Kamis, 01 Desember 2016

Trip to Nusa Penida Island Part 2

Hai, guys. Sudah desember aja, ya. Akhirnya bisa muncul dan nulis lagi. Maaf, ya, kemarin banyak kesibukan yang harus diselesaikan. Gue harus ikut PBL dulu selama 10 hari di Desa Kema, lalu ada acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional, dan juga harus verifikasi nilai akhir semester. Jadi belum sempat ada waktu untuk menulis. Ada faktor lain juga seperti harus sibuk mengurus urusan di rumah sakit dan tentunya...... malas! Jangan ditiru, ya, malasnya hehe 😀.
Jadi, kali ini gue harus melanjutkan cerita pengalaman liburan gue ke Nusa Penida. Kayaknya postingan part 1 nya dari bulan Agustus yang ini. Gue baru bisa melanjutkan ceritanya sekarang hehe 😂.

Keesokan harinya, Kamis, 14 Juli sekitar pukul 07.00 WITA, kami mulai bersiap-siap lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pasih Uug atau biasa dikenal dengan Broken Beach dan ke Angel's Billabong. Kami keluar dari penginapan sekitar pukul 08.00 dan masih mampir makan pagi dulu di warung makan sewaktu balik dari Pantai Atuh. Setelah makan, kami langsung mengaktifkan GPS kembali dan google maps untuk mengarah ke arah yang dituju. Sekali lagi jalannya berbatu, berlubang, berkerikil, menanjak, dan berjurang. Tapi tetap disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Gunung, pantai, dan udaranya belum terkontaminasi dengan asap kendaraan. Hanya saja karena sebelumnya sudah banyak menanjak dan ga olahraga juga, jadi kaki sering keram di atas motor karena harus menahan diri dari goncangan lubang di jalan. Sayangnya gue ga sempat foto pemandangannya karena sibuk melihat jalan di google maps.

Kami pun sampai ke Pasih Uug sekitar pukul 09.30. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Seperti biasa karena baru melihat pemandangan yang indah, pastinya so excited dan ga nyangka kalau Tuhan begitu sempurna menciptakan dunia ini. Dan kita manusia hanya seperti debu yang begitu kecil. Masya Allah. Kami pun langsung mengabadikan gambar seperti di bawah ini 😀

inilah pantai yang disebut Broken Beach karena tebingnya bolong di tengah.



coba contohkan gaya yang gue dan Rama lakukan di seberang sana haha :p






coba lihat di belakang gue. tepat di belakang kaki gue berpijak untuk mengambil gambar ini. ujung tebing dan bawahnya udah air laut. ga ada pembatas sama sekali. ngeri juga selama gue dan teman-teman berfoto di pinggir tebing ini haha.




















Kami sangat menikmati pemandangan di Pasih Uug saat itu. Pantai kedua terindah setelah Pantai Atuh yang gue lihat.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Angel's Billabong. Tempatnya berdekatan dengan Pasih Uug. Hanya berjalan sekitar 5 menit dan sampailah ke tempatnya. Ini foto selama perjalanan ke Angel's Billabong,

ini gunanya jalan bareng pacar. selain punya teman jalan dan lain-lain, bisa juga minta tolong bawain tas ransel yang berat haha :p

wajah gue ga nyantai banget karena cahaya matahari yang silau. inilah jalan menuju Angel's Billabong. masih tetap ada batu besarnya.


Menurut pengalaman gue, trip ke Nusa Penida ini khususnya harus pakai sepatu atau sendal tracking. Karena medan jalannya parah. Kalau pakai sendal biasa juga boleh tapi harus berhati-hati karena kakinya bisa merasakan tajamnya batu atau kerikil yang kita injak. Yah, ujung-ujungnya ga nyaman juga sebenarnya.

air di belakang gue ini air pantai yang dibawa ombak naik ke atas tebing. sayangnya gue ga sempat foto jarak jauh dan tempat seluruhnya karena buru-buru ke spot yang dituju :p

and here we are. yeay






















 Inilah Angel's Billabong. Tempat yang cocok untuk melihat sunset kata penduduk-penduduk di Nusa Penida. Sayangnya kami datang pagi bukan sore menjelang malam. Jadi ga bisa lihat sunset nya langsung. Konon katanya kalau ke tempat ini harus hati-hati banget karena ombaknya bisa datang kapan saja dan masuk ke lorong kecil tepat di belakang kami ini. Perbatasan ke bagian luar lautnya ga ada sama sekali seperti yang kalian lihat di belakang dengan cukup jelas, ya. Jadi kalau mau foto-foto disarankan jangan mendekati ujung perbatasannya karena takutnya ombak bisa datang dengan kencang dan bisa terbawa arus. Sudah pernah ada korban juga, sih, katanya. So, tetap hati-hati, ya 😗.

ini Rama yang sempat turun ke bawah. katanya penasaran dengan spot dari bawahnya. tempat turunnya seperti yang kalian lihat bule di belakang sana haha.

spot di bawah emang bagus banget. yang air warna biru di belakang sana sudah air lautnya tadi yang gue jelasin.

Rama ngajak gue, Titin, dan Putri untuk turun ke bawah. Tapi kita ga sanggup karena bebatuan untuk turun lumayan tajam. Gue tadinya juga mau turun banget, tapi karena kaki gue udah keram, pakai celana kain juga, sandal jepit yang nantinya bisa putus, jadi gue memutuskan untuk menikmati pemandangannya dari atas tebing saja.











Tadinya di bawah sebelum Rama naik ke atas tebing, tiba-tiba ombak datang. Untungnya dia sudah selesai foto-foto. Alhamdulillah juga ombak yang datang tidak terlalu besar walaupun sudah sempat bikin kita panik banget. Air ombak yang datang hanya sebatas lututnya Rama. Jadi yang basah hanya ujung celana nya saja. Setelah itu dia langsung naik secepat kilat ke atas. Namun, beberapa menit setelah dia naik, ombak yang datang lebih besar dari sebelumnya.
Bayangin saja kalau kita sedang asik berenang terus tiba-tiba ombak datang kayak tadi. Panik, ga? hahaha. Tapi keren ombaknya. Kereeeeen banget. Dijamin kalian pasti akan ketagihan balik lagi kalau sudah pernah ke sana.

keren, kan. pemandangannya?












Setelah asik melihat pemandangan di Angel's Billabong, kami berempat kemudian memutuskan untuk segera pulang. Kami harus menuju pelabuhan Buyuk untuk balik ke Sanur dengan speed boat. Kami memutuskan untuk melewati jalan baru yang kebanyakan dilewati para wisatawan. Karena jalan yang kami lewati sewaktu pergi ternyata jalan yang belum upgrade dari google maps, maybe hahaha. Jalannya rusak parah, kebanyakan ketemu sama warga yang hendak pergi berkebun, dan anak sekolahan. Justru kami jarang berpapasan dengan para wisatawan lain, tapi sampainya di Pasih Uug wisatawannya banyak. Walaupun kami sempat salah jalan, syukurlah kami tidak tersesat dan tetap disuguhkan dengan pemandangan yang indah hehehe. Kami pun bertanya kepada warga setempat jalan yang semestinya dilewati itu yang mana.

Saat di perjalanan, gue dan Rama berhenti di pertigaan jalan untuk menunggu Putri dan Titin yang berada di belakang. Maklum, yang pegang google maps gue, jadinya kita nunggu dulu biar mereka ga salah arah. Sambil menunggu mereka, gue dan Rama ga sengaja lihat papan bertuliskan arah ke Crystal Bay. Tadinya tempat ini tidak masuk daftar destinasi kita. Namun, setelah Putri dan Titin sampai di pertigaan, kami berdiskusi dan akhirnya setuju untuk ke Crystal Bay dulu karena mumpung jaraknya tidak terlalu jauh dan sudah di Nusa Penida. Hanya sekitar 10 menit menuju Crystal Bay dari pertigaan itu. Maaf, ya, gue ga tau nama lokasi nya saat itu hehehe. Sesampai di sana, kami langsung memarkir motor dan hendak menuju bibir pantainya. Ternyata kenapa dinamakan Crystal? Karena pasir lautnya seperti pasir yang biasa kalian lihat. Kalau disinari cahaya matahari otomatis akan menyala seperti kristal. Itulah kenapa dinamakan Crystal Bay (ini, sih, karena menurut logika gue aja hahaha). Kami hanya meluangkan waktu sedikit di sana dan berfoto,

gue ingat banget waktu lagi foto dengan pose kayak gini, sumpah mataharinya terik banget. demi mendapatkan lighting yang bagus, harus benar-benar maksimal. saat itu pukul 12.30.

ini foto satu-satunya kami berempat di Crystal Bay.






















Nah, tidak hampir 20 menit setelah foto-foto, kami langsung melanjutkan perjalanan ke pelabuhan biar ga ketinggalan boat nya yang jadwal keberangkatannya jam 3 sore. Jarak tempuh ke pelabuhan juga sama yaitu 1 jam. Sesampai di pelabuhan, ternyata jadwal keberangkatan jam 3 sore sudah full. Kita sempat bingung banget waktu itu.  Karena jadwal berikutnya yaitu besok pagi. Sedangkan kita harus segera balik karena yang pertama,
1. kita ga bawa baju lebih karena sisanya ditinggal di hotel. Jadi, sewaktu ke Nusa Penida, kita hanya menyediakan 2 pasang baju keluar dan baju saat istirahat kemarin. Ga lihat, tuh, kita hanya bawa tas ransel? 😋
2. rencana trip kita buat besoknya nanti bakal kacau dan destinasi akan berubah. Sayang banget kan sudah ke Bali tapi ga ke semua tempat wisatanya.

Nah, kami mengambil jalan keluar untuk pergi bertanya dan memastikan apakah memang boat nya sudah tidak ada yang mau berangkat lagi? Tapi, tiba-tiba ada Bli yang datang dan menawarkan diri mengantar kami ke pelabuhan lainnya. Gue lupa nama pelabuhannya apa. Kami berempat langsung naik mobilnya dan diantarlah kami di tempat tersebut. Sesampai di sana, loket pembayarannya belum buka. Syukurlaaaaah. Kami segera mengantri agar tiba waktunya dibuka, kami akan langsung membeli dan masih bisa balik ke Sanur sore itu juga hahaha. Sekitar hampir 10 menit menunggu, akhirnya loketnya dibuka. Kami langsung membeli dengan keberangkatan jam setengah 4 sore. Sambil menunggu boat nya datang, gue berinisiatif membeli snack cokelat dan minuman agar nantinya kalau mabuk laut bisa dinetralisir sama yang manis-manis. Saat itu, gue berpikir bahwa akan rempong dan memalukan jika nantinya gue bakal muntah hahaha.
Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya boat yang akan kami tumpangi sudah datang dan langsung bisa naik. Kami berempat langsung mengambil tempat duduk di depan karena di belakang sudah dipenuhi banyak orang. Herannya, beberapa kursi di tengah boat kosong. Sebelum boat nya berangkat, kita selfie dulu.












Tahu, ga, apa yang terjadi setelah selfie ini? Sebenarnya gue juga ga tahu harus menjelaskan dengan kalimat seperti apa. Karena selain kalimat, ekspresi untuk mengungkapkan jauh lebih kena haha. Jadi, setelah selfie ini, boat nya terombang-ambing oleh ombak besar yang berlawanan arah dengan boat nya. Sumpah, pengalaman kedua naik speed boat dan langsung dikawal dengan perjalanan yang ekstrim. Sontak gue dan Putri langsung teriak saat itu. Hanya suara kami berdua. Menurut lo ga memalukan? Saat kejadian itu, saraf malu gue ga muncul sama sekali. Bodoh amat orang dalam boat mau bilang gue sama Putri lebay, tapi emang sumpah mengerikan banget. Hidup dan mati gue rasanya sudah diujung tanduk saat itu. Bukan hanya sekali, tapi ombak besar yang datang itu berkali-kali. Sampai-sampai gue menyerah, rasanya pengen turun (tapi mau kemana? Berenang ke laut?). Mesin boat nya sampai berapa kali dimatikan saat berlawanan dengan ombak yang paling besar. Gue sudah minta tolong ke Rama untuk ajak ngobrol apapun biar ga penting asal bisa mengalihkan pikiran dan rasa tegang saat itu. Nahkoda nya juga sering lihat-lihat ke arah gue dan Putri, mungkin dia baru saja melihat adegan lebay di boat nya selama dia bekerja haha. Tapi beneran, saat itu cuacanya juga mendung, udah sore dan tentunya air laut sudah pasang, gimana rasa khawatir gue ga memuncak. Herannya, orang-orang di belakang kita ga ada yang panik satu pun. Setelah gue dan Putri amati, mungkin sepertinya kita salah mengambil tempat duduk. Harusnya duduk di belakang agar goncangan boat yang melewati ombak ga terlalu berasa. Pantas saja, sebelum naik boat para penumpang yang lain dengan langkah cepat langsung mengambil tempat duduk di belakang. Buat new traveller ini mungkin hal yang penting banget biar kalau next travelling sudah lebih paham hahaha.

Si Titin, teman cewek yang satunya itu lebih aneh lagi. Dia malah ga ada takut-takutnya sama sekali. Justru dia ketiduran. Setelah selfie dia tidur dan bangun saat boat nya sudah sampai di Sanur. Jarak tempuhnya lebih cepat hanya sekitar 40 menit dari boat yang kita tumpangi pas ke Nusa Penida. Hanya sekitar 40 menit tapi berasa berjam-jam saking tegangnya. Coba kalau gue ga ada takut-takutnya kayak Titin. Mungkin gue akan tetap mual dan pusing hahaha. Eh, iya, saking takutnya gue sama ombaknya, snack cokelat yang dibeli sudah ga dimakan dan gue ga mual sedikit pun hahahahaha. Tapi alhamdulillah, boat nya sampai dengan selamat di Sanur.

Kami berempat langsung turun dan mengarah ke jalan utama untuk menyewa mobil balik ke hotel. Tapi tawaran yang ditawarkan mahal dan kami menolak. Jadi kami memutuskan ke KFC dulu buat makan siang yang tertunda dan makan sore hampir malam sambil memikirkan kita mau naik kendaraan apa untuk sampai ke hotel. Sambil makan, akhirnya gue langsung men download aplikasi Grab. Nah, setelah makan barulah kita order. Yah, payment nya ga terlalu mahal juga, kok. Lumayan buat kami patungan berempat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Setiba di hotel kami langsung mandi lagi dan bersiap-siap ke Beachwalk. Sekedar jalan-jalan sekalian mendiskusikan kemana tempat yang akan dituju besok. Gila, ya, ga ada capek-capeknya haha. Tapi seru! Sangaaaaaaaaaaat seru!
Kita sampai di Beachwalk sudah menunjukkan pukul 20.00 dengan menyewa sepeda motor lagi yang sudah tersedia dari hotel tempat kami menginap. Area Kuta emang ramai banget dan dipenuhi banyak turis. Mata gue sampai ga bisa melirik lama ke satu tempat yang baru karena harus diganti sama tempat baru yang lain. Kami berempat nongkrong di taman atas Beachwalk. Gue ga tahu istilah taman itu apa kalau di sana. Intinya, yah, di situ. Kami mendiskusikan untuk menyewa mobil selama kami di Bali agar lebih mudah kemana-mana. Kami mencari tempat sewa mobil di Bali lewat situ internet. Setelah dapat, kami menyewa mobil yang bisa berisi 4 orang. Untuk menghemat uang, kami menyewa mobil tanpa sopir biar lebih bebas aja. Setelah fix, barulah ditelfon, janjian mobilnya mau diantar dimana dan tinggal pakai sampai hari yang ditentukan. Setelah fix mobil, lalu dilanjutkan dengan tempat tujuan kami. Destinasi berikutnya yaitu ke Ubud dan Kintamani. Yeay! (nanti bakal gue share juga ceritanya 😚).

Setelah selesai diskusi, kami langsung memutuskan balik ke hotel untuk istirahat. Capeknya baru berasa saat itu juga dan pengen cepat balik hotel.



kami berempat sebelum balik ke hotel.





















Kami balik ke hotel saat itu sudah pukul 22.00. Sampai di hotel langsung istirahat ga pakai cerita-cerita atau gosip-gosipan ala cewek-cewek hahaha.

Seru banget perjalanan hari itu. Balik dari Nusa Penida, banyak membawa pengalaman baru. Selain trauma karena ombaknya, kami sangat bersyukur karena sudah melihat ciptaan Tuhan yang indah banget. Dijamin teman-teman pasti akan ketagihan balik lagi.

Next story, bakal gue share lagi, ya.
Perjalanan kami ke Ubud dan Kintamani. Stay tuned.

Ika.

Minggu, 02 Oktober 2016

Bukan Puisi

Mentari pagi selalu datang menyapa dengan membawa cerita baru.
Saat itulah aku harus mempersiapkan diri untuk memulai hari itu.
Entah darimana, tapi aku harus siap dan berani.
Hidup tidak segampang yang direncanakan oleh kita, karena Tuhan sudah mengatur itu semua.

Ketika aku hendak berjalan dan menemukan jalan yang sangat terjal, aku sempat putus asa.
Tak ada harapan, tak ada dukungan. Hanya aku sendiri.
Kemana mereka yang selalu ada?
Kemana Tuhan?
Apakah aku harus menyalahkan Tuhan?
Tidak, justru karena Tuhan aku terselamatkan.
Aku mendapat jalan yang lebih baik, karena Tuhan telah memberikan jalan terbaik setelah itu.
Aku bisa bangkit kembali, aku bisa mengatur cerita yang akan kulewati.
Aku sudah bisa mempersiapkan itu semua.

Cobaan, rintangan, keputus asaan selalu datang selama kita masih hidup.
Setiap hari selalu ada masalah baru yang datang.
Sepintarnya kita yang mengatur itu semua.

Hari berlalu.
Aku selalu menjadi aku.
Tak ada hentinya untuk tidak puas dengan segala sesuatu.
Manusia memang selalu seperti itu.

Kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang, kebanyakan orang berkata demikian.
Apa sih kebahagiaan itu dalam artian yang sebenarnya?
Kalau menurutku, kebahagiaan itu ialah bisa melakukan segala sesuatu tanpa harus dipaksakan.
Kenapa?
Karena paksaan kita tak bisa melakukan sesuatu dengan ikhlas.
Paksaan membuat kita melakukan hal yang disukai si pemaksa tanpa dia tau kalau kita terpaksa.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Trip to Nusa Penida Island Part 1

Ada yang sudah pernah ke Pulau Nusa Penida?
Oh, iya. Sudah pernah dengar tentang pulau itu, belum?

Jadi, Pulau Nusa Penida itu ialah pulau yang terletak di samping bawahnya pulau Bali. Ada 3 pulau yang berdekatan, yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Coba buka google maps dan lihat sendiri. Jarak tempuh ke Nusa Penida sekitar 45-50 menit menggunakan speed boat dari pantai Sanur.

Hari itu, Rabu, 13 Juli 2016, saya, Rama, Putri, dan Titin memulai holiday kami (lebih ke adventure sih sebenarnya) dengan mengunjungi Pulau Nusa Penida terlebih dahulu. Kami yang menginap di Hotel Samudera Boutique and Villa yang terletak di Gang Pararaton Utama, No. 8. Jl. Dewi Sri II, Badung, pagi itu langsung bersiap-siap menuju pantai Sanur dengan memesan Go Car terlebih dahulu. Jarak tempuh dari hotel ke Sanur sekitar 30 menit dengan harga 65rb. Setiba di pantai, kami langsung memesan boat terlebih dahulu dengan harga 75 rb/orang lalu mencari tempat makan. Sebelum ke bali, saya sudah dikasih tahu lebih dulu sama tante kalau;
"mencari makan di Bali itu harus serba hati-hati karena bisa saja satu tempat makan berisi makanan yang tidak halal (makanan yang dilarang dalam agama Islam :) )".
Benar sekali, kami sangat susah mencari makan. Sampai akhirnya, kami berhenti di satu warung kecil yang menyediakan nasi campur yang sudah terbungkus. Nenek yang berjaga di warung itu langsung menawarkan nasi yang ia jual. Dia memberikan 3 bungkus nasi kepada kami, padahal di keranjang masih ada tersisa 1 nasi bungkus. Teman saya, Putri, langsung meminta nasi bungkus yang tersisa, tapi si Nenek itu mengatakan bahwa nasi tersebut berisi daging Babi. Sontak kami berempat langsung kaget. Si Nenek pun langsung mengatakan bahwa nasi bungkus yang ia berikan berisi ikan goreng. Kami pun duduk dan mencoba makan karena sudah sangat terpaksa. Tapi saya, tetap saja tidak menghabiskan makanan tersebut (susah ditelan makanannya).

Tidak cukup 5 menit, saya dan Rama beranjak dari warung itu membeli sandal jepit yang bisa dipakai karena tadinya saya memakai sepatu. Dapatlah sandal seperti foto di bawah ini:

saya yang berfoto di depan warung milik si nenek itu.
Pukul 10.00 AM kami langsung dipanggil untuk menaiki boat. Boat nya keren. Ada musiknya dan dalamnya bersih. Saya termasuk yang sangat antusias sekali karena pertama kalinya ke Bali. Melihat segala sesuatu yang baru itu selalu menjadi hal yang amazing banget. Termasuk tahu kalau saat menyeberangi pulau tetap ada signalnya. Luar biasa, Bali.

foto kami di dalam Speed Boat Maruti Express.

kami bersama penumpang lain. wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Selama perjalanan, seperti biasa saya masih excited. Pertama kalinya naik speed boat, ada jaringan pula, adem, tapi tetap saja ujung-ujungnya mabuk laut hahaha. Padahal tadinya saya mengantisipasi dengan tidur. Eh, tetap aja gak mempan. Untungnya tinggal beberapa menit tiba di Penida. Tapi syukurlah, beberapa menit yang kritis itu alias perut sudah sangat tidak mampu untuk membendung keluarnya muntah itu, kami sudah disuguhkan dengan pemandangan Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Jadi perhatiannya tidak terfokus untuk muntah, hehehe.

Setiba di Pelabuhan Buyuk, Nusa Penida, sekitar jam 10:55 AM. Kami langsung menyewa 2 sepeda motor untuk ke Pantai Atuh. Saya dan Rama, Putri dan Titin. Sewa motor dikenakan biaya 75 rb/hari sampai jam 4 sore. Kami langsung mengaktifkan GPS dan menggunakan google maps untuk membantu agar bisa sampai ke Pantai Atuh. Terik matahari saat itu luar biasa sangat panas. Sangaaaaaaaaat. Tapi selama perjalanan, tidak terbesit untuk mengeluhkan panasnya matahari saat itu. Karena rencana kami ke Bali untuk liburan anti mainstream, berpanas-panasan, dan menghabiskan uang yang ditabung hahaha. Kami berempat sangat menikmati perjalanan saat itu. Jalannya memang masih berlubang dan berkerikil, belokkan jalannya sangat terjal. Tapi disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa keren. Pantai yang bersih dan warnanya biru cerah karena disinari oleh matahari, pegunungan yang masih alami, udara yang masih bersih, bau dupa khas yang sangat wangi (padahal saya tidak terlalu suka mencium bau dupa. Tapi di Penida, bau dupanya wangi sekali) serta penduduk yang ramah. Selama perjalanan kami hanya berhenti untuk mengisi bensin, menunggu si Putri dan Titin yang kadang berjalan pelan dengan motor di belakang saya dan Rama (tapi ternyata mereka jatuh dari motor saat menaiki jalan yang belokkannya sangat terjal). Tapi alhamdulillah, walaupun lecet sedikit tapi tidak parah.

kurang lebih suguhan pemandangannya seperti ini.
Kami pun sampai ke Pantai Atuh kira-kira pukul 13.00 PM. Jarak tempuh sekitar 1 jam lebih beberapa menit. Ternyata kami belum sepenuhnya sampai pada pantainya. Kami harus berjalan kaki menuruni bukit untuk sampai di tepi pantai.

kebayang ga, panasnya itu kayak gimana. si Rama sudah duluan ke bawah. ga sabar lihat pantainya katanya. foto ini diambil sebelum kita menuruni bukit. jalannya juga, luar biasa masih alami banget.
foto ini diambil saat kita sedang menuruni bukitnya untuk sampai ke tepi pantai.
ini pemandangan tebing sebelahnya yang nantinya akan kita naiki juga.
Untuk menuruni bukitnya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit. Karena kami bertiga masih berhenti terpesona dengan pemandangannya. Berhenti di tengah jalan untuk mengabadikan lewat foto maupun menambah memori dalam pikiran tentang pemandangan ini.

Akhirnya kita sampai di tepi pantainya. Matahari masih tetap bersinar terang tak kenal lelah. Kami pun tidak menyia-nyiakan waktu untuk bersantai lama. Kami masih memesan minuman soda dingin, duduk sejenak kemudian langsung mengabadikan moment lewat foto, seperti ini;



saya dan Rama.


saya dan Putri.


saya dan Titin.
Setelah menghabiskan waktu sekitar hampir setengah jam untuk foto-foto, duduk bersantai, dan buang air hehe, kami langsung bergegas naik ke tebing sebelahnya untuk melihat panorama pantai yang sesungguhnya dari atas tebing di Nusa Penida. Sebelum naik, saya sudah deg-degan duluan karena melihat tangganya yang tinggi untuk mencapai tangga berikutnya, sangat miring (saya menganggapnya miring karena saya baru sadar bahwa saya takut ketinggian. Setiap menaiki tangga bawaanya bakal jatuh dan jatuhnya tidak tanggung-tanggung langsung ke laut. Itu yang saya takutkan hahaha). Belum 1 menit menaiki tangga tebing saya sudah kewalahan. Sudah ngos-ngosan dan adrenalin mulai menggila. Melihat pemandangan dari atas ke bawah laut justru membuat saya takut tapi ingin sampai ke atas. Bisa diperkirakan bagaimana perasaan seperti itu, guys? hahaha. Bukan hanya saya, Putri juga anaknya takut ketinggian. Jadi kami berdua ngesot menaiki tangga tebing saat itu. Berbeda dengan Titin yang pembawaannya santai, kelihatan seperti tidak capek, tidak takut, dan anak ini apaan sih? hahaha.

kami menyempatkan waktu berfoto di atas tangga tebing. kelihatan, ga, capeknya? Rama mana? Sudah naik lebih dulu dari kami bertiga.
Kami memakan waktu hampir 15 menit untuk sampai di atas tebingnya. Rama, Putri, dan Titin sudah sampai pada puncaknya. Saya? Masih bersandar di pohon kecil karena kecapekan. Masih duduk sejenak, mencari napas yang sebenarnya karena sudah tidak beraturan, jantung rasanya tertinggal di bawah tebing hahaha. Sekitar 10 menitan istirahat, lalu saya bergegas menaiki puncak yang tinggal beberapa langkah untuk bertemu dengan mereka.
Ketika sampai pada puncak tebing, Masya Allah, ciptaan Tuhan memang nyata. Sangat indah sekali. Amazing. Laut dan langitnya yang sangat luas. Tidak ada kata yang saya keluarkan saat itu selain memuji ciptaan-Nya. Sampai saat ini, belum ada pantai atau pemandangan yang bisa mengalahkan indahnya pantai ini.

saya memang agak berantakan di sini karena baru naik dan langsung excited lihat pemandangannya lalu minta difoto.

nah ini saya sudah lebih rapi lagi. walaupun make up sudah luntur dan ga sempat touch up.
 Beberapa menit kami di spot ini, lalu kami berpindah ke spot berikutnya, seperti ini;




betapa luas pemandangannya, bukan?



Setelah asik berfoto, menikmati pemandangannya, kami bergegas turun lagi ke tepi pantai yang tadi. Kali ini tidak takut dan kewalahan lagi karena jalannya sudah menuruni tangga tebing. Tapi tetap, walaupun begitu, masih sempat berhenti sejenak, duduk, lalu berfoto seperti gambar di bawah ini;



Setelah sampai di tepi pantai, para tourist sudah banyak yang datang. Tadinya sebelum kita naik ke tebing hanya 2 orang, sekarang sudah sekitar 6 orang yang berpasangan cewek dan cowok. Kemudian ditambah wisatawan dari dalam negeri yang kira-kira hanya berjumlah tidak lebih dari 20 orang ditambah dengan anak-anak kecil. Kami masih beristirahat lagi di warung kecil milik Bli yang saya tidak tahu namanya. Dia ramah kepada semua pengunjung yang datang. Kami menitipkan barang-barang kami di warungnya sebelum kami naik ke tebing tadi.

kami masih beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menaiki bukit lagi hahaha.
Setelah kami merasa fit kembali, kami langsung melanjutkan perjalanan menaiki bukit yang tinggi. Saya bingung harus bilang bukit atau tebing. Karena kalau bukit, ga mungkin tinggi banget. Kalau tebing, ga kayak tebing yang sebelah. Jadi bingung. Pokoknya itu!
Jadi, seperti biasa. Saya mudah capek kalau naik tangga atau naik bukit. Maklum mungkin faktor umur hahaha. Beberapa menit naik, langsung berhenti. Yaah, sekitar 3 kali berhenti saat itu sampai akhirnya tiba di atas di mana tempat motor kami diparkir. Beruntung tidak ada yang mencuri haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 PM atau jam 4 sore. Tadinya kami berencana untuk menginap di Nusa Lembongan. Tapi setelah memperkirakan waktu, sepertinya tidak akan cukup untuk sampai ke pelabuhan karena boat nya sudah lewat jam yang dijadwalkan. Sedangkan motornya? Motornya kami tambah menjadi 2 hari yang sisa pembayarannya akan dilunasi keesokan harinya saat kami pulang.
Kami pun kembali ke pusatnya Nusa Penida. Saya kurang tahu nama desanya karena tidak sering memerhatikan. Sesampai di pusat kotanya sekitar pukul 17.00 PM, kami langsung mencari tempat makan. Tempat makan yang halal karena sebenarnya kami belum sepenuhnya makan. Sambil mencari tempat penginapan juga, kami menemukan tempat makan yang bertuliskan RM. Muslim. Dengan segera kami mampir di tempat makan tersebut dan langsung memesan makanan. Alhamdulilah. Sembari makan, kami menanyakan tempat penginapan murah di sekitar situ. Si ibu yang punya rumah makan langsung menawarkan tempat penginapan dengan harga yang murah. Si ibu itu sangat ramah kepada kami. Dia menanyakan kami berasal dari mana, berwisata kemana saja saat di Nusa Penida, sampai akhirnya dia memberi tahu tempat-tempat yang banyak dikunjungi wisatawan saat ke Nusa Penida.

Sebelum kami beranjak dari situ, si ibu tersebut memanggil seorang Bli kenalannya yang lewat dengan sepeda motor di depan warung makannya dan meminta tolong untuk mengantar kami ke sebuah penginapan yang dia bilang. Si Bli pun langsung meng-iya-kan dan mengantar kami. Luar biasa sekali penduduk di situ. Mereka bisa tahu para wisatawan yang datang dan kebingungan mencari tempat penginapan hahaha.

Sampailah kami di penginapan tersebut "Mae-mae Beach House" namanya. Seperti rumah mewah yang banyak kamarnya, sih, sebenarnya haha. Harga per kamar sekitar 250rb untuk tidak ber-AC dan 300rb untuk kamar ber-AC. Kami mengambil kamar tanpa AC hanya untuk satu malam saja. Lalu kami langsung beristirahat untuk mempersiapkan diri keesokan harinya. Saat itu sudah pukul 19.00 PM.

Sabtu, 23 Juli 2016

Liburan ke Bali

Seminggu lalu, saya baru balik dari Bali. Pulau yang sudah diidam-idamkan sejak dulu untuk dikunjungi atau lebih tepatnya untuk berlibur. Saya berangkat hari Selasa, 12 Juli 2016 bersama pacar dan sahabat saya. Awalnya saya tidak menyangka bahwa bisa diberi kesempatan untuk ke sana. Saat itu, yang ada dalam pikiran saya hanya bahagia, bahagia, dan bahagia. Bagaimana jika saya sudah menikah? Mungkin akan lebih bahagia lagi karena semua hal yang akan dilakukan sudah halal. haha :p
Tak ada yang lebih menggembirakan dari hari itu. Tak ada yang bisa menggantikan dari kejadian itu. Seakan otak dan hati sedang bekerja sama untuk membuat pikiran dan tubuh saya bahagia dan tetap sehat, alhamdulillah.
Kami sudah lama merencanakan liburan ini. Mungkin dari awal bulan Maret 2016. Saya saja tidak menyangka bahwa rencana itu akan terjadi dan akhirnya sudah lewat. :")

Setiba di Bali, saya dan teman-teman langsung ke hotel untuk check-in. Karena kami sampainya lebih awal dari jam yang sudah ditentukan untuk check-in yaitu jam 02 siang, maka kami rela untuk menunggu saja di hotel. Sekitar, jam 03 sore setelah check-in, kami langsung menyewa motor yang sudah ada layanannya di hotel tersebut untuk jalan-jalan sore. Maklumlah, baru pertama kali ke sana dan kami menggunakan kesempatan untuk jalan-jalan daripada rebahan di tempat tidur. Saat itu, capek menjadi hal yang ditunda. Kami berkomitmen untuk tidur hanya pada saat semua kegiatan seharian selesai dan sudah waktunya untuk istirahat malam hahaha.
Sore itu, kami mau jalan-jalan ke pantai Kuta yang untungnya lumayan dekat dari hotel yang kami tempati. Untungnya hari pertama di sana tidak nyasar karena petunjuk jalan yang sangat membantu walaupun saat itu belum menggunakan GPS. Sepanjang jalan Legian, saya takjub dengan situasinya, keadaannya, orang-orangnya di sana. Seperti bukan di Bali, melainkan di luar negeri haha. Full of bule, lah yaaa. Kepala dan mata saya ga bisa stuck. Dikit-dikit ngadep kiri dan kanan. Toko-toko kecil dan bar yang ada sangat mencuri perhatian untuk sekedar membuka mata dan mulut saya kemudian mengucapkan "waaaahhhh, daebaaaaakk (astaga), wiiiiihhhh, gilaaa ni Bali" itu. Sampai akhirnya, ketika kami hampir mendekati pantai Kuta, saya langsung excited melihat tempat makan yaitu KFC. Saat itu memang perut kami sudah sangat lapar, maka kami langsung menghentikan motor dan masuk ke dalam untuk segera memesan makanan. Setelah makan, kami melanjutkan kembali perjalanan ke pantai yang hanya tinggal beberapa menit saja.


Setelah asik menikmati indahnya pantai, tak terasa sudah pukul 06 sore. Saya baru menyadari bahwa pergerakan matahari tenggelam di sana cukup lambat daripada di Manado. Setelah saya lihat sendiri, ternyata akan benar-benar gelap sekitar pukul setengah 07 atau mendekati jam 07 malam. Wah, saya benar-benar takjub dengan perbedaan waktu di bumi ini. Amazing! Kami pun bergegas ke motor dan melanjutkan perjalanan ke toko-toko kecil sepanjang jalan Legian untuk berbelanja kecil-kecilan. Kami sempat mampir juga di Monumen Bom Bali. Sampai akhirnya kami kembali ke hotel jam 09 malam. Kami masih menyempatkan waktu briefing untuk rencana perjalanan liburan kami di sana ke pulau Nusa Penida. Stay tuned <3

Jumat, 20 Mei 2016

Alat Co Ass yang Sering Raib

Holaaaaaa, lama tak berjumpa lewat blog ini, ya.
Kali ini, saya mau berbagi pengalaman cerita selama masa co ass yang hampir setahun lebih saya jalani. Sudah mau memasuki tahun kedua tapi requirement belum seutuhnya selesai, maklum. DOAKAN! Intinya, co ass gigi itu BEDA sama co ass - co ass yang kalian dengar selama ini.

Saya mau menguraikan beberapa kisah manis dan pahit dengan alat-alat co ass yang sering menghilang dengan sendirinya. Miris!

Beberapa alat co ass yang hilang selama di RSGM.

1. PENA
"Pinjam pulpen sebentar, ya". Siap-siap idup lo miskin karena nantinya lo akan membeli pulpen baru kalau yang dia pinjam sudah hilang. Hilang dalam artian ada lagi teman yang pinjam kemudian si peminjam pertama sudah lupa siapa yang pinjam. Sial banget tuh si pemilik aslinya.

2. UANG
"Pinjam duit lo buat daftar pasien, dong. Dompet gue di dalam tas, terus tas gue di lantai 4". Siap-siap lo bakal jadi penagih hutang sama dia. Untung-untungan kalau dia ingat pas ditagih, kalau, enggak? Bangkrut hidup lo.

3. DIAGNOSTIC SET
"Diagnostikmu ada yang udah steril? Boleh gue pinjam? Nanti gue sterilkan lagi". Tanda-tanda anak malas yang ga sempat nyuci diagnostiknya pas selesai pakai ke pasien. Tipe manusia seperti ini butuh pelatihan khusus, bagaimana caranya untuk membiasakan diri memulai hidup dengan aman, bersih, sopan, santun, dan rapi. Logikanya, ya, kalau misal dia pinjam diagnostik kita karena diagnostiknya belum dicuci atau ketinggalan di kosan nih, bisa jadi nanti dia bisa tunda buat nyuci diagnostik kita. Selain itu, beberapa tipe orang pelupa diagnostiknya di kosan karena:
a. Belum dicuci setiba di kosan
b. Belum disterilkan
c. Mungkin ada salah satu alat yang hilang
d. Sudah steril tapi tasnya terlalu berat jadi diagnostik kita dikeluarin dan dibiarkan saja tanpa merasa bersalah walaupun si pemilik diagnostik membawa pasien saat itu juga
e. Si peminjam PIKUN KRONIS.

4. LECRON
"Pinjam lekron, dong. Punya gue ketinggalan". Sebenarnya itu alasan klasik yang selalu di dengar. Dan si pendengar dengan polosnya meminjamkan tanpa meminta uang jaminan. Coba kalau ada kios khusus peminjaman lekron. Paling juga kios itu bakal bangkrut dengan sendirinya karena co ass terkadang sering lupa untuk mengembalikkan barang yang ia pinjam. MEMALUKAN!

5. SPATULA
"Pinjam spatula, dong. Punya gue hilang, padahal kemarin masih ada". Ga usah banyak berharap, paling juga teman lo sendiri yang ngambil tapi malas ngasih tahu dengan alasan "punya gue juga waktu itu hilang, jadi rasain gimana sakitnya spatula hilang". TEMAN YANG JAHAT.

6. HIGH AND LOW SPEED
Ini dia barang yang paling anti dan mahal kalau dipinjam. Coba tanya ke beberapa teman "punya low speed?" pasti jawabannya "dipinjam Lola". Atau ga "yah, punya gue juga hilang". Alasan yang kedua ini merupakan alasan yang khusus digunakan oleh manusia pemberani mengambil resiko. Saya meyakini bahwa PERKATAAN ADALAH DOA. Kalau misalnya yang dia bilang tadi terkabul, saya angkat tangan, guys.

7. MASIH BANYAK ALAT-ALAT KECIL LAINNYA. 

Akhir kata, mungkin teman kita terkadang menjadi tuyul tanpa sepengetahuan. Tapi ingat, kadang kita juga bakal jadi tuyul tanpa kita sadari. Waspada tuyul!
Hahahahahahaaaa

Kamis, 10 Maret 2016

Kisah Jelita Anak Malang

Banyak orang yang mendeskripsikan bahwa kesedihan itu selalu membawa dampak buruk bagi kehidupan, contohnya seperti sedih yang berakhir dengan bunuh diri. Tragis untuk mengakhiri sebuah kehidupan. Tuhan memberikan kita kesempatan hidup untuk melanjutkan amanah yang diberikan oleh-Nya. Bukan untuk menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan.

Suatu hari, ada seorang anak perempuan yang selalu taat dan berbakti kepada orang tuanya. Ibunya ialah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah bersebelahan dengan rumah kecil mereka. Ayahnya ialah seorang tukang ojek yang keseharian menghabiskan waktu di jalan untuk mencari uang.

Jelita, nama anak perempuan itu. Ia sekarang menginjak umur ke 15 tahun. Ia anak satu-satunya dalam keluarga itu. Jelita ialah anak yang penurut dan sopan. Ia sering membantu ibunya bekerja di rumah tetangganya. Ia tak pernah mengeluh untuk mengerjakan apapun yang diperintah majikannya juga. Sekarang ia sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Suatu ketika, Jelita sedang di rumah bersama ayahnya. Ia selalu disuruh dan dipukul ketika ibunya tidak di rumah. Ayahnya selalu membentaknya hingga ia selalu berdiam diri di kamar mandi karena tidak tahan mendengar teriakkan ayahnya. Saat ibunya datang tepat pukul 10 malam barulah ia bisa keluar kamar mandi dengan alasan "saya baru pulang habis ngerjain PR di rumah Meli, Bu. Makanya baru selesai bersih-bersih", jelasnya ketika baru keluar dari kamar mandi sambil menutup mukanya seakan membersihkan muka yang baru di cuci untuk menutupi matanya yang bengkak karena selesai menangis.

Selama seminggu, sepulang sekolah Jelita selalu dijemput ayahnya untuk menutupi kejahatannya selama di rumah. Sesampai di rumah Jelita harus dimarahi dan diancam terlebih dahulu sehingga ia sering tidak makan karena harus mengurung diri di kamar mandi hingga ibunya pulang kerja.
Suatu hari, Jelita sakit. Ibunya bahkan tidak masuk kerja untuk mengurusnya di rumah. Badannya panas dan ada bekas pukulan di badannya. Ibunya sangat bingung kenapa badannya bisa sampai memar seperti itu. Jelita tak menjelaskan apapun kepada ibunya karena takut nanti dimarahi ayahnya. Sudah hampir dua minggu Jelita tak kunjung sembuh. Ibunya semakin panik dan bingung harus bagaimana karena tak punya cukup uang untuk membawa Jelita berobat ke rumah sakit. Ibunya khawatir kalau nanti pengobatannya sangat mahal. Ayahnya hanya bisa diam sambil berkata "sudahlah, Bu. Nanti juga paling ia sembuh. Mungkin dibawa ke Puskesmas saja". Namun ibunya masih tetap khawatir karena Jelita semakin parah.

Hingga suatu hari, Jelita meninggal. Penyebabnya selama seminggu ia tidak pernah makan karena harus bersembunyi di dalam kamar mandi. Ia selalu tak sempat untuk makan pagi karena buru-buru ke sekolah sebelum ibunya pergi bekerja dan melarikan diri dari ayahnya sebelum dilarang ke sekolah. Siangnya dijemput dan harus dibentak lagi. Malamnya sudah tak sempat makan karena sudah larut dan dia harus tidur karena sudah mengantuk. Selama di sekolah, Jelita pun tidak membeli jajanan sekolah karena tidak dikasih uang jajan oleh ayahnya. Padahal ibunya sering menitip uang jajannya kepada ayahnya.

Ayahnya hanya bisa terdiam ketika kejadian itu. Ibunya hanya terus menangis dan menyesali karena tidak pernah mengurus anaknya. Ibunya tidak pernah tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ayahnya hanya selalu menyalahkan ibunya karena tidak mengurus Jelita dengan baik.

Rabu, 09 Maret 2016

US

Menurut sebagian orang menganggap bahwa hari ini menjadi hari yang paling bersejarah selama mereka hidup karena telah menyaksikan fenomena yang jarang sekali terjadi yaitu gerhana matahari. Dimana gerhana matahari saat ini telah muncul di bagian negara Indonesia tepatnya pada beberapa titik wilayah Indonesia seperti di Ternate, Palu, Bangka Belitung, Palembang, maupun kota-kota lainnya.
Ada juga yang menganggap bahwa hari ini menjadi hari yang membahagiakan lebih dari melihat langsung terjadinya gerhana matahari karena sang ibu baru saja melahirkan anaknya ke dunia tepat dengan peristiwa sinar matahari yang ditutupi oleh bulan. Mungkin namanya dinamakan Gerhana, Bulan, Hari, maupun Hana.
Sebagian orang juga menganggap bahwa hari ini menjadi hari yang menyedihkan. Entahlah menyedihkan dalam hal apa, tapi soal ini saya tidak akan membahasnya berhubung kalau memikirkan kesedihan ada banyak titik pembicaraan yang akan saya uraikan.

Menurut saya, hari ini biasa saja seperti hari-hari sebelumnya when my boyfriend must to go back to his hometown. Ada rasa sedih seperti biasa yang saya rasakan hehehe. Mungkin terlalu lebay kalau saya menceritakan hal ini. Namun, perempuan mana, sih, yang ga sedih ketika ditinggal pergi sementara oleh pacarnya? :p

Ada banyak cerita yang kita bahas ketika kita saling berjumpa.
Saya mendengar ceritanya, begitu pula sebaliknya.
Ada cerita lucu maupun pengalaman pribadi yang kita bagi bersama.
Dia menceritakan banyak hal mengenai kita, saya, dia, kamu, mereka, yang pernah terlibat dalam skenario yang kita jalani bersama selama kurang lebih lima tahun menjelang enam tahun.
Saya mendengar dengan saksama mengenai cerita itu hingga sepertinya saya kurang percaya namun kaget karena peristiwanya sudah lewat mungkin sekitar tiga atau empat tahun lalu. Tapi, saya mencoba untuk tetap mendengar hingga akhirnya dia selesai menjelaskan semua pertanyaan yang mengganjal di otak saya. Ada rasa kecewa dan sedih. Mau bagaimana lagi kalau kejadiannya sudah lewat. Saya sudah terlalu lelah untuk marah karena stock nya saja rasanya sudah habis hehehe.
Tapi sekarang sudah sekarang. Saya memang orang yang paling susah melupakan sesuatu yang terjadi apalagi itu sudah fatal. Untung saja saya dalam keadaan on mood lah, ya hahaha. Jadinya saya sudah tak terlalu pusing membayangkan hal yang aneh-aneh.
Syukurlah he is a good boyfriend about me, ya. Karena dia bisa mengalihkan pembicaraan menjadi nyaman, tenang, dan ga kaku satu sama lain. Itulah asiknya ngobrol empat mata. Pantas aja programnya Tukul Arwana "Empat Mata" bisa bertahan lama di stasiun TV.



Us is us. Us still us. Us never come back become you and i again. Us always us. Aamiin.

Kamis, 03 Maret 2016

2016

Lama rasanya tidak berbagi pengalaman di sini. Sudah hampir setahun tidak bermain dengan jari-jari maupun otak yang selalu menyuruh untuk menulis apa yang sudah ia pikirkan hanya sekedar mengingat kisah-kisah terindah.

Saya sudah menjalani co-ass selama 3 semester. Banyak pengalaman yang saya dapat termasuk hal-hal menyenangkan maupun menyedihkan. Tak sekedar itu, melainkan pengalaman berbisnis sambil co-ass itu ternyata asik juga. Lumayan buat jajan.

Saya langsung teringat kejadian beberapa tahun lalu, awal-awal saya menulis di blog ini dan selalu ramai dikunjungi orang untuk dibaca maupun selalu capek karena sering di log in. Beberapa cerita yang saya tulis entah itu kisah galau dalam percintaan (ciee) maupun pengalaman saya praktikum di kampus dan cerita-cerita konyol lainnya. Rasanya saya terlalu sibuk untuk hanya membuka website dan menuju blogspot. Saya kangen dengan tulisan-tulisan saya yang dulu, dengan cerita-cerita dimana setelah kejadian rasanya netbook harus saya bawa untuk segera menulis kejadian tersebut. Namun sekarang, untuk berpikir saja yang terpikirkan malah "tunggu lah sebentar, nanti juga saya akan menulis, kok". Alasan yang terlalu klasik sebenarnya.
 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates