gue juga waktu itu hilang, jadi rasain gimana sakitnya spatula hilang". TEMAN YANG JAHAT.

6. HIGH AND LOW SPEED
Ini dia barang yang paling anti dan mahal kalau dipinjam. Coba tanya ke beberapa teman "punya low speed?" pasti jawabannya "dipinjam Lola". Atau ga "yah, punya gue juga hilang". Alasan yang kedua ini merupakan alasan yang khusus digunakan oleh manusia pemberani mengambil resiko. Saya meyakini bahwa PERKATAAN ADALAH DOA. Kalau misalnya yang dia bilang tadi terkabul, saya angkat tangan, guys.

7. MASIH BANYAK ALAT-ALAT KECIL LAINNYA. 

Akhir kata, mungkin teman kita terkadang menjadi tuyul tanpa sepengetahuan. Tapi ingat, kadang kita juga bakal jadi tuyul tanpa kita sadari. Waspada tuyul!
Hahahahahahaaaa

Kamis, 10 Maret 2016

Kisah Jelita Anak Malang

Banyak orang yang mendeskripsikan bahwa kesedihan itu selalu membawa dampak buruk bagi kehidupan, contohnya seperti sedih yang berakhir dengan bunuh diri. Tragis untuk mengakhiri sebuah kehidupan. Tuhan memberikan kita kesempatan hidup untuk melanjutkan amanah yang diberikan oleh-Nya. Bukan untuk menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan.

Suatu hari, ada seorang anak perempuan yang selalu taat dan berbakti kepada orang tuanya. Ibunya ialah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah bersebelahan dengan rumah kecil mereka. Ayahnya ialah seorang tukang ojek yang keseharian menghabiskan waktu di jalan untuk mencari uang.

Jelita, nama anak perempuan itu. Ia sekarang menginjak umur ke 15 tahun. Ia anak satu-satunya dalam keluarga itu. Jelita ialah anak yang penurut dan sopan. Ia sering membantu ibunya bekerja di rumah tetangganya. Ia tak pernah mengeluh untuk mengerjakan apapun yang diperintah majikannya juga. Sekarang ia sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Suatu ketika, Jelita sedang di rumah bersama ayahnya. Ia selalu disuruh dan dipukul ketika ibunya tidak di rumah. Ayahnya selalu membentaknya hingga ia selalu berdiam diri di kamar mandi karena tidak tahan mendengar teriakkan ayahnya. Saat ibunya datang tepat pukul 10 malam barulah ia bisa keluar kamar mandi dengan alasan "saya baru pulang habis ngerjain PR di rumah Meli, Bu. Makanya baru selesai bersih-bersih", jelasnya ketika baru keluar dari kamar mandi sambil menutup mukanya seakan membersihkan muka yang baru di cuci untuk menutupi matanya yang bengkak karena selesai menangis.

Selama seminggu, sepulang sekolah Jelita selalu dijemput ayahnya untuk menutupi kejahatannya selama di rumah. Sesampai di rumah Jelita harus dimarahi dan diancam terlebih dahulu sehingga ia sering tidak makan karena harus mengurung diri di kamar mandi hingga ibunya pulang kerja.
Suatu hari, Jelita sakit. Ibunya bahkan tidak masuk kerja untuk mengurusnya di rumah. Badannya panas dan ada bekas pukulan di badannya. Ibunya sangat bingung kenapa badannya bisa sampai memar seperti itu. Jelita tak menjelaskan apapun kepada ibunya karena takut nanti dimarahi ayahnya. Sudah hampir dua minggu Jelita tak kunjung sembuh. Ibunya semakin panik dan bingung harus bagaimana karena tak punya cukup uang untuk membawa Jelita berobat ke rumah sakit. Ibunya khawatir kalau nanti pengobatannya sangat mahal. Ayahnya hanya bisa diam sambil berkata "sudahlah, Bu. Nanti juga paling ia sembuh. Mungkin dibawa ke Puskesmas saja". Namun ibunya masih tetap khawatir karena Jelita semakin parah.

Hingga suatu hari, Jelita meninggal. Penyebabnya selama seminggu ia tidak pernah makan karena harus bersembunyi di dalam kamar mandi. Ia selalu tak sempat untuk makan pagi karena buru-buru ke sekolah sebelum ibunya pergi bekerja dan melarikan diri dari ayahnya sebelum dilarang ke sekolah. Siangnya dijemput dan harus dibentak lagi. Malamnya sudah tak sempat makan karena sudah larut dan dia harus tidur karena sudah mengantuk. Selama di sekolah, Jelita pun tidak membeli jajanan sekolah karena tidak dikasih uang jajan oleh ayahnya. Padahal ibunya sering menitip uang jajannya kepada ayahnya.

Ayahnya hanya bisa terdiam ketika kejadian itu. Ibunya hanya terus menangis dan menyesali karena tidak pernah mengurus anaknya. Ibunya tidak pernah tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ayahnya hanya selalu menyalahkan ibunya karena tidak mengurus Jelita dengan baik.