Jumat, 28 Juli 2017

Susah Senang di FKG

Halo. Setelah bersibuk-sibuk seminggu ini di RSGM, akhirnya di awal weekend gue bisa menulis kembali cerita yang lama terpendam akibat kemalasan dan kecapekan hehe. Seminggu ini, gue lagi sibuk mengurus beberapa requirement yang belum lunas. Emang, sih, ga serajin teman-teman lain, tapi apa salahnya untuk  bangkit kembali. Karena setiap orang itu punya pendapat dan persepsi berbeda-beda. Setiap orang punya cara hidup dan menjalani kehidupan mereka sendiri. Don't judge, aje!

Gue mau berbagi cerita selama gue co ass tiga tahun terakhir ini. Ga usah komen kenapa udah tiga tahun belum lulus juga? Jawabannya simple, "jangan banyak tanya!".
Semakin hari menjalani co ass, gue semakin sadar waktu dan uang itu sangat penting. Apalagi menunda kerja pasien satu hari artinya lo menunda masa depan satu hari. Jadi kalau kita malas satu bulan, rencana nikahan lo bakal tertunda juga satu bulan. SAKIT!
Dalam dunia per-co ass-an ini gue sering mengambil hikmah dengan kejadian-kejadian rese' di rumah sakit. Mulai dari pasien nikung operator (ditinggalin pasien), teman nikung teman (pasien teman diambil teman lain), operator malas (padahal pasien kooperatif banget, (operator siap kerja, pasien sudah datang tepat waktu, dokter jaga juga ada tapi uang perawatan ga cukup), (operator siap kerja, pasien stand by dari pagi, dokter jaga ada, tapi dental unit full atau rusak), (operator siap kerja, pasien ready, giliran dokter jaga ga masuk), (dokter jaga ready, pasien ready, operator sakit). Rasa apalagi yang tidak kita rasakan sebagai co ass gigi?
Sedih? Udah.
Senang? Beberapa kali.
Pengen nangis? Sampai air mata darah juga ngalir gitu aja.

Di co ass juga lo bakal tahu mana teman saat lo lagi emergency banget minta dibantu untuk jadi asistennya, mana teman makan teman, mana teman bohong-bohongan, mana teman saling memanfaatin temannya sendiri, mana teman yang suka nguras duit temannya dengan alasan (besok gue ganti). Gue ga tau lagi besoknya kapan. Sampai kiamat juga cuma dia yang tahu besoknya kapan, mana teman yang sok banget requirement nya paling banyak dikerjain padahal cuma di bagian itu doang, dan terakhir teman paling sok pintar di jagad raya ini. Adaaaaaaaaa. Rese', deh! Hahahaha
Mungkin semua anak co ass gigi pernah mengalami hal di atas. Atau yang ga mau ngaku berarti dia orangnya haha.
Tapi, sebenarnya anak co ass gigi itu kompak. Kompak saling membantu (supaya dapat imbasnya). Ga ada salahnya. Karena kita sistem kerja sama TERPAKSA yang harus dipaksakan haha. Iyalah, kerja sama itu penting bagi co ass gigi. Apalagi dalam hal pasien dan requirement. Teman yang awalnya ga akrab, bakal jadi akrab karena dimulai dari kalimat,
A: Lo mau DST sama dokter ini?
B: Iya, nih. Lo juga?
A: Iya. Barengan, yuk, besok. Biar sama-sama dimarahi dokter kalau ga bisa jawab pertanyaannya.
Jadilah mereka berdua. Langsung ketemuan di Starbucks dan langsung pacaran.
Enggak, lah, deng. Jadilah mereka berteman baik karena DST.
* DST (Dental Side Teaching) = diskusi kasus sebelum melakukan suatu tindakan / perawatan (tertentu).

Ada juga yang versi lain.
A: Lo mau CSS, ya?
B: Iya, nih. Emang lo udah?
A: Belum, sih. Mau translate jurnal dulu
B: Gue lagi translate juga, nih
A: Oh, yah? Wah kebetulan. Bantu translate jurnal gue, dong.
Ujung-ujungnya memanfaatin haha.
*CSS (Clinical Scientific Session) = diskusi kasus jurnal.

Versi lainnya:
A: Nah, kita, kan udah indikasi, nih. Berarti tinggal buat laporan DST nya, dong
B: Yoai
A: Gue copy materinya, please
B: Gue send e-mail, deh
Beberapa jam setelah e-mail masuk.
A: File nya udah gue download. Lo udah susun laporannya?
B: Udah, sih. Barusan selesai. Lo gimana?
A: Nah, itu dia. Parah banget malam ini. Gue belum edit sama sekali laporannya. Soalnya gue lagi keluar sama Mama yang baru datang dari kampung. Ga enak kalau ga diajak jalan dulu. Gue bisa minta laporannya yang udah lo edit, gak?
Jalan-jalan yang terselubung. Alasan tak berujung.

Sebenarnya banyak banget versi-versi lainnya. Tapi dibalik cerita di atas, mungkin ada yang beneran terjadi, ada juga yang co ass nya timbul tenggelam (semangatnya).

Selain itu, mengenai bahan dan alat yang kita pakai selama co ass. Banyak orang awam beranggapan bahwa, alat dan bahan yang kita pakai di rumah sakit itu real punya instansi. Sebenarnya TIDAK SAMA SEKALI. Kita beli sendiri. Kita nyiapin sendiri. Uang yang dipakai? Punya orang tua, lah. Kecuali yang udah nikah. Yah, ga usah muluk-muluk, bahan kayak masker dan handscoon aja kita beli sendiri. Ga percaya, kan? Emang, orang awam ga bakal percaya kecuali dia punya anak yang bakal kuliah di Kedokteran Gigi. Awal masuk saja sudah disuruh beli alat diagnostik yang harganya 500rb. Baru semester 1, lho.

Kalau ngomongin soal uang, itu hal yang paling sensitif banget. Kita sesama co ass saling ngerti gimana kekurangan dan kemiskinan yang dialami temannya sendiri ketika uang di dalam dompetnya tinggal 50 ribu rupiah dan harus bayar uang angkot pulang ke kontrakan 8 ribu rupiah, belum bayar hutang pulsa 12 ribu rupiah, belum ngasih makan pasien anak di KFC paket super mantap 20 ribu rupiah. Sisa uang 10 ribu rupiah. Mau diapain uangnya? Nginap, dah, di RSGM hahaha. Eh, tiba-tiba teman yang satunya nagih hutang 5 ribu, katanya uang pendaftaran pasien yang dipinjam karena kita ga sempat naruh uang di kantong jas co ass. Sisa uang real 5 RIBU RUPIAH hahahahahaha.
Kasihan!
Sebagai solusi, banyak anak co ass yang memulai hidupnya dengan belajar berbisnis kecil-kecilan. Mulai dari jualan tampon (gue sendiri), jualan alginat, polibib, ada juga yang jual kue, minuman, snack, sampai berbisnis MLM, pun ada. Untuk apa?
- Untuk menopang kehidupan yang fana ini
- Sebagai uang tambahan
- Uang mendadak kalau orang tua belum transfer dan kita kepepet harus kerja pasien
- Uang senang-senang (belanja, nonton)
- Tabungan untuk masa depan
- Uang liburan pastinya. Karena otak dan badan butuh refreshing.

Anak co ass gigi itu gak kere. Enggak sama sekali. Mereka cuma hemat. Masing-masing co ass saja udah bersaing jual alginat dengan harga di bawah 100 ribu. Yang sebelumnya 120an ribu rupiah haha.
Co ass gigi itu gak kere. Mereka hanya perlu berhemat karena uang transferan orang tua gak tiap hari. Atau mereka malu karena belum menghasilkan uang sendiri sedangkan umur sudah matang untuk memberikan imbalan kepada orang tua.
Co ass gigi itu ga sesedih yang kalian lihat. Belum sehebat yang kalian pikir. Ga sekaya yang kalian fitnah. Ga juga miskin yang kalian hina.

Coba lihat kami. Kami memang hanya co ass gigi yang mungkin dianggap sepele sama pasien. Dibuat semena-mena karena tiba-tiba menghilang saat perawatan berlangsung, diminta beli ini itu biar mau dirawat giginya, disindir minta dibayarin saat perawatan selesai, dibilang uang transport nya ga cukup. Tapi kami selalu yakin bahwa kami tidak akan menjadi DOKTER GIGI tanpa pasien-pasien itu.

Gue baru sadar, ternyata tulisan saja ga cukup untuk menguraikan cerita yang gue alami selama co ass. Suatu hari nanti, insya Allah gue akan share lagi cerita lainnya.
See you.

Kamis, 04 Mei 2017

Halo. Again.

Haiiiii semuaaaaaa. Haduh lama banget, nih, gak update tulisan di blog. Emang sih gak terlalu banyak yang baca, tapi tulisan itu gak akan punah kalau dibaca lagi :").
Sekarang aku lagi sibuk banget co ass, kalau meluangkan waktu untuk menulis bisa banget, tapi kadang juga malas pengen rebahan atau santai gitu hehe. Jangan dicontoh, ya.

Kalau mengingat tahun-tahun sebelumnya, tiap bulan minimal aku update beberapa tulisan di blog. Tapi sekarang mulai mengurang. Duh, kasihan banget. Padahal ternyata asik juga baca tulisan tahun-tahun kemarin. Ternyata alay gitu hahaha.
Jadi, sekarang aku mau cerita tentang kehidupan sebagai mahasiswa profesi. Sudah hampir 2 tahun lebih tepatnya tahun ketiga aku menjalani co ass dan belum lulus juga haha. Semoga bisa secepatnya lulus, aamiin. Berharap banget 1000000%, lho ini. Masih tetap dengan aktivitas mencari pasien, diskusi dengan dokter, membuat gigi palsu, dan segala hal mengenai dunia itu. Kadang malas juga sering datang bila di PHP (pemberi harapan palsu) sama pasien, kadang juga sedih ketika pasien sudah datang tapi ternyata dosen jaga ga masuk. Giliran semangat-semangatnya harus berhadapan dengan hari libur. Nyesek ga? Tapi, karena sudah terbiasa dan lama-lama jadi kebal, semua dijalani dengan bahagia. Walaupun sebenarnya dalam hati kesal banget. Seperti selalu dihantui dengan pertanyaan "KENAPA GUE PILIH MENJADI DOKTER GIGI? KENAPAAAAA?" Bisa jawab, gak? Karena kamu gak lulus di jurusan yang kamu idamkan?

Menjadi dokter gigi itu sebenarnya pilihan. Jadi untuk apa menyesal? Sejauh ini, setelah aku pikir, ternyata alhamdulillah aku bisa masuk di jurusan ini. Bisa membantu banyak orang dengan keluhan gigi mereka yang selalu diabaikan dan diperhatikan setelah sakit. Aku kadang merasa kesal dengan pasien yang mengabaikan kesehatan gigi dan mulutnya. Apalagi datang saat giginya sudah bengkak atau sakit.

Jadi, untuk teman-teman yang ga mau sakit gigi, tolong dirawat, ya. Jangan dicuekin mulu.
Oh iya, sekian dulu, ya. Aku harus istirahat dulu karena besok bakal menjadi hari paling melelahkan di RSGM.

Ika

Kamis, 01 Desember 2016

Trip to Nusa Penida Island Part 2

Hai, guys. Sudah desember aja, ya. Akhirnya bisa muncul dan nulis lagi. Maaf, ya, kemarin banyak kesibukan yang harus diselesaikan. Gue harus ikut PBL dulu selama 10 hari di Desa Kema, lalu ada acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional, dan juga harus verifikasi nilai akhir semester. Jadi belum sempat ada waktu untuk menulis. Ada faktor lain juga seperti harus sibuk mengurus urusan di rumah sakit dan tentunya...... malas! Jangan ditiru, ya, malasnya hehe 😀.
Jadi, kali ini gue harus melanjutkan cerita pengalaman liburan gue ke Nusa Penida. Kayaknya postingan part 1 nya dari bulan Agustus yang ini. Gue baru bisa melanjutkan ceritanya sekarang hehe 😂.

Keesokan harinya, Kamis, 14 Juli sekitar pukul 07.00 WITA, kami mulai bersiap-siap lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug atau biasa dikenal dengan Broken Beach dan ke Angel's Billabong. Kami keluar dari penginapan sekitar pukul 08.00 dan masih mampir makan pagi dulu di warung makan sewaktu balik dari Pantai Atuh. Setelah makan, kami langsung mengaktifkan GPS kembali dan google maps untuk mengarah ke arah yang dituju. Sekali lagi jalannya berbatu, berlubang, berkerikil, menanjak, dan berjurang. Tapi tetap disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Gunung, pantai, dan udaranya belum terkontaminasi dengan asap kendaraan. Hanya saja karena sebelumnya sudah banyak menanjak dan ga olahraga juga, jadi kaki sering keram di atas motor karena harus menahan diri dari goncangan lubang di jalan. Sayangnya gue ga sempat foto pemandangannya karena sibuk melihat jalan di google maps.

Kami pun sampai ke Pasih Uug sekitar pukul 09.30. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Seperti biasa karena baru melihat pemandangan yang indah, pastinya so excited dan ga nyangka kalau Tuhan begitu sempurna menciptakan dunia ini. Dan kita manusia hanya seperti debu yang begitu kecil. Masya Allah. Kami pun langsung mengabadikan gambar seperti di bawah ini 😀

inilah pantai yang disebut Broken Beach karena tebingnya bolong di tengah.



coba contohkan gaya yang gue dan Rama lakukan di seberang sana haha :p






coba lihat di belakang gue. tepat di belakang kaki gue berpijak untuk mengambil gambar ini. ujung tebing dan bawahnya udah air laut. ga ada pembatas sama sekali. ngeri juga selama gue dan teman-teman berfoto di pinggir tebing ini haha.




















Kami sangat menikmati pemandangan di Pasih Uug saat itu. Pantai kedua terindah setelah Pantai Atuh yang gue lihat.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Angel's Billabong. Tempatnya berdekatan dengan Pasih Uug. Hanya berjalan sekitar 5 menit dan sampailah ke tempatnya. Ini foto selama perjalanan ke Angel's Billabong,

ini gunanya jalan bareng pacar. selain punya teman jalan dan lain-lain, bisa juga minta tolong bawain tas ransel yang berat haha :p

wajah gue ga nyantai banget karena cahaya matahari yang silau. inilah jalan menuju Angel's Billabong. masih tetap ada batu besarnya.


Menurut pengalaman gue, trip ke Nusa Penida ini khususnya harus pakai sepatu atau sendal tracking. Karena medan jalannya parah. Kalau pakai sendal biasa juga boleh tapi harus berhati-hati karena kakinya bisa merasakan tajamnya batu atau kerikil yang kita injak. Yah, ujung-ujungnya ga nyaman juga sebenarnya.

air di belakang gue ini air pantai yang dibawa ombak naik ke atas tebing. sayangnya gue ga sempat foto jarak jauh dan tempat seluruhnya karena buru-buru ke spot yang dituju :p

and here we are. yeay






















 Inilah Angel's Billabong. Tempat yang cocok untuk melihat sunset kata penduduk-penduduk di Nusa Penida. Sayangnya kami datang pagi bukan sore menjelang malam. Jadi ga bisa lihat sunset nya langsung. Konon katanya kalau ke tempat ini harus hati-hati banget karena ombaknya bisa datang kapan saja dan masuk ke lorong kecil tepat di belakang kami ini. Perbatasan ke bagian luar lautnya ga ada sama sekali seperti yang kalian lihat di belakang dengan cukup jelas, ya. Jadi kalau mau foto-foto disarankan jangan mendekati ujung perbatasannya karena takutnya ombak bisa datang dengan kencang dan bisa terbawa arus. Sudah pernah ada korban juga, sih, katanya. So, tetap hati-hati, ya 😗.

ini Rama yang sempat turun ke bawah. katanya penasaran dengan spot dari bawahnya. tempat turunnya seperti yang kalian lihat bule di belakang sana haha.

spot di bawah emang bagus banget. yang air warna biru di belakang sana sudah air lautnya tadi yang gue jelasin.

Rama ngajak gue, Titin, dan Putri untuk turun ke bawah. Tapi kita ga sanggup karena bebatuan untuk turun lumayan tajam. Gue tadinya juga mau turun banget, tapi karena kaki gue udah keram, pakai celana kain juga, sandal jepit yang nantinya bisa putus, jadi gue memutuskan untuk menikmati pemandangannya dari atas tebing saja.











Tadinya di bawah sebelum Rama naik ke atas tebing, tiba-tiba ombak datang. Untungnya dia sudah selesai foto-foto. Alhamdulillah juga ombak yang datang tidak terlalu besar walaupun sudah sempat bikin kita panik banget. Air ombak yang datang hanya sebatas lututnya Rama. Jadi yang basah hanya ujung celana nya saja. Setelah itu dia langsung naik secepat kilat ke atas. Namun, beberapa menit setelah dia naik, ombak yang datang lebih besar dari sebelumnya.
Bayangin saja kalau kita sedang asik berenang terus tiba-tiba ombak datang kayak tadi. Panik, ga? hahaha. Tapi keren ombaknya. Kereeeeen banget. Dijamin kalian pasti akan ketagihan balik lagi kalau sudah pernah ke sana.

keren, kan. pemandangannya?












Setelah asik melihat pemandangan di Angel's Billabong, kami berempat kemudian memutuskan untuk segera pulang. Kami harus menuju pelabuhan Buyuk untuk balik ke Sanur dengan speed boat. Kami memutuskan untuk melewati jalan baru yang kebanyakan dilewati para wisatawan. Karena jalan yang kami lewati sewaktu pergi ternyata jalan yang belum upgrade dari google maps, maybe hahaha. Jalannya rusak parah, kebanyakan ketemu sama warga yang hendak pergi berkebun, dan anak sekolahan. Justru kami jarang berpapasan dengan para wisatawan lain, tapi sampainya di Pasih Uug wisatawannya banyak. Walaupun kami sempat salah jalan, syukurlah kami tidak tersesat dan tetap disuguhkan dengan pemandangan yang indah hehehe. Kami pun bertanya kepada warga setempat jalan yang semestinya dilewati itu yang mana.

Saat di perjalanan, gue dan Rama berhenti di pertigaan jalan untuk menunggu Putri dan Titin yang berada di belakang. Maklum, yang pegang google maps gue, jadinya kita nunggu dulu biar mereka ga salah arah. Sambil menunggu mereka, gue dan Rama ga sengaja lihat papan bertuliskan arah ke Crystal Bay. Tadinya tempat ini tidak masuk daftar destinasi kita. Namun, setelah Putri dan Titin sampai di pertigaan, kami berdiskusi dan akhirnya setuju untuk ke Crystal Bay dulu karena mumpung jaraknya tidak terlalu jauh dan sudah di Nusa Penida. Hanya sekitar 10 menit menuju Crystal Bay dari pertigaan itu. Maaf, ya, gue ga tau nama lokasi nya saat itu hehehe. Sesampai di sana, kami langsung memarkir motor dan hendak menuju bibir pantainya. Ternyata kenapa dinamakan Crystal? Karena pasir lautnya seperti pasir yang biasa kalian lihat. Kalau disinari cahaya matahari otomatis akan menyala seperti kristal. Itulah kenapa dinamakan Crystal Bay (ini, sih, karena menurut logika gue aja hahaha). Kami hanya meluangkan waktu sedikit di sana dan berfoto,

gue ingat banget waktu lagi foto dengan pose kayak gini, sumpah mataharinya terik banget. demi mendapatkan lighting yang bagus, harus benar-benar maksimal. saat itu pukul 12.30.

ini foto satu-satunya kami berempat di Crystal Bay.






















Nah, tidak hampir 20 menit setelah foto-foto, kami langsung melanjutkan perjalanan ke pelabuhan biar ga ketinggalan boat nya yang jadwal keberangkatannya jam 3 sore. Jarak tempuh ke pelabuhan juga sama yaitu 1 jam. Sesampai di pelabuhan, ternyata jadwal keberangkatan jam 3 sore sudah full. Kita sempat bingung banget waktu itu.  Karena jadwal berikutnya yaitu besok pagi. Sedangkan kita harus segera balik karena yang pertama,
1. kita ga bawa baju lebih karena sisanya ditinggal di hotel. Jadi, sewaktu ke Nusa Penida, kita hanya menyediakan 2 pasang baju keluar dan baju saat istirahat kemarin. Ga lihat, tuh, kita hanya bawa tas ransel? 😋
2. rencana trip kita buat besoknya nanti bakal kacau dan destinasi akan berubah. Sayang banget kan sudah ke Bali tapi ga ke semua tempat wisatanya.

Nah, kami mengambil jalan keluar untuk pergi bertanya dan memastikan apakah memang boat nya sudah tidak ada yang mau berangkat lagi? Tapi, tiba-tiba ada Bli yang datang dan menawarkan diri mengantar kami ke pelabuhan lainnya. Gue lupa nama pelabuhannya apa. Kami berempat langsung naik mobilnya dan diantarlah kami di tempat tersebut. Sesampai di sana, loket pembayarannya belum buka. Syukurlaaaaah. Kami segera mengantri agar tiba waktunya dibuka, kami akan langsung membeli dan masih bisa balik ke Sanur sore itu juga hahaha. Sekitar hampir 10 menit menunggu, akhirnya loketnya dibuka. Kami langsung membeli dengan keberangkatan jam setengah 4 sore. Sambil menunggu boat nya datang, gue berinisiatif membeli snack cokelat dan minuman agar nantinya kalau mabuk laut bisa dinetralisir sama yang manis-manis. Saat itu, gue berpikir bahwa akan rempong dan memalukan jika nantinya gue bakal muntah hahaha.
Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya boat yang akan kami tumpangi sudah datang dan langsung bisa naik. Kami berempat langsung mengambil tempat duduk di depan karena di belakang sudah dipenuhi banyak orang. Herannya, beberapa kursi di tengah boat kosong. Sebelum boat nya berangkat, kita selfie dulu.












Tahu, ga, apa yang terjadi setelah selfie ini? Sebenarnya gue juga ga tahu harus menjelaskan dengan kalimat seperti apa. Karena selain kalimat, ekspresi untuk mengungkapkan jauh lebih kena haha. Jadi, setelah selfie ini, boat nya terombang-ambing oleh ombak besar yang berlawanan arah dengan boat nya. Sumpah, pengalaman kedua naik speed boat dan langsung dikawal dengan perjalanan yang ekstrim. Sontak gue dan Putri langsung teriak saat itu. Hanya suara kami berdua. Menurut lo ga memalukan? Saat kejadian itu, saraf malu gue ga muncul sama sekali. Bodoh amat orang dalam boat mau bilang gue sama Putri lebay, tapi emang sumpah mengerikan banget. Hidup dan mati gue rasanya sudah diujung tanduk saat itu. Bukan hanya sekali, tapi ombak besar yang datang itu berkali-kali. Sampai-sampai gue menyerah, rasanya pengen turun (tapi mau kemana? Berenang ke laut?). Mesin boat nya sampai berapa kali dimatikan saat berlawanan dengan ombak yang paling besar. Gue sudah minta tolong ke Rama untuk ajak ngobrol apapun biar ga penting asal bisa mengalihkan pikiran dan rasa tegang saat itu. Nahkoda nya juga sering lihat-lihat ke arah gue dan Putri, mungkin dia baru saja melihat adegan lebay di boat nya selama dia bekerja haha. Tapi beneran, saat itu cuacanya juga mendung, udah sore dan tentunya air laut sudah pasang, gimana rasa khawatir gue ga memuncak. Herannya, orang-orang di belakang kita ga ada yang panik satu pun. Setelah gue dan Putri amati, mungkin sepertinya kita salah mengambil tempat duduk. Harusnya duduk di belakang agar goncangan boat yang melewati ombak ga terlalu berasa. Pantas saja, sebelum naik boat para penumpang yang lain dengan langkah cepat langsung mengambil tempat duduk di belakang. Buat new traveller ini mungkin hal yang penting banget biar kalau next travelling sudah lebih paham hahaha.

Si Titin, teman cewek yang satunya itu lebih aneh lagi. Dia malah ga ada takut-takutnya sama sekali. Justru dia ketiduran. Setelah selfie dia tidur dan bangun saat boat nya sudah sampai di Sanur. Jarak tempuhnya lebih cepat hanya sekitar 40 menit dari boat yang kita tumpangi pas ke Nusa Penida. Hanya sekitar 40 menit tapi berasa berjam-jam saking tegangnya. Coba kalau gue ga ada takut-takutnya kayak Titin. Mungkin gue akan tetap mual dan pusing hahaha. Eh, iya, saking takutnya gue sama ombaknya, snack cokelat yang dibeli sudah ga dimakan dan gue ga mual sedikit pun hahahahaha. Tapi alhamdulillah, boat nya sampai dengan selamat di Sanur.

Kami berempat langsung turun dan mengarah ke jalan utama untuk menyewa mobil balik ke hotel. Tapi tawaran yang ditawarkan mahal dan kami menolak. Jadi kami memutuskan ke KFC dulu buat makan siang yang tertunda dan makan sore hampir malam sambil memikirkan kita mau naik kendaraan apa untuk sampai ke hotel. Sambil makan, akhirnya gue langsung men download aplikasi Grab. Nah, setelah makan barulah kita order. Yah, payment nya ga terlalu mahal juga, kok. Lumayan buat kami patungan berempat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Setiba di hotel kami langsung mandi lagi dan bersiap-siap ke Beachwalk. Sekedar jalan-jalan sekalian mendiskusikan kemana tempat yang akan dituju besok. Gila, ya, ga ada capek-capeknya haha. Tapi seru! Sangaaaaaaaaaaat seru!
Kita sampai di Beachwalk sudah menunjukkan pukul 20.00 dengan menyewa sepeda motor lagi yang sudah tersedia dari hotel tempat kami menginap. Area Kuta emang ramai banget dan dipenuhi banyak turis. Mata gue sampai ga bisa melirik lama ke satu tempat yang baru karena harus diganti sama tempat baru yang lain. Kami berempat nongkrong di taman atas Beachwalk. Gue ga tahu istilah taman itu apa kalau di sana. Intinya, yah, di situ. Kami mendiskusikan untuk menyewa mobil selama kami di Bali agar lebih mudah kemana-mana. Kami mencari tempat sewa mobil di Bali lewat situ internet. Setelah dapat, kami menyewa mobil yang bisa berisi 4 orang. Untuk menghemat uang, kami menyewa mobil tanpa sopir biar lebih bebas aja. Setelah fix, barulah ditelfon, janjian mobilnya mau diantar dimana dan tinggal pakai sampai hari yang ditentukan. Setelah fix mobil, lalu dilanjutkan dengan tempat tujuan kami. Destinasi berikutnya yaitu ke Ubud dan Kintamani. Yeay! (nanti bakal gue share juga ceritanya 😚).

Setelah selesai diskusi, kami langsung memutuskan balik ke hotel untuk istirahat. Capeknya baru berasa saat itu juga dan pengen cepat balik hotel.



kami berempat sebelum balik ke hotel.





















Kami balik ke hotel saat itu sudah pukul 22.00. Sampai di hotel langsung istirahat ga pakai cerita-cerita atau gosip-gosipan ala cewek-cewek hahaha.

Seru banget perjalanan hari itu. Balik dari Nusa Penida, banyak membawa pengalaman baru. Selain trauma karena ombaknya, kami sangat bersyukur karena sudah melihat ciptaan Tuhan yang indah banget. Dijamin teman-teman pasti akan ketagihan balik lagi.

Next story, bakal gue share lagi, ya.
Perjalanan kami ke Ubud dan Kintamani. Stay tuned.

Ika.
 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates