Senin, 03 Juni 2013

Hikmah 03 Juni

Siang itu, di Rumah Sakit Gigi dan Mulut, aku sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi yang menjalankan tugas wajib kuliah yaitu praktikum. Praktikum yang sedang aku jalani saat ini memasuki praktikum orthodonsia atau ilmu yang mempelajari tentang pertumbuhan, perkembangan, variasi wajah, rahang, dan gigi yang tumbuh dengan abnormal. Kita sebut saja bahasa orang awam atau kebanyakan orang bilang yaitu tentang "perkawatan atau kawat gigi".

Praktikum pun dimulai. Aku kebagian menjadi pasien terlebih dahulu untuk pencetakkan rahang. Kemudian nantinya aku yang akan bergiliran menjadi seorang dokter sesuai dengan nomor urut absen.

Giliranku tiba. Pencetakkan yang dilakukan harus sesuai prosedur yang sudah diajarkan dokter dalam kuliah pakar. Seperti layaknya seorang dokter yang melayani pasien di dental unit atau kursi gigi dibantu dengan asisten dokter. Pencetakkan pun dimulai, prosedur yang dilakukan sudah benar, namun hasil cetakan masih belepotan alias semua kategori yang harus tercetak dalam rahang belum sempurna. Pikiranku masih tenang, belum ada sambutan-sambutan penuh histeris dari teman-teman tanda mereka sudah berhasil dan akan segera pulang. Selesai pencetakan rahang bawah, lanjut lagi ke pencetakan rahang atas. Masih belum sempurna juga. Stres tiba-tiba melanda dengan cepat seperti adrenalin yang dipancing.
Merasa gagal dengan cetakan pertama, kedua, ketiga.. akhirnya aku berinisiatif untuk menukar pasien yang lebih kooperatif. Kudapati dia. Sebut saja "Pasien A".

Si pasien A juga memintaku untuk menjadi pasiennya karena kami berdua kebetulan mengalami hal yang sama. Aku menyetujui permintaan itu namun belum terkonfirmasi dengan jelas dari keputusan kakak co-ass yang mengawa,s apakah dia yang akan menjadi pasien baruku.
Namun sebelum itu, temanku yang akan mencetak rahang punyaku meminta untuk melakukan pencetakan ulang. Bingung lah aku di sini karena diriku juga belum menemukan pasien yang cocok. Tapi ya sudahlah, "yang penting cadangannya ada si pasien A," pikirku.

Setelah membantu temanku yang melakukan pencetakan rahangku, barulah aku membantu si pasien A untuk mencetak rahang yang sama. Alhamdulillah kakak co-ass memberikan keputusan untuk bisa mengganti pasien yang sebelumnya dengan pasien A, bersatulah kami berdua untuk melakukan pencetakan satu sama lain. "Semoga ini berhasil," pintaku.

Setelah menjalani beberapa tahap ujian yang diberikan Tuhan, akhirnya hasil cetakan yang ku cetak ke pasien A langsung ter-ACC dari kakak co-ass. Betapa senangnya karena sebelumnya ga kepikiran kalau langsung ter-ACC. Yang ada, pikiranku nyasar hanya disuruh ulang terus sampai mendapat cetakan yang sempurna.

Ternyata perjuangan dan keberuntungan itu bukan hanya didapat saat kita mengalami kesenangan saja. Otomatis harus melewati beberapa masalah dulu baru kita bisa bertemu dengan kebahagiaan itu sendiri.
Betapa senangnya diriku yang sebelumnya sudah hampir putus asa, namun dengan hasil kerja keras dan usaha akhirnya dipermudah. Urusan kita dipermudah ketika kita membantu teman terlebih dahulu tanpa memikirkan ada feedback-nya. Itulah hikmah yang ku petik untuk skenario Tuhan hari ini.

Coba anda bayangkan, ketika anda dihadapkan dengan masalah dan anda berpikiran untuk tidak bisa melanjutkan atau putus asa begitu saja. Padahal itu adalah pekerjaan yang begitu anda gemari. Apakah anda akan tetap melanjutkan? Atau bahkan berhenti sebelum waktunya?

Guys, hidup itu pilihan. Setiap langkah dan cara yang kita ambil semua mempunyai konsekuensi. Tinggal kitanya saja mau konsekuensi yang seperti apa. Bukankah Tuhan itu adil?

Kita kembali ke topik yang sebelumnya, praktikum. Semoga praktikum ini segera berakhir dengan semakin dekatnya liburan akhir semester.
Wassalam.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Pipi Merah Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates