Hai semua. Selamat datang lagi di blog aku.
Hari ini cukup menguras emosi dan pikiran. Well, sebenarnya ini terjadi dari selasa kemarin. Sumpah ku bingung abis dengan segala kejadian di hidup ini. Entah harus kulewati dengan cara yang bagaimana. Mengeluh pun tak sanggup karena sudah terlambat hehe.
Oke, lupakan saja kejadian itu. Karena sebenarnya ku berharap untuk segera keluar dari ujian hidup ini. Mungkin ada yang ujiannya lebih berat dari ini, makanya ku tak ingin mengeluh terlalu banyak dalam tulisan ini. Karena percuma juga. Gak ada bisa bantuin kecuali kalian membaca. Merasakannya pun kurasa kalian tak bisa haha.
Aku ingin mencari seseorang atau teman yang bisa diajak curhat. Ciri-ciri:
1. Cewe
2. Bisa memberikan motivasi secara islami maupun duniawi
3. Berkepribadian sederhana.
Note:
Ini serius yah. Kalau ada teman-teman yang ingin sharing pengalaman galau/berat dalam hidupnya, please share with me. Messange aku saja. Atau kalian bisa komen di komentar lewat status di facebook yang saya bagikan.
Thankyou.
Rabu, 29 Agustus 2018
Minggu, 29 Juli 2018
Beach?
Happy weekend!
Finally udah hari minggu lagi dan beberapa hari (lagi) akan memasuki bulan Agustus. Time flies.
Siapa nih yang weekend pengen banget ke pantai?
Kayaknya gue udah merindukan liburan lagi. Kangen panas-panasan tanpa takut kulit gosong. Belakangan itu mah, yang penting holiday dulu. Wop wop wop.
Finally udah hari minggu lagi dan beberapa hari (lagi) akan memasuki bulan Agustus. Time flies.
Siapa nih yang weekend pengen banget ke pantai?
Kayaknya gue udah merindukan liburan lagi. Kangen panas-panasan tanpa takut kulit gosong. Belakangan itu mah, yang penting holiday dulu. Wop wop wop.
***
Jadi beberapa hari ini entah kenapa gue pengen banget menulis lagi. Pengeeeen banget sampai akhirnya gue berpikiran mau bikin website pribadi. Biar keren aja gitu punya website pakai nama sendiri. Tapi namanya juga website sendiri pasti berbayar, dan gue belum sanggup harus bayar tiap bulan. Uang jajan aja masih suka minta ke orang tua haha. Jadi yah kembali ke blogspot dulu. Sempat mau bikin di wix.com juga tapi gue masih bingung cara pakainya gimana. Gue gak se-excited dulu untuk nyari tau karena waktu gue terbuang sia-sia sedangkan saat itu gue lagi deadline sama jurnal translate haha.
Seperti biasa, gue ingin menulis mengenai liburan. Tapi sekarang gue belum punya waktu untuk liburan karena masih deadline banget sama koas. Insya Allah, doain cepat selesai tahun ini yah :)
Karena belum sempat liburan juga, jadi gue berencana untuk menulis pengalaman koas gue aja dulu deh. Siapa tahu ada adik-adik yang pengen masuk Kedokteran Gigi dan lebih mantap sama pilihannya, bisa baca dulu pengalaman dari kakak-kakak seniormu haha. Gue akan menulis suka duka selama gue koas. Mulai dari menghadapi pasien yang bawel, pasien yang banyak maunya, pasien yang matre, pasien php, dan segala macamnya. Yang paling excited ialah PENGELUARAN KEUANGAN yang gue pakai selama koas hahaha. Bisa berapa digit yah angka 0 di belakangnya? Penasaran gak?
Karena belum sempat liburan juga, jadi gue berencana untuk menulis pengalaman koas gue aja dulu deh. Siapa tahu ada adik-adik yang pengen masuk Kedokteran Gigi dan lebih mantap sama pilihannya, bisa baca dulu pengalaman dari kakak-kakak seniormu haha. Gue akan menulis suka duka selama gue koas. Mulai dari menghadapi pasien yang bawel, pasien yang banyak maunya, pasien yang matre, pasien php, dan segala macamnya. Yang paling excited ialah PENGELUARAN KEUANGAN yang gue pakai selama koas hahaha. Bisa berapa digit yah angka 0 di belakangnya? Penasaran gak?
YUP.
By
Pipi Merah
di
Juli 29, 2018
Tidak ada komentar:
Label:
Kedokteran Gigi,
rizkadamopolii,
Tentang Gue
Sabtu, 05 Mei 2018
Deadline
Hai guys. Ternyata rencana gue untuk keep blogging sejak awal tahun 2018 which is setelah gue upgrade template blog waktu lalu buyar hanya karena kesibukan gue ngurusin koas dan akhirnya sering mager untuk menulis di blog. Maafkeun.
Beberapa bulan terakhir ini, gue masih stay di Manado, belum sempat pulang ke rumah juga (ke Kotamobagu) karena taulah yah gue belum bisa meninggalkan pasien di sini. Sebenarnya bisa aja gue pulang karena jarak tempuh Manado - Kotamobagu hanya sekitar 4 jam perjalanan darat. But, it was a difficult decision for me to go home because it would make me sad if I come back to Manado. So, I decided to be here.
Gue mau bercerita banyak tentang pengalaman gue. Seperti biasa. Bukan pengalaman orang lain, karena gue males nyari tahu kehidupan orang. Gue bersyukur punya orang tua yang mengajarkan gue untuk lebih aware sama lingkungan sekitar, more anticipation mengenai tingkah laku orang lain ke kita. Dan yup, akhirnya apa yang dikatakan orang tua gue sekarang sudah menyerang ke gue pribadi. And, this is life.
Beberapa minggu terakhir ini, gue deadline banget sama requirement pasien. Semakin akhir gue menyelesaikan kasus pasien, semakin berat juga cobaan yang datang. It was amazing sih. Karena gue sempat down dan down banget ketika di php-in sama pasien yang which is kasusnya udah gue diskusikan sama instruktur. Sedangkan untuk waktu diskusi itu gak memakan waktu sehari doang. But I had three-week discussion karena dokter hadir seminggu sekali. So, gue harus nunggu minggu depannya lagi untuk lanjutan diskusi. Setelah diskusi, pasien entah gak ngabarin gue kesal banget sejadi-jadinya yang sampai akhirnya bikin gue down. Literally down banget.
Nah, seiring dengan kasus pasien php di atas, akhirnya gue merenung dan berpikir sembari berdoa sama Tuhan untuk menunjukkan jalan keluar dari masalah ini. Gue mengambil keputusan untuk mengganti pasien. Akhirnya muncul lah calon pasien baru yang sebenarnya gue udah kenal dia. Gue mintalah dia untuk datang ke rumah sakit, tapi karena dia sakit, jadi gue memaklumkan dia untuk gak perlu datang. But I need foto giginya untuk gue lihat apakah bisa dirawat atau gak. But, he had a slow response. Sampai akhirnya gue nyerah juga sama pasien kayak gini. Padahal baru calon lho.
Ditolak pasien dalam sehari. Sampai gue bingung mau mengekspresikan emoji gue kayak gimana. Sometimes, Tuhan memberikan cobaan berat dulu untuk hamba-Nya sebelum sukses. And I really trust Allah SWT. Gue hanya perlu bersabar untuk pengalaman seperti ini.
Dengan kejadian tersebut, gue langsung ingat sama nasihat orang tua gue untuk "ambil pelajaran mengenai tingkah orang itu ke kita. Karena suatu saat mereka pasti akan membutuhkan orang lain. Entah itu balik ke kita sendiri atau yang lain".
Tapi kadang sering kesal, because why they cant help me? Sedangkan ketika mereka butuh we are there to helping them. Why???
Menurut gue, okelah kalau memang tingkah mereka seperti itu. Anggaplah mereka masih belum mempercayai kita, belum berani untuk melihat dental instrument. Tapi rada kesal sih sebenarnya. But it's okay. Karena gue masih akan melanjutkan cita-cita serta mewujudkan bucket list yang sudah gue susun rapi dari dulu. Dengan kejadian ini juga gak bakal bikin gue tiba-tiba gak disayang sama orang tua gue. But it would make a difference situation for each of us.
Beberapa bulan terakhir ini, gue masih stay di Manado, belum sempat pulang ke rumah juga (ke Kotamobagu) karena taulah yah gue belum bisa meninggalkan pasien di sini. Sebenarnya bisa aja gue pulang karena jarak tempuh Manado - Kotamobagu hanya sekitar 4 jam perjalanan darat. But, it was a difficult decision for me to go home because it would make me sad if I come back to Manado. So, I decided to be here.
Gue mau bercerita banyak tentang pengalaman gue. Seperti biasa. Bukan pengalaman orang lain, karena gue males nyari tahu kehidupan orang. Gue bersyukur punya orang tua yang mengajarkan gue untuk lebih aware sama lingkungan sekitar, more anticipation mengenai tingkah laku orang lain ke kita. Dan yup, akhirnya apa yang dikatakan orang tua gue sekarang sudah menyerang ke gue pribadi. And, this is life.
Beberapa minggu terakhir ini, gue deadline banget sama requirement pasien. Semakin akhir gue menyelesaikan kasus pasien, semakin berat juga cobaan yang datang. It was amazing sih. Karena gue sempat down dan down banget ketika di php-in sama pasien yang which is kasusnya udah gue diskusikan sama instruktur. Sedangkan untuk waktu diskusi itu gak memakan waktu sehari doang. But I had three-week discussion karena dokter hadir seminggu sekali. So, gue harus nunggu minggu depannya lagi untuk lanjutan diskusi. Setelah diskusi, pasien entah gak ngabarin gue kesal banget sejadi-jadinya yang sampai akhirnya bikin gue down. Literally down banget.
Nah, seiring dengan kasus pasien php di atas, akhirnya gue merenung dan berpikir sembari berdoa sama Tuhan untuk menunjukkan jalan keluar dari masalah ini. Gue mengambil keputusan untuk mengganti pasien. Akhirnya muncul lah calon pasien baru yang sebenarnya gue udah kenal dia. Gue mintalah dia untuk datang ke rumah sakit, tapi karena dia sakit, jadi gue memaklumkan dia untuk gak perlu datang. But I need foto giginya untuk gue lihat apakah bisa dirawat atau gak. But, he had a slow response. Sampai akhirnya gue nyerah juga sama pasien kayak gini. Padahal baru calon lho.
Ditolak pasien dalam sehari. Sampai gue bingung mau mengekspresikan emoji gue kayak gimana. Sometimes, Tuhan memberikan cobaan berat dulu untuk hamba-Nya sebelum sukses. And I really trust Allah SWT. Gue hanya perlu bersabar untuk pengalaman seperti ini.
Dengan kejadian tersebut, gue langsung ingat sama nasihat orang tua gue untuk "ambil pelajaran mengenai tingkah orang itu ke kita. Karena suatu saat mereka pasti akan membutuhkan orang lain. Entah itu balik ke kita sendiri atau yang lain".
Tapi kadang sering kesal, because why they cant help me? Sedangkan ketika mereka butuh we are there to helping them. Why???
Menurut gue, okelah kalau memang tingkah mereka seperti itu. Anggaplah mereka masih belum mempercayai kita, belum berani untuk melihat dental instrument. Tapi rada kesal sih sebenarnya. But it's okay. Karena gue masih akan melanjutkan cita-cita serta mewujudkan bucket list yang sudah gue susun rapi dari dulu. Dengan kejadian ini juga gak bakal bikin gue tiba-tiba gak disayang sama orang tua gue. But it would make a difference situation for each of us.
Langganan:
Postingan (Atom)
