Jumat, 06 Januari 2012

Jika Aku Menjadi

Jika aku menjadi
Seperti yang lain hidup bercahaya
Mungkin saja aku kehilangan rasa syukur
Tak tersenyum dalam damai.

Coba kau jadi aku
Sanggupkah bernapas tanpa udara
Namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini
Bila Tuhan yang mau

Melly Goeslaw - Jika Aku Menjadi.

Untuk menjadi seorang relawan sepertinya menjadi keinginanku selanjutnya. Memberikan uluran tangan kita kepada mereka yang membutuhkan sangat menarik perhatianku untuk terjun langsung ke sana. Dengan adanya tayangan Jika Aku Menjadi yang di tayangkan di salah satu program televisi yaitu Trans TV, tiba-tiba saja tergerak hatiku untuk mengikuti program acara itu. Awalnya yang hanya nonton biasa, tiba-tiba menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi keinginan. Untuk mengikuti acaranya, sebagai relawan yang masuk dalam acara itu mungkin yang akan menyediakan sendiri bahan-bahan apa saja yang bakalan membantu untuk memenuhi segala kebutuhan mereka yang ada di dalam rumah itu sendiri. Menginap, mandi, makan bahkan ikut membantu melakukan aktifitas mereka untuk 3 hari ke depan adalah kegiatan para relawan yang mengikuti program acara itu.
Menurutku memang banyak pelajaran yang bakal kita dapatkan setelah menonton acara itu. Bagaimana cara untuk memperjuangkan hidup di tengah era globalisasi yang semakin maju bahkan dengan adanya tingkatan mata uang. Mereka dengan sangat semangat mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri bahkan keluarga mereka sendiri. Untuk mencari bahan masak saja ada yang masih berjalan ke kebun untuk mengambil bumbu-bumbu masak yang ditanam kira-kira 15 menit perjalanan dari rumah. Kebayang kan kalo kita yang hidup di zaman modern seperti sekarang di suruh untuk mengambil bahan masak dengan menempuh perjalanan yang memakan waktu 15 menit itu. Waktu kita akan habis di perjalanan. Capeknya lebih berasa sebelum memasak. Selain itu, beras yang dimakan hari ini, besok dan seterusnya termasuk berbeda. Kenapa aku bilang berbeda? Karena untuk tiap harinya mereka hanya bisa membeli beras untuk persediaan hari ini saja, begitu pula dengan esoknya. Tidak seperti kita yang membeli beras berkilo-kilo untuk persediaan 1 bulan. Untuk masalah keuangan tentu saja menjadi beban pikiran bagi mereka. Gak usah jauh-jauh, aku aja yang hidup jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu bisa menjadi manusia berbeban pikiran karena memikirkan uang yang akan segera habis hanya untuk keperluan diri sendiri. Gimana dengan hidup mereka? Apa uang 50.000 yang hanya menjadi uangku untuk satu hari saja, menjadi uang mereka untuk sebulan? Susahnya memang untuk mencari uang. Aku langsung kepikiran dengan orang tuaku yang selalu bekerja untuk menghasilkan uang.
Hidup kita dengan mereka pada intinya sama, bernapas. Makan, minum, menghirup oksigen, mengeluarkan karbon dioksida serta pembakaran zat-zat kimia yang ada dalam tubuh. Yang berbeda hanya takdir dan bagaimana cara serta usaha kita untuk mempertahankan hidup sesuai dengan pandangan hidup masing-masing orang. Dengan adanya perbedaan itu maka inilah inti dari program acara ini yaitu membantu mereka yang takdirnya tidak sama seperti kita.

Suatu hari, ketika saya pulang kampung, saya memutar TV dan langsung menonton program acara ini. Tiba-tiba papa datang dan langsung duduk tepat kursi yang ada di depanku. Kayak nonton bioskop sepertinya ya? Tapi ini bukan tentang film yang ada di bioskop. Dengan serius papa yang langsung duduk dan ikut menonton memberikan respons positif terhadap tayangan itu. Sontak saja aku langsung kaget dengan apa yang papa bilang.

"Ka, coba angko iko ni acara ini." (Ka, coba kau ikut acara ini).
Gak tahu kenapa, awalnya yang hanya menjadi khayalanku untuk ngomong langsung kepada orang tuaku ternyata papa udah memberikan lampu hijau untuk mengikuti program ini.

"Io, rencana bagitu noh pa, suka mo iko leh." (Iya, rencana gitu sih pa, kepengen ikut). Jawabku.

"Io, co coba." (Ia, coba aja). Suruh papa.

"Mar kayaknya tu bahan-bahan yang torang mo kase pa dorang musti torang yang bli sto kang pa?" (Tapi kayaknya bahan-bahan yang bakalan kita kasih ke mereka bakalan beli sendiri ya pa). Tanyaku.

"Ya, kayaknya bagitu sto kang." (Ya, kayaknya begitu mungkin). Jawab papa.

"Io noh, soalnya kan torang yang mo minta mo iko." (Iyalah, kan kita-nya sendiri yang pengen ikut).

"Trus bagimana mo mendaftar dang? Torang yang mo pilih depe tampa ato dorang yang pilih akang?" (Terus cara mendaftarnya gimana? Kita yang pilih tempatnya atau mereka dari pihak acara itu yang bakal pilih tempatnya). Tanya papaku.

"Kurang mo kase daftar nama noh pa. Mar dorang sto yang mo pilih akang depe tampa." (Tinggal mendaftar biasa pa. Tapi kayaknya mereka yang bakal pilih tempatnya dimana). Jawabku dengan indah.

Mamaku yang sedari tadi sedang memeriksa ujian para mahasiswi mulai membuyarkan omonganku dengan papa.
"Mimpi sto ngoni dua." (Kalian berdua mimpi kali). Begitu sewotan mamaku.
Akhirnya perbincanganku dengan papa berhenti sampai di pemotongan lewat omongan mama barusan.

Ya, aku mulai menyukai dengan keinginanku ini. Menjadi relawan yang setia membantu hidup orang dengan senang hati.
Andai saja jika aku menjadi seorang mahasiswi yang bakalan terkabul untuk membantu mereka yang tidak mampu, aku akan sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku rejeki yang layak untuk diberikan kepada mereka.

Rizka, 20 tahun, Mahasisiwi.
Jika Aku Menjadi :)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates