Jumat, 10 Februari 2012

Kolong Langit

Mereka bertelanjang kaki, membiarkan telapak mungil mereka bercengkrama dengan tanah dan genangan air keruh yang menghiasi di beberapa tempat di badan setapak itu. Mereka berlari berkejar-kejaran di setapak sempit berbahan dasar tanah yang menjulur jauh dan membelah hamparan padi yang kian menguning.

Sawah yang beratap kanvas langit dengan kolaborasi warna dasar biru dan warna putih yang berasal dari gumpalan-gumpalan awan membuat suasana menjadi sangat kontemlatif. Ditambah orkestra yang berasal dari perpaduan suara kaleng-kaleng bekas yang dirangkai diantara orang-orangan sawah dan suara gesekan mesra antara daun padi yang satu dengan yang lain menjadi soundtrack apik kala itu.

Sawah menjadi tempat bermain favorit anak-anak kecil di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Termasuk Sukma dan Gendis. Banyak hal yang bisa mereka lakukan disana, seperti lomba mencari walang sangit, bermain lempar belet, ataupun sekedar membunyikan kaleng-kaleng untuk mengusir burung emprit.

"Ayok ndang mrene, Gendis! duduk sini tho disebelahku", teriak Sukma yang sudah dulu duduk manis di tanggul sawah.

"Iyo..iyo.. Aku mrono iki, sabar tho!" balas Gendis sambil berlari kearah Sukma dan menenteng sandal jepitnya.

"Dis, Aku punya hadiah buat kamu, iki gaweanku dhewe", ucap Sukma sembari memberikan kotak kecil berwarna coklat masak.

"Opo iki?", tanya Gendis singkat setelah membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi ratusan uricane kertas warna-warni.

"Iki uricane, uricane kertas sing tak gawe dhewe. Kata Mbakku, setiap satu uricane kertas itu mewakili satu permohonan kita. Aku sengaja nggawe ratusan uricane warna-warni tapi hanya untuk satu permohonanku", jelas Sukma sambil menyunggingkan senyum manisnya.

"Opo tho permohonanmu? Lha iki kok gawe Aku?", tanya Gendis.

"Iyo, permohonanku cuma satu. Semoga persahabatan kita langgeng yo, sampe tuek", jawab Sukma.

Mereka serentak tertawa dikolong langit sore itu.


Sembari menikmati suasana sore di bawah gunung Kidul itu, Sukma dan Gendis masih tetap nyengir berdua dengan pernyataan yang di ucapkan Sukma barusan.

"Piye toh koe ngomong gitu? Kamu udah gak mau putus sama aku yah?" Tanya Gendis sambil ngeledek Sukma.


"Lha, wong aku ama koe itu udah hidup sama-sama dari kecil toh, kita dua itu udah tahu tabiat masing-masing juga kok." Jawab Sukma dengan nada mulai kesal.


"Sabar toh neng, wes aku cuma becanda kok. Iyooo, mudah-mudahan persahabatan kita gak putus di tengah jalan, tengah badai, tengah angin tornado. . ."


"Iyoo, iyo, tak ngerti maksud koe." Sambung Sukma yang memotong pembicaraan Gendis.


Saat matahari yang akan segera terbenam, mereka berdua hendak pulang ke rumah masing-masing. Rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermain.


"Besok sore kita ke sini lagi yo Gendis. Kita main-main lagi." Teriak Sukma setelah mereka berdua mulai berpencar untuk menuju rumah-rumah masing-masing.


"Sip. Tak jemput koe di rumah yoo." Jawab Gendis teriak juga.

Keesokan harinya saat matahari tidak seterik panasnya jam 12, kira-kira pukul 3 sore, Gendis pun hendak datang ke rumah Sukma untuk menjemputnya ke sawah lagi. Gendis yang sore itu membawa sebuah kotak kecil berwarna hijau muda yang akan diberikannya kepada sahabatnya itu. Di pikirannya terlintas bahwa dia harus memberikan sesuatu kepada sahabatnya karena pernyataan Sukma yang membuatnya lebih yakin bahwa Sukma lah nanti yang akan menjadi sahabat terindah dan selamanya.

"Assalamu'alaykum. Sukmaa, oh Sukmaa." Panggil Gendis ala nada Upin-Ipin.

"Wa'alykumsalam. Nak Gendis. Ayo masuk dulu nak." Jawab Maknya Sukma sambil mempersilahkan Gendis untuk masuk ke dalam rumah Sukma.

Rumah yang terbuat dari kayu lapis dan atap yang di tutupi dengan seng bekas milik tetangga yang tidak dibutuhkan lagi. Lantai yang bersentuhan langsung dengan tanah dan pembatas kamar yang hanya di batasi dengan kain bekas. Kehidupan yang di bilang tidak berstandar internasional bahkan nasional ini memang sangat membuat Sukma dan Ibunya tetap hidup di tempat itu dengan modal kebahagiaan. Mereka tetap semangat untuk melanjutkan kehidupan dengan target bahwa, "akan ada tempat yang indah setelah kehidupan ini."

"Sukma mana Mak?" Tanya Gendis.

"Sukma di kamar. Dia lagi sakit nak Gendis." Jawab Mak dengan nada sedih.

"Sakit apa Sukma, Mak? Terus udah minum obat belum?" Tanya Gendis yang tiba-tiba panik.

"Gak tahu nak Gendis. Mak juga baru tahu Sukma sakit setelah dia meringis-meringis kedinginan. Pas Mak pegang ternyata badannya panas sekali." Jawab Mak sedih.

"Astaga, Sukma demam Mak. Ayo kita bawa ajah dia ke Puskesmas." Ajak Gendis buru-buru.

"Nak Gendis, Mak bukannya gak mau bawa Sukma ke Puskesmas, Mak juga gak mau di meringis terus. ."

"Sudahlah, bair Gendis yang biayain. Ayo cepat bawa Sukma ke Puskesmas Mak." Gendis yang memotong pembicaraan Mak dan langsung menuju kamar Sukma untuk di bawa ke Puskesmas.

Sesampai di Puskesmas, Gendis langsung membawa Sukma masuk ke ruang periksa untuk menangani kesehatan Sukma yang mulai tidak stabil. Dengan harap-harap cemas Gendis dan Mak Sukma menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Perawat dan Dokter.
10 menit kemudian.

"Keluarga Sukma." Panggil perawat itu.

Sontak Gendis dan Mak Sukma langsung berdiri dan menghampiri si Perawat.

"Piye toh keadaannya Sukma Sus?" Tanya Maknya cemas.

"Sukma cuma sakit ringan kok Bu. Dia cuma demam biasa. Sistem kekebalan tubuhnya emang lagi melemah, makanya virus mudah masuk dan membentuk satu penyakit. Tapi Dokter udah ngasih dia obat kok Bu." Terang si Perawat.

"Alhamdulillah. Syukurlah Sukma tidak sakit parah." Lanjut Gendis dengan nada  lega.

Malam itu di rumah Sukma, saat ia mulai merasa baikkan, tiba-tiba Gendis mendatanginya lagi dengan membawa kotak yang di bawanya tadi sore.

"Hai sahabatku. Udah merasa mendingan kan?" Tanya Gendis peduli Sukma.

"Iya, alhamdulillah udah sedikit mendingan dari tadi sore Dis. Aku berterima kasih banget sama koe toh Dis. Kamu udah membantu biaya pengobatanku. Kamu baik sekali." Jawab Sukma dengan nada yang masih lemas.

"Iyoo, kita kan sahabatan. Aku gak mungkin biarin sahabatku sakit." Gendis meyakinkan lagi.

Tiba-tiba Gendis langsung teringat atas kotak yang dia bawa barusan.

"Oh yah, aku punya sesuatu buat kamu." Gendis langsung mengeluarkan kotak dari tas kecilnya yang dia bawa itu.

"Opo iki Dis?" Tanya Sukma penasaran.

"Buka ajah." Gendis menyuruh Sukma.

"Astagaa, Gendis. Kamu sadar kan ngasih beginian?" Tanya Sukma kaget dan tidak menyangka kalau Gendis telah memberikannya sebuah perhiasan cincin emas.

"Lha, sadar toh Suk. Masa gak sadar sih. Aku mau cincin itu kamu pakai sebagai tanda persahabatan kita. Pasangannya juga ada sama aku kok. Persahabatan yang akan kita rajut untuk selamanya." Jelas Gendis dengan senyuman yang keluar dari wajahnya.

"Gendis. Makasih banyak. Matur nuhun Dis. Kamu memang sahabatku, sahabatku sampe tuek, sampe mati." ucap Sukma sambil mengeluarkan air mata dan memeluk Gendis.


(Tulisan kolaborasiku @ikachibii bareng @crystalzizahh)

4 komentar:

Arian Silencer mengatakan...

saya blm selesai juga nulisnyaaaaa :((, susah juga ternyata nulis duet :(

Rizka Herlina mengatakan...

hehe, semangat. pasti selesai kok.
cari pengalaman baru itu seru :)

myalizarin mengatakan...

Bagus! :D

Cuma sayang, mana footnote-nya nih. Ada yang ga bisa dimengerti :(

Rizka Herlina mengatakan...

makasih :D

emang sengaja gak pake footnote-nya. segitu ajah ceritanye mb. hihih.

Posting Komentar

 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates