Deadline

By Pipi Merah - Mei 05, 2018

Hai guys. Ternyata rencana gue untuk keep blogging sejak awal tahun 2018 which is setelah gue upgrade template blog waktu lalu buyar hanya karena kesibukan gue ngurusin koas dan akhirnya sering mager untuk menulis di blog. Maafkeun.

Beberapa bulan terakhir ini, gue masih stay di Manado, belum sempat pulang ke rumah juga (ke Kotamobagu) karena taulah yah gue belum bisa meninggalkan pasien di sini. Sebenarnya bisa aja gue pulang karena jarak tempuh Manado - Kotamobagu hanya sekitar 4 jam perjalanan darat. But, it was a difficult decision for me to go home because it would make me sad if I come back to Manado. So, I decided to be here.

Gue mau bercerita banyak tentang pengalaman gue. Seperti biasa. Bukan pengalaman orang lain, karena gue males nyari tahu kehidupan orang. Gue bersyukur punya orang tua yang mengajarkan gue untuk lebih aware sama lingkungan sekitar, more anticipation mengenai tingkah laku orang lain ke kita. Dan yup, akhirnya apa yang dikatakan orang tua gue sekarang sudah menyerang ke gue pribadi. And, this is life.

Beberapa minggu terakhir ini, gue deadline banget sama requirement pasien. Semakin akhir gue menyelesaikan kasus pasien, semakin berat juga cobaan yang datang. It was amazing sih. Karena gue sempat down dan down banget ketika di php-in sama pasien yang which is kasusnya udah gue diskusikan sama instruktur. Sedangkan untuk waktu diskusi itu gak memakan waktu sehari doang. But I had three-week discussion karena dokter hadir seminggu sekali. So, gue harus nunggu minggu depannya lagi untuk lanjutan diskusi. Setelah diskusi, pasien entah gak ngabarin gue kesal banget sejadi-jadinya yang sampai akhirnya bikin gue down. Literally down banget.

Nah, seiring dengan kasus pasien php di atas, akhirnya gue merenung dan berpikir sembari berdoa sama Tuhan untuk menunjukkan jalan keluar dari masalah ini. Gue mengambil keputusan untuk mengganti pasien. Akhirnya muncul lah calon pasien baru yang sebenarnya gue udah kenal dia. Gue mintalah dia untuk datang ke rumah sakit, tapi karena dia sakit, jadi gue memaklumkan dia untuk gak perlu datang. But I need foto giginya untuk gue lihat apakah bisa dirawat atau gak. But, he had a slow response. Sampai akhirnya gue nyerah juga sama pasien kayak gini. Padahal baru calon lho.

Ditolak pasien dalam sehari. Sampai gue bingung mau mengekspresikan emoji gue kayak gimana. Sometimes, Tuhan memberikan cobaan berat dulu untuk hamba-Nya sebelum sukses. And I really trust Allah SWT. Gue hanya perlu bersabar untuk pengalaman seperti ini.

Dengan kejadian tersebut, gue langsung ingat sama nasihat orang tua gue untuk "ambil pelajaran mengenai tingkah orang itu ke kita. Karena suatu saat mereka pasti akan membutuhkan orang lain. Entah itu balik ke kita sendiri atau yang lain".
Tapi kadang sering kesal, because why they cant help me? Sedangkan ketika mereka butuh we are there to helping them. Why???

Menurut gue, okelah kalau memang tingkah mereka seperti itu. Anggaplah mereka masih belum mempercayai kita, belum berani untuk melihat dental instrument. Tapi rada kesal sih sebenarnya. But it's okay. Karena gue masih akan melanjutkan cita-cita serta mewujudkan bucket list yang sudah gue susun rapi dari dulu. Dengan kejadian ini juga gak bakal bikin gue tiba-tiba gak disayang sama orang tua gue. But it would make a difference situation for each of us.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar