Hobi dan Passion

By Pipi Merah - Agustus 26, 2017

Semalam gue baru baca insta story nya Tiara Pangestika mengenai passion. Benar, banget. Ternyata mendapatkan passion dari diri kita sendiri itu sulit. Kadang kita masih suka mikir kalau "ini benar ga sih kemampuan/pekerjaan kita di bidang ini" atau "kita coba dan mempertahankan sesuatu yang menurut kita itu bukan kemampuan tapi karena didesak untuk dikerjakan".

Jadi begini, setelah membaca story nya Tipang, gue jadi benar-benar merenung bahwa ternyata gue sangat mengalami hal itu. Bahkan baru dewasa muda (remaja tua) ini gue masih suka bingung passion gue itu dimana. Gue orangnya suka menulis, suka packing barang kayak di online shop gitu (mau packing doang atau jualan, sih) dan paling penting kuliah gue lebih menuntun ke skill. As a young dentist. Gue udah coba jualan online dari mulai produk skin care berbasis MLM, jualan tas, jualan baju, jualan pulsa, jualan jilbab, jualan sticker dan tema line, dan bahkan beberapa bahan kedokteran gigi. Tapi karena kemampuan jualan gue belum bisa menarik perhatian orang dan belum terlalu banyak keuntungan yang masuk. Masih sempat balik modal, sih. Tapi baliknya itu ga banyak-banyak amat. Yah, paling juga langsung dipakai hang out atau makan itu nomor satu.

Gue masih sempat berhenti jualan online karena tiba-tiba mau fokus menyelesaikan co ass. Co ass juga ga gampang cuy. Uang dan tenaga itu harus diseimbangkan. Gue sempat berpikir keras kalau gue harus menghasilkan uang minimal untuk jaga-jaga kalau orang tua belum ngirim uang jajan dan uang pasien. Waktu itu gue bingung banget. Gue sempat berencana mau jualan skin care lagi waktu itu, tapi karena gue pikir harus berapa kali gue akan jualan skin care yang ujung-ujungnya juga ga bakal laku banget dan modal gue hanya terbuang begitu saja. Sampai kapan? Gue udah dua kali jualan skin care tapi gagal atau mungkin karena gue yang ga berusaha banget haha. Hampir sebulan gue memikirkan bisnis kecil-kecilan apa yang harus gue kerjakan dan itu mengarah ke passion gue yang sebenarnya. Bisa melatih pengetahuan yang searah dengan profesi gue dan bisa menghasilkan rejeki yang "banyak".

Tiba-tiba, suatu malam gue melihat postingan senior yang sama-sama co ass juga. Dia menjual pasta gigi pemutih. Malam itu gue agak penasaran. Gue coba stalking semua statusnya mengenai pasta gigi pemutih, profitnya gimana, orang bakal tertarik ga yah kalau gue yang jual. Banyak deh pokoknya bacot di kepala gue. Bertanya tentang penjualan dan keuntungan dari pasta gigi pemutih ini. Sekitar semingguan pasca melihat postingan itu, gue langsung chat ke senior itu. Cewek. Gue tanya tentang cara penjualannya kayak apa, profitnya gimana, kelebihan pasta gigi itu, dan bagaimana cara penjualannya. Senior gue merespon dengan sangat ramah. Jujur saja, gue ga terlalu dekat sama kakak ini dulu. Kita hanya saling melempar senyum saja kalau ketemu. Bahkan bisa dikategorikan "jarang banget". Tapi, berkat pasta gigi pemutih ini sekarang kita bisa lebih akrab. Dan ternyata senior gue ini orangnya humble dan ga pelit ilmu. Dia mengajarkan gue cara menggunakan media sosial untuk berjualan. Itu pengalaman yang membuat gue kagum banget. Karena setiap profil facebook, kita diajari gimana cara untuk menarik perhatian orang agar mau membeli produk yang kita jual. Selama gue berbisnis online, baru sekarang dapat dan ketemu dengan leader nya langsung. Empat mata. Dan hal itu memang membawa dampak positif bagi kelancaran bisnis kita. Trust me, it works cuy!

Setelah dijelaskan, akhirnya gue sah berjualan pasta gigi pemutih. Setiap memulai bisnis, gue mengawali dengan doa. Minta petunjuk apakah bisnis yang akan gue jalani ini bisa bertahan lama atau tidak. Begitu juga dengan bisnis yang gue jalani sebelumnya. Tuhan memang merencanakan rencana yang lain buat gue. Makanya gue ga bertahan dengan beberapa bisnis kemarin-kemarin itu.

Baru sehari gue promosi produk pasta giginya, alhamdulilllah sudah 2 orang yang tertarik. Alhamdulillah lagi, belum seminggu produk yang gue jual langsung ludes. Walaupun awalnya gue masih menjual 10 biji pasta gigi. Tapi gue bersyukur karena ternyata peminatnya mulai bertambah.

Semingguan lebih, gue mulai berani order lagi. Daaaaaaannn, respon peminatnya juga mulai bertambah. Bahkan sehari bisa 3 orderan yang masuk. Di situ gue mulai berpikir bahwa, inilah passion gue (insya Allah). Gue kayak merasa nyaman dan cocok banget dengan jualan pasta gigi ini. Menjalani hobi jualan yang sebenarnya mengarah ke profesi gue sebagai seorang calon dokter gigi. Jadi gue bisa merekomendasikan pasta gigi yang memang gue tahu gimana caranya merawat gigi, you know. Menjelaskan cara menyikat gigi dan segala tetek bengek mengenai gigi. And, i loved it, anyway!

Jadi, sekarang gue lebih enak menjalankan hobi sekaligus profesi gue sendiri karena masing-masing bisa seimbang. Memang, sih butuh waktu lama buat tahu skill kita itu dimana. Kita ga akan pernah tahu kalau kita ga pernah mencoba, ga berani untuk keluar dari zona nyaman atau memulai, ga berani untuk rugi dulu, ga berani untuk bertanggung jawab. Gue sudah mencoba, dan semoga ini menjadi bisnis berkah buat gue pribadi.
Terima kasih, kak Wulan Panelewen untuk segala promosinya sehingga bisa membuat gue menjemput rejeki melalui bisnis ini 😚.

Untuk kalian yang penasaran tentang pasta gigi pemutihnya, bisa cek Instagram di sini.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar