Pages

Minggu, 05 Februari 2012

BlackBerry vs Nokia

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa gadget bernama BlackBerry yang semakin meluas di dunia sungguh sangat menghipnotis para halayak untuk berbondong-bondong memiliki barang tersebut. Barang yang bisa di kantongi kemana-mana ini memang mempunyai aplikasi-aplikasi terbaru didalamnya. Ada aplikasi BlackBerry Messanger atau biasa kita dengar dengan sebutan BBM yang secara langsung bisa meng-update status didamana pun kita berada, sama siapa dan kapan kejadian itu berlangsung. Bisa saling mengirim foto tanpa harus keluar biaya pulsa minimal 1000 rupiah/kb. BlackBerry memang memiliki pengguna yang begitu banyak bahkan saking banyaknya mungkin jumlah produksinya lebih di tingkatkan lagi. Selain itu penggunaan BlackBerry memang lebih praktis karena di mudahkan dengan peng-aktifan paket BBM, Facebook, Twitter dll sesuai dengan paket yang kita pilih sendiri.
Oh yah, dari tadi gue ngomong apa? Yang baca bisa ngerti? Atau bahkan ngerti tapi beda dengan penjelasan gue yah? Anda akan tahu segera.

Di samping itu, penggunaan Nokia sendiri. Nokia memang produksi handphone yang bisa dibilang paling lama sebelum gue lulus SD. Pada jaman itu sendiri Nokia memang paling banyak di minati orang. Bahkan gadget ini bisa menduduki handphone paling nge-tren waktu jamannya. Mulai dari Nokia berlampu kuning, kemudian putih, selanjutnya putih bersinar lalu di padukan dengan tackrin.

Nah, bedanya jaman dulu sama jaman sekarang termasuk 2 gadget ini. Maaf Nokia, kamu tidak selalu berada di paling atas. Sekarang jamannya si BlackBerry nih.

Gue anak Nokia gan. Gue masih termasuk orang yang bertahan menggunakan gadget hasil produksi jaman yunani kuno. Gue emang belum bisa ngikutin tren dengan menggunakan BlackBerry. Apa mau di kata gue gak gaul, gue gak punya duit buat beli nih barang, yang penting intinya gue masih sehat dan gue masih hidup tanpa bantuan pernapasan si BlackBerry.
Oke, sekarang. Gue pacaran sama orang yang salah satu dari manusia di dunia ini yang menggunakan BlackBerry. Gue gak bisa BBM-an sama dia, blablabla dan seterusnya gue gak tahu. Yang jelas, gue masih bisa sms-an doang, telfonan terus Skype. Skype? Tahu Skype? Itu loh, lorong waktu punya Pak Haji Dedi Mizwar buat ketemu tatap muka langsung sama orang yang kita tuju. Itu dia.

Intinya, buat yang pacaran terus beda gadget kayak gini, tenang aja. Yang penting kalian masih bisa komunikasi dan jangan lupa yah buat yang gunain BlackBerry awas bisa masuk perangkapnya Nazarudin.

Jumat, 06 Januari 2012

Jika Aku Menjadi

Jika aku menjadi
Seperti yang lain hidup bercahaya
Mungkin saja aku kehilangan rasa syukur
Tak tersenyum dalam damai.

Coba kau jadi aku
Sanggupkah bernapas tanpa udara
Namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini
Bila Tuhan yang mau

Melly Goeslaw - Jika Aku Menjadi.

Untuk menjadi seorang relawan sepertinya menjadi keinginanku selanjutnya. Memberikan uluran tangan kita kepada mereka yang membutuhkan sangat menarik perhatianku untuk terjun langsung ke sana. Dengan adanya tayangan Jika Aku Menjadi yang di tayangkan di salah satu program televisi yaitu Trans TV, tiba-tiba saja tergerak hatiku untuk mengikuti program acara itu. Awalnya yang hanya nonton biasa, tiba-tiba menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi keinginan. Untuk mengikuti acaranya, sebagai relawan yang masuk dalam acara itu mungkin yang akan menyediakan sendiri bahan-bahan apa saja yang bakalan membantu untuk memenuhi segala kebutuhan mereka yang ada di dalam rumah itu sendiri. Menginap, mandi, makan bahkan ikut membantu melakukan aktifitas mereka untuk 3 hari ke depan adalah kegiatan para relawan yang mengikuti program acara itu.
Menurutku memang banyak pelajaran yang bakal kita dapatkan setelah menonton acara itu. Bagaimana cara untuk memperjuangkan hidup di tengah era globalisasi yang semakin maju bahkan dengan adanya tingkatan mata uang. Mereka dengan sangat semangat mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri bahkan keluarga mereka sendiri. Untuk mencari bahan masak saja ada yang masih berjalan ke kebun untuk mengambil bumbu-bumbu masak yang ditanam kira-kira 15 menit perjalanan dari rumah. Kebayang kan kalo kita yang hidup di zaman modern seperti sekarang di suruh untuk mengambil bahan masak dengan menempuh perjalanan yang memakan waktu 15 menit itu. Waktu kita akan habis di perjalanan. Capeknya lebih berasa sebelum memasak. Selain itu, beras yang dimakan hari ini, besok dan seterusnya termasuk berbeda. Kenapa aku bilang berbeda? Karena untuk tiap harinya mereka hanya bisa membeli beras untuk persediaan hari ini saja, begitu pula dengan esoknya. Tidak seperti kita yang membeli beras berkilo-kilo untuk persediaan 1 bulan. Untuk masalah keuangan tentu saja menjadi beban pikiran bagi mereka. Gak usah jauh-jauh, aku aja yang hidup jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu bisa menjadi manusia berbeban pikiran karena memikirkan uang yang akan segera habis hanya untuk keperluan diri sendiri. Gimana dengan hidup mereka? Apa uang 50.000 yang hanya menjadi uangku untuk satu hari saja, menjadi uang mereka untuk sebulan? Susahnya memang untuk mencari uang. Aku langsung kepikiran dengan orang tuaku yang selalu bekerja untuk menghasilkan uang.
Hidup kita dengan mereka pada intinya sama, bernapas. Makan, minum, menghirup oksigen, mengeluarkan karbon dioksida serta pembakaran zat-zat kimia yang ada dalam tubuh. Yang berbeda hanya takdir dan bagaimana cara serta usaha kita untuk mempertahankan hidup sesuai dengan pandangan hidup masing-masing orang. Dengan adanya perbedaan itu maka inilah inti dari program acara ini yaitu membantu mereka yang takdirnya tidak sama seperti kita.

Suatu hari, ketika saya pulang kampung, saya memutar TV dan langsung menonton program acara ini. Tiba-tiba papa datang dan langsung duduk tepat kursi yang ada di depanku. Kayak nonton bioskop sepertinya ya? Tapi ini bukan tentang film yang ada di bioskop. Dengan serius papa yang langsung duduk dan ikut menonton memberikan respons positif terhadap tayangan itu. Sontak saja aku langsung kaget dengan apa yang papa bilang.

"Ka, coba angko iko ni acara ini." (Ka, coba kau ikut acara ini).
Gak tahu kenapa, awalnya yang hanya menjadi khayalanku untuk ngomong langsung kepada orang tuaku ternyata papa udah memberikan lampu hijau untuk mengikuti program ini.

"Io, rencana bagitu noh pa, suka mo iko leh." (Iya, rencana gitu sih pa, kepengen ikut). Jawabku.

"Io, co coba." (Ia, coba aja). Suruh papa.

"Mar kayaknya tu bahan-bahan yang torang mo kase pa dorang musti torang yang bli sto kang pa?" (Tapi kayaknya bahan-bahan yang bakalan kita kasih ke mereka bakalan beli sendiri ya pa). Tanyaku.

"Ya, kayaknya bagitu sto kang." (Ya, kayaknya begitu mungkin). Jawab papa.

"Io noh, soalnya kan torang yang mo minta mo iko." (Iyalah, kan kita-nya sendiri yang pengen ikut).

"Trus bagimana mo mendaftar dang? Torang yang mo pilih depe tampa ato dorang yang pilih akang?" (Terus cara mendaftarnya gimana? Kita yang pilih tempatnya atau mereka dari pihak acara itu yang bakal pilih tempatnya). Tanya papaku.

"Kurang mo kase daftar nama noh pa. Mar dorang sto yang mo pilih akang depe tampa." (Tinggal mendaftar biasa pa. Tapi kayaknya mereka yang bakal pilih tempatnya dimana). Jawabku dengan indah.

Mamaku yang sedari tadi sedang memeriksa ujian para mahasiswi mulai membuyarkan omonganku dengan papa.
"Mimpi sto ngoni dua." (Kalian berdua mimpi kali). Begitu sewotan mamaku.
Akhirnya perbincanganku dengan papa berhenti sampai di pemotongan lewat omongan mama barusan.

Ya, aku mulai menyukai dengan keinginanku ini. Menjadi relawan yang setia membantu hidup orang dengan senang hati.
Andai saja jika aku menjadi seorang mahasiswi yang bakalan terkabul untuk membantu mereka yang tidak mampu, aku akan sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku rejeki yang layak untuk diberikan kepada mereka.

Rizka, 20 tahun, Mahasisiwi.
Jika Aku Menjadi :)

Rabu, 04 Januari 2012

2012

Selamat tahun baru.
Haha, perayaannya emang udah 4 hari yang lalu, tapi maaf, gue baru bisa nulis hari ini.

2012 tiba. Resolusi untuk tahun ini banyak. Mau yang terbaik dari tahun kemarin, berusaha untuk mencapai apa yang belum tercapai dari tahun kemarin, dan berusaha untuk merubah apa yang harus dirubah untuk tahun ini. Kita sebagai manusia memang tidak luput dari putus asa dan ketidakpuasan.

2012.
Perayaan tahun baru kali ini sungguh sangat memuaskan. Mau tau alasannya? Ya, untuk pertama kalinya gue merayakan tahun baru tepat berada di luar rumah alias keluyuran tengah malam. Bersyukurlah, walaupun gak bareng teman-teman yang emang udah ada perjanjian duluan untuk ngerayain tahun baru bersama dan akhirnya gue rayain tahun baru dengan sepupu-sepupu gue, gue masih bisa di kasih kesempatan untuk jalan bareng tengah malam tepat di umur 20 tahun. Emeyzing bukan?
Dari jaman oroknya, tepatnya dari 19 tahun yang lalu, ritual perayaan tahun baru selalu gue rayain dirumah bersama keluarga. Gue kayak gak punya kebebasan untuk keluar. Tapi itulah bimbingan keluarga gue dari gue kecil. Jadi gue gak pantas untuk heran bin bingung lagi.
Pesta kembang api memang memenuhi kota yang kami kunjungi tepatnya berada di pusat Kotamobagu. Kembang api yang menghasilkan banyak asap sehingga membuat jalanan penuh dengan asap. Bukan hanya asap kembang api saja, tapi asap motor, asap mobil bahkan asap kentut. Maaf, gue tadi kentut.
Lanjut, kembang api yang mereka nyalakan sontak meramaikan jalanan sehingga membuat adrenalin gue terus bekerja tanpa henti. Di samping itu, gue hampir sesak napas karena menghirup asap-asap yang memenuhi jalanan. Tapi apa boleh buat? Gue gak bisa buat apa-apa.
Malam itu gue pengen beli kembang api, tapi yang ada gue gak punya duit. Syukurlah, karena gue masih menyayangi agar tidak terjadinya global warming di dunia. *padahal emang lagi kere*

Malam itu bukan hanya kebahagiaan yang gue dapet, tapi juga kesedihan yang gue temuin dari 2 cowok yang mengendarai sepeda motor dan jatuh tepat dibelakang parkiran mobil yang gue tumpangi. Kaget banget gila lo, udah dikagetin dengan bunyi petasan, ditambah lagi kagetnya lihat tuh 2 cowok yang penuh dengan aliran darah di lengan dan kaki mereka berdua. Tapi alhamdulillah gak terlalu parah banget. Gue beserta sepupu gue langsung mengobati mereka dengan memberikan tisu dan betadine. Seandainya tuh 2 bocah sampe parah, gue memang harus bertindak lebih cepat atau berpikir lebih cepat bagaimana agar mereka bisa mendapatkan pertolongan pertama. Apalagi kalau harus pake cara ABCD, ribet dah harus ada pertanggungjawabannya nanti. *keingat film Love Story in Harvard*

Tibalah pukul jam 12 malam tepat pergantian tahun antara 2011 dan 2012. Suara sirene mulai di nyalakan, terompet berbunyi dengan nyaringnya, suara kembang api yang memekar indah di atas awan yang gelap, coba kalo kembang apinya dinyalain siang hari, kira-kira warna dan modelnya kelihatan gak yah?
Gak usah mikirin itu.

2012. Diawal tahun ini, sepertinya memberi kebahagiaan yang tersendiri buat gue termasuk buku perdana gue yang terbit tepat pada hari selasa kemarin. Yah, walaupun hanya sepucuk surat yang gak terlalu panjang-panjang amat, tapi gue bahagia karena alhamdulillah usaha gue gak sia-sia. Nih dia website-nya http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fdearbooksproject.wordpress.com%2F2012%2F01%2F03%2Fdaftar-kontributor-buku-ke-4-dearmama%2F&h=FAQH1BWxNAQGuLi8iqACAOLsnkCNWk54g_yCEs5mwfttwWQ. Kalian bisa cek sendiri kok :)
Gue berterima kasih banget yah buat seseorang yang lebih meyakinkan gue untuk tetap menulis.

Akhir kata untuk tulisan ini, 2012, jangan kiamat dulu yah? Gue belum nikah soalnya. Hehehe, makasih.