Pages

Tampilkan postingan dengan label #20HariNulisDuet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #20HariNulisDuet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Pergaulan Anak Metro


“Aku lebih suka jadi seseorang untuk sekarang. Aku harus mengambil keputusan untuk itu. Aku tidak akan membuat keluargaku malu karena diriku. Iya, ini komitmenku sekarang, bahwa aku harus berubah.” Pikirku saat itu ketika sedang berbaring di atas tempat tidur.

Pagi menjelang. Aku terbangun tepat waktu untuk pergi bekerja. Kali ini aku harus kembali bekerja. Yah, time to work again! Segera ku ambil handuk yang terletak di atas kursi berwarna merah plastik dan langsung bergegas untuk mandi. 20 menit kemudian, siaplah aku untuk berangkat bekerja. Kemeja putih yang ku padukan dengan dasi berwarna biru dongker dan celana hitam kain yang ku kenakan pagi itu. Aku bercermin untuk melihat penampilanku saat itu,

“Aku memang keren. Aku memang laki-laki yang ganteng. Dan aku tidak salah lagi dengan keputusanku semalam, bahwa aku harus berubah.” Ucapku sambil bercermin dan merapikan dasi yang ku kenakan.
Sembari selesai berpakaian, segera ku ambil tas kerja yang di hadiahkan Ayahku ketika ulang tahunku kemarin. Aku berpamitan kepada Ibu untuk berangkat bekerja.

“Bu, aku pamit dulu yah?” Seperti biasa aku menyalami tangan Ibu sebelum keluar rumah.

“Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut di jalan yah?” Nasihat Ibuku.

“Iya, Bu.” Jawabku sambil menuju garasi mobil.

Sesampai di kantor, aku langsung bergegas ke ruangan kerjaku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang sempat tertunda.

“Oh tidak, kerjaanku banyak sekali ternyata. Aku harus bagaimana ini? Tidak mungkin aku kerjakan hari ini dengan tumpukan kerjaan semacam ini.” Pikirku bingung.

Tiba-tiba dari arah sebelah kanan, sahabatku Revi yang sekantor denganku memanggil dengan teriakkan yang histeris dan menuju ruanganku.

“Hei brooo. Lu dateng yah? Gue kira lu gak bakal kerja lagi. Haha, mau jadi apa lo kalo gak kerja, hah? Mau jadi banci lo?” Ucap sahabatku yang ku kenal dia sejak SMP.

“Ah, bisa aja lo. Gue mau jadi sukses. Gue mau bahagiain orang tua gue. Masa lo gak ngedukung gue sih?” Terangku sambil meyakinkan dia.

“Hei, lo udah serius nih mau balik kerja? Biar gue gak setengah-setengah bantuin lo, nyadarin lo. Gue gak suka pas abis gue nasihatin lo, eh lo malah gak masuk-masuk lagi. Emang gue ini cuma robot yang di ciptakan buat nasihatin lo doang?” Ejek Revi sambil menepuk pundakku.

“Gaklah bro. Lo kan sahabat gue. Cuma lo yang bisa bantuin gue sekarang.” Jelasku dengan wajah permohonan.

“Gue harus bantuin apa lagi sekarang?” Tanya Revi pasrah.

“Gue mau jadi gue yang dulu lagi Rev. Gue gak mau lagi termakan dengan pergaulan gue sekarang. Gue tahu gue salah, Rev.” Ucapku dengan nada penyesalan.

“Terus, gue mau bantu apa? Gue harus sulap buat rubah kelakuan lo? Atau gue harus ngeluarin alat pinjaman dari Doraemon? Hahaha, lucu lo.” Bantah Revi.

“Gaklah, lo cukup bantu untuk nyadarin gue lagi. Gue butuh dorongan dari sahabat, Rev.”

“Ya sudah, sekarang juga gue bilang yah sama lo, lo berhenti bergaul sama om-om gak jelas, lo berhenti nyari duit dengan cara begituan dan yang paling lo ingat, lo harus berhenti jadi banci cuma gara-gara lo stres kehilangan cewek lo. Eh, lo tuh ganteng lagi bro, ngapain lo harus jadi banci, hah? Mabok kali lo.” Jelas Revi dengan nada kesal.

“Iya, Rev. Gue sadar sekarang. Gue udah ngambil cara yang salah. Dan itu sebagai pembelajaran buat gue. Gue sadar, gue gak punya Livi lagi sekarang, dan dengan bodohnya gue jadi banci gara-gara hal itu. Makasih bro, lo udah bikin gue semangat lagi.” Kataku dengan mata yang berkaca-kaca. 

"Eh tunggu, lo beneran mau berubah kan? Jujur aja gue ngeri deket-deket lo, takut ntar lo grepe-grepe gue hahaha!!” Revi meledekku kemudian lari menghamburkan kertas dan keluar ruangan.

 "Sialan lo Rev!" Umpatku sambil melempar gumpalan kertas kearahnya.

Aku memulai aktivitas pagiku dengan membereskan dokumen yang berserakan di atas meja. Kalau meja sudah rapi, pasti akan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk ini. Aku hampir menyelesaikan tumpukan dokumen terakhir ketika tiba-tiba ada selembar foto meluncur mulus ke bawah meja. Aku membungkuk untuk memungut foto itu. Foto sepasang pria dan wanita sedang bercengkrama di tepi pantai. Si wanita mengenakan kaos kuning dan celana pendek, rambut panjangnya dibiarkan tergerai liar tertiup angin. Sedangkan prianya mengenakan kaos kerah salur hitam putih dan celana pendek. Iya, itu fotoku dan Livi, wanita yang sudah mengokupasi hatiku selama 7 tahun lamanya meskipun orangtuanya tidak pernah setuju putri tunggalnya berhubungan dengan pegawai perusahaan konstruksi rendahan seperti aku. Foto itu diambil ketika kami sedang berlibur di pantai pangandaran sekedar melepas penat dari jeratan pekerjaan dan hiruk pikuk ibukota. Memandangi foto itu mau tak mau membawa ingatanku berkelana pada suatu malam di bulan Desember yang belum sanggup aku lupakan sampai saat ini.

 ***

"Maaf Bas, ini bukan mauku tapi mau gimana lagi. Mama sama papa tetep gak bisa nerima kamu. Dan aku bulan depan sudah harus menikah dengan Erik, anak dari kolega papa yang anggota DPR juga. Aku gak bisa apa-apa, aku gak mungkin mengecewakam mama dan papa karena perjodohan ini juga penting untuk kelangsungan bisnis papa." Livi berurai air mata menjelaskan, maskaranya sampai luntur mengotori pipinya yang chubby dan merona merah.

Aku kehilangan kata-kata, tepatnya tak mampu berkata-kata untuk menghapus kesedihannya. Aku hanya bisa diam menahan hatiku yang remuk redam dan memeluk wanita terindahku itu untuk yang terakhir kalinya. Esoknya ketika aku ingin mengirimkan sapaan pagi untuknya seperti yang biasa kulakukan setiap pagi, ternyata nomor ponselnya tidak dapat dihubungi, contact BBnya pun menghilang dari BlackBerryku, begitu juga YM dan Facebook. Aku mencoba menghubungi Sandra, Lisa dan Angel sahabat Livi tapi mereka menjawab tidak tahu. Livi benar-benar hilang ditelan bumi. Hidupku hancur, seharian aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Pak Haris, atasanku berkali-kali menegurku karena bengong saat rapat divisi. Hari itu juga aku mengajukan cuti 2 minggu kepada pak Harris. Awalnya beliau keberatan, namun setelah mendengar alasan dan melihat keadaanku saat itu akhirnya beliau luluh dan menyetujui cuti panjangku.

Pulang kantor aku mampir dulu di cafe favoritku, dengan tampang seperti kemeja yang belum disetrika, aku menyeruput capuccino dengan tatapan kosong. Aku memang tidak minum alkohol dan merokok. Tiba-tiba di tengah lamunanku, seorang pria berusia sekitar 40an berkemeja kotak-kotak biru duduk di menjajariku. Kita berkenalan dan berbincang sejenak, namanya Freddy, pemilik Production House di daerah Jakarta Selatan. Entah mantra apa yang dia rapalkan padaku sehingga malam itu aku menurut untuk ikut pulang bersamanya dan malam itu menjadi awal dari malam-malam paling kelam dalam hidupku. Aku tidak pernah pulang ke rumah selama 2 minggu, setiap malam aku mabuk-mabukan di klub malam, sex bebas, dan parahnya lagi aku jadi banci yang melayani nafsu om-om gay teman om Freddy. Sampai suatu saat Revi menemukanku salah satu koridor Apartemen mewah di Jakarta. Ia membujukku pulang ke rumah dan membopongku sampai ke mobilnya, katanya ibuku setiap hari menangis mencariku. Ayahku pun sampai sakit-sakitan memikirkanku. Esok paginya aku terbangun di atas tempat tidur berseprai putih, ayah dan ibu duduk tertidur di sebelah tempat tidurku. Di ujung kamar, terlihat Revi yang juga tertidur sambil duduk di atas kursi sofa. Aku ada di rumah sakit rupanya. Ibu seolah bisa merasa kalau aku sudah siuman. Beliau langsung terbangun dan menciumiku. Ayah dan Revi juga tampak bahagia melihat aku sudah siuman.

***
"Mas Baskara maaf, dipanggil bapak ke ruangannya." Suara Agatha, sekretaris Pak Harris membuyarkan lamunanku.
Aku beranjak, memberikan anggukan kepala kepada Agatha kemudian memasukkan foto itu ke dalam tong sampah. Iya aku harus berubah!


(Tulisan kolaborasiku @ikachibii bareng @rintadita)

Sabtu, 11 Februari 2012

Ajari Aku Ketulusan

Siang itu, selepas jam pulang sekolah, gadis berambut panjang ikal itu langsung memasuki kamarnya dan menulis sebuah diary yang sebagaimana mestinya anak ababil mencurahkan segala unek-uneknya di sebuah buku berukuran mini berwarna pink dan bergambarkan boneka Hello Kitty. Gadis itu bernama Sherly. Ketika ia memasuki kamarnya, diambilnya diary yang diletakkan di samping bantal tidurnya.

“Dear Diary.
Bagaimana hati ini tidak bisa mencintaimu, wahai seorang manusia yang berasal dari keturunan Adam? Adakah cara untuk menghilangkan rasa yang mulai tumbuh dan begitu besar aku rasakan? Kau terlalu baik untuk aku dapatkan dan aku begitu beruntung jika bisa memilikimu sampai aku tidak bisa menghirup oksigen yang ada di dunia ini.
Dear Diary.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menjalankan semua skenario ini sesuai takdir yang sudah diatur oleh Tuhan? Cinta, yah aku mulai termakan dengan keberadaan cinta. Aku mulai memasuki gerbang percintaan dan aku merasakan getarannya yang begitu kuat dalam lubuk hatiku. Semua orang memang pasti merasakan cinta itu sendiri karena cinta berhak untuk dimiliki semua orang.
Dear Diary.
Cinta yang paling bermanfaat secara mutlak, paling utama dan paling tinggi tingkatannya. Sesungguhnya cinta adalah ekspresi perasaaan yang tidak bisa digambarkan kecuali orang yang mengalaminya.”

Selepas gadis itu menyelesaikan tulisannya, dia bergegas mengganti seragam sekolahnya dan membantu Ibunya membuat kue pesanan tetangga mereka.

“Bu, sini aku bantuin yah?” Ucap Sherly menawarkan dirinya untuk membantu Ibunya.

“Lho, kamu udah gak ada les di sekolah, Sher?” Tanya Ibunya.

“Gak, Bu. Tadi gurunya sempat bilang kalo gak ada les tambahan hari ini. Mungkin gurunya lagi capek kali, Bu. Aku bantuin buat kuenya yah? Biar cepat selesai.” Lagi-lagi Sherly menawarkan dirinya membantu Ibunya.

“Ya sudah. Bantuin Ibu biar kuenya cepat selesai dan nantinya cepat istirahat.” Jawab Ibunya yang mengiyakan tawaran Sherly.

Hening. Tiba-tiba Sherly langsung membuka pembicaraannya.

“Bu, aku bisa nanya gak?” Tanya Sherly sambil membentuk model kue yang dia pegang.

“Iya, kamu mau nanya apa?” Jawab Ibunya santai.

“Aku ini cantik gak sih, Bu?” Tanya Sherly dengan raut wajah yang serius.

“Hahahahaha, kamu ini ada-ada saja, Nak.” Tawa Ibunya yang langsung terdengar memenuhi disetiap sudut dapur.

“Lho, Ibu kok ketawa sih? Kan Sherly nanya serius, Bu.” Tanya Sherly kesal dengan wajah yang merah.

“Ibu cuma bingung ajah, kamu nanya kok sampe serius gitu? Emang kenapa? Anak Ibu cantik kok. Siapa bilang gak cantik? Ibunya aja cantik.” Canda Ibunya.

“Gak sih, Bu. Aku di taksir sama cowok sekelas. Aku juga bingung, dia kok bisa suka sama aku, Bu. Padahal aku merasa aku bukan cewek yang bisa membahagiakan dia nantinya. Lah aku cuma punya modal sedikit di banding dia. Kan masih banyak cewek lain yang lebih kaya dari aku, Bu.” Jelas Sherly sambil duduk didepan kue buatannya yang ditaruh diatas meja.

“Nah, berarti cowok itu memang suka sama kamu, Sher. Dengan dia tahu latar belakang kehidupan kamu, bagaiman pun caranya kalo yang namanya udah terlanjur cinta, pasti dia bakal tulus untuk jalaninnya. Kamu jalani aja dulu, Sher. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus pikir sekolahmu dulu. Ingat Ibumu, Sher.” Jelas Ibunya panjang lebar sambil menghadap ke arah Sherly untuk memberikan nasihatnya kepada anak semata wayangnya.

“Iya, Bu.” Jawab Sherly dengan nada yang datar dan merasa salah dengan penjelasannya barusan.

Malam menjelang. Setelah selesai membantu ibu dan menyelesaikan tugas sekolahnya, ia merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur tipis yang sudah penuh dengan tambalan disana-sini. Ia menatap langit-langit rumahnya dalam keheningan malam. Pikirannya melayang jauh menuju kejadian siang hari tadi, saat Andri dengan malu-malu menyatakan perasaan padanya.

Ia tahu, butuh keberanian yang besar bagi Andri untuk menyatakan perasaan padanya. Tapi Sherly tidak mempunyai kepercayaan diri yang sebanding dengan Andri. Perekonomian keluarganya pas-pasan, beda dengan Andri yang memang dari keluarga terpandang dan kaya. Alih-alih menerimanya, ia meminta perpanjangan waktu untuk menjawab perasaan Andri.

Sherly bingung dengan perasaannya pada Andri. Ia mengakui, diam-diam ia pun menyimpan perasaan sukanya pada Andri. Tapi, seperti yang tadi ia tegaskan dalam hatinya. Kepercayaan dirinya tidak ada untuk memiliki seseorang seperti Andri. Pernyataan ibunya pun memperjelas semuanya, walaupun mendukung dengan segala keputusannya. Ibu tetap menginginkan aku menyelesaikan sekolah terlebih dahulu.
Ia mengacak-acak rambutnya dalam posisi tidur.

“Pusing ah. Mending tidur aja dulu.” Bisik Sherly.
***
Waktu menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Ia terlambat lima belas menit dari jadwal berangkatnya setiap hari. Jarak yang ia butuhkan untuk sampai ke sekolahnya cukup jauh. Harus dengan menyambung angkutan kota sebanyak dua kali. Belum lagi jika jalanan terjadi kemacetan.
Ia bergegas merapikan seragam sekolahnya dan langsung menyambar tasnya. Berlari kecil menuju dapur untuk berpamitan dengan ibunya.

“Ibu aku berangkat dulu ya?” Ucapnya cepat.

Setelah mencium tangan ibunya, ia kemudian langsung melesat menuju pintu depan dan kemudian berhenti beberapa saat untuk memakai sepatu sekolahnya yang telah usang. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Mobil itu terlihat mahal dan mewah, bertolak belakang dengan pemandangan lingkungan rumahnya yang setengah kumuh.

Ia penasaran dengan seseorang di balik mobil itu. Mengapa ia harus berhenti di depan rumahnya? Mengapa ia berada di rumah ini.

Mesin mobil itu dimatikan, seseorang keluar dari dalam mobil itu. Jantungku langsung berdebar tidak karuan setelah tahu  siapa orang itu. Dia adalah Andri, lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia hanya tersenyum dengan lembut kepadaku, sambil mengajakku mendekat. Ibuku yang tadi di dapur, langsung menuju keluar rumah. Ia juga bingung dengan segala kegaduhan yang disebabkan oleh masuknya mobil mewah itu ke lingkungan rumahku. Para tetangga berbisik-bisik dan mulai bergosip mengenai aku. Langsung aku menghampirinya.

“Kamu ngapain kesini?” Tanyaku ketus.

Ia berjalan menghampiriku, “aku menjemputmu biar kita berangkat bersama ke sekolah.” Jawabnya cepat.

Ia membukakan pintu mobil itu untukku. Aku spontan langsung masuk ke dalam mobil itu. Bukan karena alasan apapun, tapi agar Andri segera membawa mobilnya pergi dari rumahku. Andri segera melajukan mobilnya memasuki jalan raya setelah ia menyalakan mesinnya tadi. Mulanya kami diam, tidak tahu harus berbicara apa. Tapi kemudian suasana cair saat ia sengaja melontarkan gurauan lucu padaku.

“Sherly... bagaimana dengan tawaranku?” Tanya Andri di sela-sela tawanya.

Deg. Sherly merasakan jantungnya melompat liar. Ia tidak bisa lari lagi kali ini, jarak sekolah masih agak jauh dan ia pun tidak mungkin untuk turun di daerah yang tidak ia ketahui.

“Aku kan minta waktu dulu, Dri.” Akhirnya kataku.

Ia menghembuskan nafas menyerah.

“Baiklah. Terserah kamu saja. Tapi kamu harus tahu sesuatu, aku menyukaimu karena kesederhanaanmu dan perilaku apa adamu. Kamu tidak berusaha menjadi seseorang yang bukan dirimu, bahkan tidak pernah juga membangga-banggakan sesuatu yang bukan milikmu. Aku tulus menyukaimu apa adanya.”

Kata-katanya menyentuh hatiku. Getaran-getaran yang tadinya kututupi dengan ketidakpercayaan diri kini muncul kembali. Aku memang menyukainya, dan bolehkah aku memilikimu?

“Terima kasih, Dri.” Ucapku tulus.

“Hanya ucapan terima kasih aja nih?” Balasnya sambil bercanda.

Aku membalasnya dengan tersenyum,

“Baiklah, kita mulai hubungan ini.” Kataku akhirnya.

Andri menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lambat. Ia seolah tidak peduli akan jam masuk sekolah yang semakin menipis. Tapi, entah mengapa aku pun merasa begitu. Setibanya kami di sekolah, ia langsung keluar dan menggandeng tanganku sambil terus tersenyum bahagia.


(Tulisan kolaborasiku @ikachibii bareng kak @alizarinnn)

Jumat, 10 Februari 2012

Kolong Langit

Mereka bertelanjang kaki, membiarkan telapak mungil mereka bercengkrama dengan tanah dan genangan air keruh yang menghiasi di beberapa tempat di badan setapak itu. Mereka berlari berkejar-kejaran di setapak sempit berbahan dasar tanah yang menjulur jauh dan membelah hamparan padi yang kian menguning.

Sawah yang beratap kanvas langit dengan kolaborasi warna dasar biru dan warna putih yang berasal dari gumpalan-gumpalan awan membuat suasana menjadi sangat kontemlatif. Ditambah orkestra yang berasal dari perpaduan suara kaleng-kaleng bekas yang dirangkai diantara orang-orangan sawah dan suara gesekan mesra antara daun padi yang satu dengan yang lain menjadi soundtrack apik kala itu.

Sawah menjadi tempat bermain favorit anak-anak kecil di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Termasuk Sukma dan Gendis. Banyak hal yang bisa mereka lakukan disana, seperti lomba mencari walang sangit, bermain lempar belet, ataupun sekedar membunyikan kaleng-kaleng untuk mengusir burung emprit.

"Ayok ndang mrene, Gendis! duduk sini tho disebelahku", teriak Sukma yang sudah dulu duduk manis di tanggul sawah.

"Iyo..iyo.. Aku mrono iki, sabar tho!" balas Gendis sambil berlari kearah Sukma dan menenteng sandal jepitnya.

"Dis, Aku punya hadiah buat kamu, iki gaweanku dhewe", ucap Sukma sembari memberikan kotak kecil berwarna coklat masak.

"Opo iki?", tanya Gendis singkat setelah membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi ratusan uricane kertas warna-warni.

"Iki uricane, uricane kertas sing tak gawe dhewe. Kata Mbakku, setiap satu uricane kertas itu mewakili satu permohonan kita. Aku sengaja nggawe ratusan uricane warna-warni tapi hanya untuk satu permohonanku", jelas Sukma sambil menyunggingkan senyum manisnya.

"Opo tho permohonanmu? Lha iki kok gawe Aku?", tanya Gendis.

"Iyo, permohonanku cuma satu. Semoga persahabatan kita langgeng yo, sampe tuek", jawab Sukma.

Mereka serentak tertawa dikolong langit sore itu.


Sembari menikmati suasana sore di bawah gunung Kidul itu, Sukma dan Gendis masih tetap nyengir berdua dengan pernyataan yang di ucapkan Sukma barusan.

"Piye toh koe ngomong gitu? Kamu udah gak mau putus sama aku yah?" Tanya Gendis sambil ngeledek Sukma.


"Lha, wong aku ama koe itu udah hidup sama-sama dari kecil toh, kita dua itu udah tahu tabiat masing-masing juga kok." Jawab Sukma dengan nada mulai kesal.


"Sabar toh neng, wes aku cuma becanda kok. Iyooo, mudah-mudahan persahabatan kita gak putus di tengah jalan, tengah badai, tengah angin tornado. . ."


"Iyoo, iyo, tak ngerti maksud koe." Sambung Sukma yang memotong pembicaraan Gendis.


Saat matahari yang akan segera terbenam, mereka berdua hendak pulang ke rumah masing-masing. Rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka bermain.


"Besok sore kita ke sini lagi yo Gendis. Kita main-main lagi." Teriak Sukma setelah mereka berdua mulai berpencar untuk menuju rumah-rumah masing-masing.


"Sip. Tak jemput koe di rumah yoo." Jawab Gendis teriak juga.

Keesokan harinya saat matahari tidak seterik panasnya jam 12, kira-kira pukul 3 sore, Gendis pun hendak datang ke rumah Sukma untuk menjemputnya ke sawah lagi. Gendis yang sore itu membawa sebuah kotak kecil berwarna hijau muda yang akan diberikannya kepada sahabatnya itu. Di pikirannya terlintas bahwa dia harus memberikan sesuatu kepada sahabatnya karena pernyataan Sukma yang membuatnya lebih yakin bahwa Sukma lah nanti yang akan menjadi sahabat terindah dan selamanya.

"Assalamu'alaykum. Sukmaa, oh Sukmaa." Panggil Gendis ala nada Upin-Ipin.

"Wa'alykumsalam. Nak Gendis. Ayo masuk dulu nak." Jawab Maknya Sukma sambil mempersilahkan Gendis untuk masuk ke dalam rumah Sukma.

Rumah yang terbuat dari kayu lapis dan atap yang di tutupi dengan seng bekas milik tetangga yang tidak dibutuhkan lagi. Lantai yang bersentuhan langsung dengan tanah dan pembatas kamar yang hanya di batasi dengan kain bekas. Kehidupan yang di bilang tidak berstandar internasional bahkan nasional ini memang sangat membuat Sukma dan Ibunya tetap hidup di tempat itu dengan modal kebahagiaan. Mereka tetap semangat untuk melanjutkan kehidupan dengan target bahwa, "akan ada tempat yang indah setelah kehidupan ini."

"Sukma mana Mak?" Tanya Gendis.

"Sukma di kamar. Dia lagi sakit nak Gendis." Jawab Mak dengan nada sedih.

"Sakit apa Sukma, Mak? Terus udah minum obat belum?" Tanya Gendis yang tiba-tiba panik.

"Gak tahu nak Gendis. Mak juga baru tahu Sukma sakit setelah dia meringis-meringis kedinginan. Pas Mak pegang ternyata badannya panas sekali." Jawab Mak sedih.

"Astaga, Sukma demam Mak. Ayo kita bawa ajah dia ke Puskesmas." Ajak Gendis buru-buru.

"Nak Gendis, Mak bukannya gak mau bawa Sukma ke Puskesmas, Mak juga gak mau di meringis terus. ."

"Sudahlah, bair Gendis yang biayain. Ayo cepat bawa Sukma ke Puskesmas Mak." Gendis yang memotong pembicaraan Mak dan langsung menuju kamar Sukma untuk di bawa ke Puskesmas.

Sesampai di Puskesmas, Gendis langsung membawa Sukma masuk ke ruang periksa untuk menangani kesehatan Sukma yang mulai tidak stabil. Dengan harap-harap cemas Gendis dan Mak Sukma menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Perawat dan Dokter.
10 menit kemudian.

"Keluarga Sukma." Panggil perawat itu.

Sontak Gendis dan Mak Sukma langsung berdiri dan menghampiri si Perawat.

"Piye toh keadaannya Sukma Sus?" Tanya Maknya cemas.

"Sukma cuma sakit ringan kok Bu. Dia cuma demam biasa. Sistem kekebalan tubuhnya emang lagi melemah, makanya virus mudah masuk dan membentuk satu penyakit. Tapi Dokter udah ngasih dia obat kok Bu." Terang si Perawat.

"Alhamdulillah. Syukurlah Sukma tidak sakit parah." Lanjut Gendis dengan nada  lega.

Malam itu di rumah Sukma, saat ia mulai merasa baikkan, tiba-tiba Gendis mendatanginya lagi dengan membawa kotak yang di bawanya tadi sore.

"Hai sahabatku. Udah merasa mendingan kan?" Tanya Gendis peduli Sukma.

"Iya, alhamdulillah udah sedikit mendingan dari tadi sore Dis. Aku berterima kasih banget sama koe toh Dis. Kamu udah membantu biaya pengobatanku. Kamu baik sekali." Jawab Sukma dengan nada yang masih lemas.

"Iyoo, kita kan sahabatan. Aku gak mungkin biarin sahabatku sakit." Gendis meyakinkan lagi.

Tiba-tiba Gendis langsung teringat atas kotak yang dia bawa barusan.

"Oh yah, aku punya sesuatu buat kamu." Gendis langsung mengeluarkan kotak dari tas kecilnya yang dia bawa itu.

"Opo iki Dis?" Tanya Sukma penasaran.

"Buka ajah." Gendis menyuruh Sukma.

"Astagaa, Gendis. Kamu sadar kan ngasih beginian?" Tanya Sukma kaget dan tidak menyangka kalau Gendis telah memberikannya sebuah perhiasan cincin emas.

"Lha, sadar toh Suk. Masa gak sadar sih. Aku mau cincin itu kamu pakai sebagai tanda persahabatan kita. Pasangannya juga ada sama aku kok. Persahabatan yang akan kita rajut untuk selamanya." Jelas Gendis dengan senyuman yang keluar dari wajahnya.

"Gendis. Makasih banyak. Matur nuhun Dis. Kamu memang sahabatku, sahabatku sampe tuek, sampe mati." ucap Sukma sambil mengeluarkan air mata dan memeluk Gendis.


(Tulisan kolaborasiku @ikachibii bareng @crystalzizahh)